World Clock

Economic Calendar (Waktu Dalam GMT-5)

21 Februari 2008

Takut Kredit Mengetat, The Fed Pangkas Suku Bunga

15:41 WIB

Hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Januari lalu mengungkap bahwa alasan the Fed memangkas suku bunga sebesar 75 basis poin adalah meningkatnya kekhawatiran terhadap resiko pelemahan ekonomi yang cukup serius dan kondisi perkreditan kemungkinan terus mengetat.

Berdasarkan minutes yang rilis hari ini menunjukkan resiko downside terhadap pertumbuhan ekonomi meningkat seknifikan sejak rapat FOMC Desember lalu.

Minutes menggaris bawahi walau tanda-tanda inflasi meningkat, kebanyakan pelaku pasar melihat tambahan kebijakan pengetatan moneter di jangka pendek perlu untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang moderat.

Ketegangan dibeberapa pasar keuangan semakin kuat, karena investor semakin khawatir terhadap prospek ekonomi dan resiko downside. Beberap pihak memperkirakan kondisi ini akan mengakibatkan berkurangnya ketersediaan kredit secara besar-besaran dan menurunnya investasi.

Kebanyakan anggota the Fed sepakat suku bunga dipangkas secepatnya sebelum melakukan pertemuan pada 29-30 Januari.
Beberapa pihak khawatir cepatnya the Fed dalam bertindak dapat disalah artikan bahwa mereka bereaksi karena jatuhnya harga-harga saham, ketimbang mengacu pada prospek ekonom masa depan.

Minutes juga menggaris bawahi bahwa beberap anggota mengingatkan jika the Fed bertindak terlalu jauh, maka penting bagi komite bersikap tegas dalam membalik arah suku bunga segera setelah ekonomi menguat.

Pelemahan terjadi hampir disemua unsur seperti pasar ketenagakerjaan, output pabrikan, krisis pasar perumahan dan rendahnya confidence konsumen dan belanja.
(Selengkapnya...)

Bisakah Retail Bebaskan GBP?

15:36 WIB

Pasar sedang mengalami recovery dimana selama bulan januari dilaporkan mencatat pertumbuhan sebesar 0.3% dan mampu menekan laju kenaikan suku bunga tahunan selama bulan sebesar 4.7%.

Data tersebut sesuai dengan data survey yang dirilis oleh British Relay Consortium (BRC) dimana mencatat adanya pemotongan harga telah berkontribusi dalam pencatatan rebound sebesar 2.6% lebih baik dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun kondisi di bulan ini sangat riskan dan telah membuat posisi GBP semakin tertekan. Pihak otoritas moneter Inggris sedang berupaya menggairahkan retail untuk mengangkat pertumbuhan yang sekaligus berimplikasi terhadap apresiasi kursnya.

Walaupun pasar belum dapat memberikan kontribusi positif terhadap penyerapan tenga kerja, namun mampu mencatat angka kenaikan pendapatan selama priode Desember sebesar 3.7% lebih baik dari periode yang sama di tahun lalu.

Masyarakat Inggris saat ini mulai melakukan pengetatan dalam konsumsinya karena naiknya haraga-harga energi dan makanan sehingga dikhawatirkan akan mengurangi persentase pertumbuhan dalam laporan retail penjualan.

Disamping itu, terdapat pula kekhawatiran dikarenakan tingkat pertumbuhan global yang menurun dan kebijakan pengetatan kredit yang dikeluarkan oleh Bank sentral Inggris akan semakin membuat tahun 2008 ini kurang prospektif di negara “The Beatles” ini.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, anggota komite kebijakan moneter Inggris, David Blanchflower mengusulkan pemotongan suku bunga sebesar 50 bp di bulan Februari ini, namun mayoritas komite menginginkan pemotongan dalam kisaran 25 bp hingga 5.25 % seperti yang dilansir dari laporan rapat komite tersebut bulan ini yang baru saja dirilis.

Sementara mengacu pada Laporan Inflasi per kwartal bank sentral yang dirilis pekan lalu menyebutkan sentimen serupa. Bulan depan, terdapat indikasi akan adanya pemotongan suku bunga lagi sehingga akan membuat pasar bergairah lagi.

Setelah GBP mencatat angka positif terapresiasi oleh kebijakan pemotongan suku bunga oleh otoritas moneter negara itu sehingga membuat GBP mencatat rebound ke angka 1.9736. Namun, kebijakan yang ditempuh untuk menasionalisasi Northern Rock, salah satu bank terbesar dan berpengaruh di Inggris, membuat GBP goyah dan terdepresiasi ke 1.9400.

Namun para analis melihat akan terjadi rebound setelah anggota komite moneter David Blanchflower mengindikasikan terjadinya pemotongan suku bunga dalam kisaran 50 bp, walaupun mayoritas anggota komite tersebut belum menyepakati ke nominal berapa persentase pemotongan itu.

Sinyalemen-sinyalemen diatas memberikan harapan akan pertumbuhan positif dan berharap pertumbuhan mencapai besaran 0.3% sehingga membuat semua pihak lepas kekhawatiran terhadap semakin merosotnya performa ekonomi di negara monarki parlementer tersebut.

Apabila skenario di atas menjadi kenyataan, diharapkan GBP akan terkreksi lagi dan mencatat apresiasi ke angka 1.9950. Sebaliknya, bila terjadi pertumbuhan negatif maka GBP tidak akan bisa menembus target apresiasi sebesar 1.9338 yang dibuat tanggal 22 Januari silam.
(Selengkapnya...)

Defisit Jepang Dapat Membuat BOJ Revisi Skenarionya

15:32 WIB

Besarnya jumlah defisit perdaganan Jepang bulan lalu dapat membuat BOJ terpaksa merevisi proyeksi pertumbuhan bahkan skenarionya.

Meski mencatat kenaikan ekspor yang cukup signifikan, yaitu 7,7%, lonjakan impor sebesar 9% karena kenaikan harga minyak membuat Jepang mencatat defisit perdagangan sebesar 79,3 milyar yen, pertama kali dalam setahun terakhir.

Jepang cenderung untuk mencatat defisit pada Januari, dimana pelabuhan ditutup karena liburan Tahun Baru. Negara itu mencatat defisit sebesar 3,5 milyar yen Januari tahun lalu. Namun, besarnya jumlah defisit bulan lalu tentu saja dapat mempengaruhi optimisme akan ekonomi domestik.

Ekspor ke Asia dan Eropa mencatat rekor di Januari. Ekspor ke Eropa naik 10,6%, lima kali lipat bulan sebelumnya. Sedangkan ke Asia meningkat 8,2% sama seperti Desember, dan ke Cina naik 4,6%. Namun ekspor ke AS turun 3,2%.

Eksportir Jepang mengandalkan pasar Cina, Rusia dan India untuk menutupi penurunan permintaan di AS, pasar ekspor terbesar Jepang. Namun memburuknya kondisi ekonomi AS dikhawatirkan dapat menyebar ke seluruh dunia. Oleh karena itu, terlalu dini untuk menyimpulkan Eropa dan Asia akan terus menutupi dampak perlambatan AS.

Menurunnya permintaan di AS pada akhirnya akan berdampak ke emerging markets, yang merupakan kontributor separuh ekspor Jepang.

Dalam BOJ minutes, yang dipublikasikan kemarin, para anggota dewan mengekspresikan optimisme mereka akan kondisi ekonomi domestik ke depan, dan menyatakan untuk tidak terlalu terpengaruh dengan perkembangan jangka pendek namun lebih berfokus pada proyeksi ekonomi dan tren harga ke depan. Meski mereka menyadari ekspor ke AS akan terus menurun, mereka optimis ekspor ke emerging markets dapat mengimbanginya

Namun, melihat angka defisit itu, paling tidak dapat membuat pejabat BOJ ketar-ketir, bahkan tidak mustahil mereka harus mengevaluasi skenario.
(Selengkapnya...)

Bank-Bank Sentral Cermati The Fed Dalam Menangani Pasar Finansial

15:30 WIB

Berbagai gejolak di pasar keuangan beberapa tahun terakhir membuat rumit kebijakan moneter, terkadang memaksa bank sentral mengambil langkah keras untuk menghindari resiko beruntun.

Meningkatnya ketidakjelasan ekonomi membuat pasar mempertanyakan kesolidan system keuangan, dimana menurunnya modal bank-bank dapat mengancam ekonomi secara keseluruhan dan merintangi penerapan kebijakan moneter.

The Fed sebelumnya terpaksa memangkas suku bunga untuk meredakan gejolak pelemahan ekonomi.

Disaat seperti ini instrument keuangan dituntut kreatif dan berani ambil resiko, khususnya untuk periode jangka panjang dimana suku bunga rendah berlaku, hasilnya resiko premium akan turun dan membuat keputusan kebijakan moneter lebih sensitive.

Salah satu pelajaran bagi Bank sentral Eropa adalah agregat moneter tidak dapat diartikan secara mekanis dan dipengaruhi berbagai factor yang independen.

Disaat yang sama, perlu dilakukan analisa semua indikator keuangan mulai dari rumah tangga dan korporasi non keuangan, termasuk bank dan non-bank, pinjaman, sekuritas, saham, aliran transaksi dan kondisi keuangan.

Bank-bank sentral harus bijak dan mempertimbangkan semua aturan sehingga saat menurunkan suku bunga tidak menganggu tradeoff antara stabilitas harga dan stabilitas keuangan.

Pemangkasan suku bunga the Fed yang cukup agresif adalah cara paling tepat mencegah krisis dipasar dari mempengaruhi ekonomi.

Inovasi finansial merubah sifat dasar dalam membuat kebijakan moneter,. Suplai kredit perbankan tak terlalu dipengaruhi oleh perubahan suku bunga bank sentral, walau perubahan suku bunga akan lebih terasa oleh peminjam dan bank itu sendiri.

Ketika aset mulai menggelembung, semua saluran bank tradisional kembali terbuka. Kemampuan bank mendanai dirinya dan tingkat simpanan yang ada akan menentukan penyebaran kebijakan moneter ke ekonomi.

Bank sentral Eropa sendiri masih mendapat sokongan, tidak seperti the Fed, ECB mengawasi suplai uang saat inflasi jangka menengah mulai mengancam.

Sementara itu, suplai uang seharusnya tidak diartikan secara mekanis karena dipengaruhi banyak faktor di luar lingkup kebijakan moneter. Upaya lebih keras harus dilakukan untuk menganalisa agregat kredit.
(Selengkapnya...)

Yuan & Dolar Sulit Berdamai?

15:28 WIB

Berulang kali politisi AS mendesak Cina agar melepas pergerakan yuan kepada pasar sehingga ekonomi China lebih mampu berperan secara internasional.

Pemerintah China harus mereformasi nilai tukar yuan juga karena kebutuhan dan keuntungan bagi perkembangan ekonomi Cina sendiri.

China perlu kebijakan nilai tukar independen yang terfokus pada rendahnya inflasi sehingga tingkat kestabilan dapat dicapai dan memberi peluang kepada pemerintah lebih efektif dalam meningkatkan reformasi ekonomi yang sudah berjalan.

Inti dari kebijakan reformasi nilai tukar ini adalah agar masyarakat dapat menikmati daya beli sama seperti yang dirasakan negara-negara kaya, seperti AS sekarang.

Pertumbuhan China yang capai 11 persen pertahun sebagian besar dipicu oleh investasi dalam negeri dan ekspor, sementara konsumsi dalam negeri relative mandeg.

Disaat banyak negara akan iri dengan kondisi China tersebut, sebaliknya membuat modal sangat murah dan memberi peluang sejumlah aliran dana yang cukup besar ke sektor perumahan dan dan pasar modal, meningkatkan resiko penggelembungan aset yang dapat dengan mudah meledak.

Fleksibilitas nilai tukar juga akan mendorong bank-bank milik pemerintah beroperasi seperti institusi keuangan modern lainnya yang bereaksi pada suku bunga. Membiarkan nilai tukar berapresiasi akan mendorong konsumsi dalam negeri China.

Namun dengan cepat Bank sentral China meredam pernyataan tersebut dengan mengatakan kebijakannya tidak dapat diganggu gugat. Bank sentral pun tidak langsung merespon rumor yang beredar. Kenaikan suku bunga Cina biasanya mendorong nilai mata yang Asia lainnya termasuk yen.

Indeks Harga Konsumen (IHK) China naik 7,1 persen di Januari dibanding tahun lalu, merupakan lonjakan terbesar sejak September 1996, berakselerasi dari kenaikan sebesar 6,5 persen di Desember.

CPI dapat sentuh 10 persen tahun ini, didorong oleh pemanasan ekonomi. Sesuai perkiraan kenaikan CPI yang sangat drastis membuat harga makanan naik bulan lalu.

Presiden Bank sentral China, Zhou Xiaochuan berulang kali menegaskan bahwa nilai tukar yuan secara bertahap akan capai level yang stabil dan akan membantu seimbangkan neraca pembayaran internasional.

Di 2007, PBoC menaikkan suku bunga enam kali dan menaikkan rasio persyaratan cadangan 10 kali, diikuti kenaikan persyaratan bulan berikutnya.
(Selengkapnya...)

19 Februari 2008

Dolar Melemah Akibat Kekhawatiran Akan Resesi

17:45 WIB

Secara umum, mimnggu lalu USD melemah akibat kekhawatiran akan terjadinya resesi ekonomi setelah pernyataan dovish Bernanke yang menyertai serangkaian data ekonomi AS yang buruk. Keadaan ini sangat kontras dengan situasi perokonomian Australia yang sedang menanjak dan didukung oleh kebijakan RBA memberikan dorongan positif bagi pertumbuhan ekonomi Australia.

FOMC minutes akan menjadi perhatian utama minggu ini, namun kelihatannya beberapa data ekonomi lainnya juga akan bisa memicu volatilitas pasar.

Dolar sempat terapresiasi pada awal minggu lalu setelah secara mengejutkan laporan retail sale memperlihatkan hasil yang baik. Data penjualan mengalami peningktan sebesar 0.3% dari bulan Desember, mementahkan ekspektasi pasar yang memperkirakan bahwa penjualan akan jatuh sebesar -0.3%. Penjualan kendaraan bermotor juga mengalami peningkatan sebesar 0.6% dari bulan Januari. Data penjualan di luar sektor kendaraan bermotor juga mengalami peningkatan sebesar 0.3%, mengalahkan ekspektasi penurunan sebesar 0.2%. Namun penguatan the greenback ternyata sangat singkat, dan dolar terdepresiasi kembali setelah pernyataan dovish Bernanke di depan Senat.

Meskipun pernyataan Bernanke tersebut cukup ringkas, namun pesannya cukup jelas. “Perekonomian telah memburuk dalam beberapa bulan terakhir ini, dan resiko akan terjadinya pelemahan ekonomi telah semakin tinggi.”

Mantan ketua the Fed, Alan Greenspan, mengatakan bahwa perekonomian AS saat ini “benar-benar berada di jurang resesi”.

Dolar semakin terpukul setelah data manufacturing index New York terpuruk dari 9,0 menjadi -11,7, yang merupakan penurunan pertama dalam hamper tiga tahun terakhir. Sentimen konsumen Universitas Michigan juga jatuh ke angka 69.3, terendah selama 16 tahun.

Interest rates futures menunjukkan bahwa ada 68% kemungkinan Fed akan menurunkan suku bunganya lagi menjadi 2,5% pada pertemuan FOMC tanggal 18 Maret mendatang. 32% kemungkinan Fed akan memotong suku bunganya sebesar 75 bps.

A Week Ahead:

Ancaman resesi mungkin masih terus menekan the greenback. Focus utama AS minggu ini adalah FOMC minutes. Apabila ternyata pandangan FOMC tidak jauh berbeda dengan pernyataan Bernanke, maka focus pasar akan kepada revisi dari perkiraan Fed. Data perumahan juga akan dirilis minggu ini, bersamaan dengan data CPI untuk bulan Januari dan Philly Fed Index, yang sepertinya akan memicu volatilitas pasar.

BoE juga akan merilis hasil pertemuannya minggu ini. Hasil voting yang akan diumumkan juga akan menjadi focus utama di samping laporan inflasi per kwartal.
While Euro recovered most of the prior week's loss last week, the speculations on rate cut from ECB in H2 didn't die. Markets will in particular look into Friday's PMI manufacturing and services on the state of the economy in the Eurozone and adjust their expectation on ECB rate path afterwards.

Walaupun euro mengalami recovery dalam minggu sebelumnya, spekulasi akan pemotongan suku bunga ECB belumlah surut. Data PMI yang akan dirilis hari Jumat mendatang akan menentukan ekspektasi pasar akan langkah yang akan diambil ECB mengenai kebijakan suku bunganya.
(Selengkapnya...)

Penurunan Rate the Fed Perburuk Dilema Asia

12:33 WIB

Penurunan suku bunga the Fed dapat memperburuk dilema ekonomi yang mesti dihadapi Asia. Semakin besarnya selisih suku bunga AS dan Asia meningkatkan arus dana asing ke kawasan Asia, dan dapat menyebabkan penggelumbungan aset (asset bubbles), yang akhirnya dapat mempersulit upaya bank sentral di Asia meredam inflasi.

Di Cina, badai salju terburuk dalam 50 tahun terakhir mendorong inflasi yang telah melebihi target bank sentral dan diperkirakan akan mencapai level tertinggi dalam 11 tahun terakhir. Di Singapura, inflasi mencapai level tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Sedangkan di Indonesia, inflasi bulanan naik 1,77% pada Januari, tertinggi dalam 6 tahun terakhir.

Pemerintah di beberapa negara Asia mempertimbangkan alternatif untuk mengendalikan inflasi. Dari pada menaikkan suku bunga, yang justru dapat memperlebar selisih rate, pemerintah di kawasan Asia terlihat mempertimbangkan regulasi harga, subsidi atau mempercepat penguatan mata uang.

Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang cepat, inflasi tertinggi dalam 11 tahun terakhir dan biaya intervensi yang tinggi, akan membuat Cina harus membiarkan yuan terapresiasi, meski banyak pejabat yang menentangnya. Setelah menguat 7% tahun lalu, yuan telah terapresiasi 1,9% menjadi 7,1657 per dollar AS tahun ini.

Agar mata uang tidak terapresiasi terlalu cepat, yang akhirnya dapat menghambat ekspor, bank sentral Asia membeli dollar AS, mengumpulkan hingga $4 tilyun untuk cadangan devisa.

Melambatnya ekonomi global akan mendorong bank sentral Asia terus melakukan intervensi. Namun, kelemahan intervensi adalah dapat meningkatkan jumlah mata uang lokal, dan itupun dapat mendorong inflasi. Untuk mencegahnya, bank sentral biasanya menjual obligasi untuk mengurangi uang tersebut dari pasaran.

Selain melalui mata uang, pemerintah Asia mempertimbangkan penetapan harga makanan dan subsidi. Pemerintah Cina akan memberlakukan regulasi harga makanan dan pemerintah Indonesia akan memsubsidi utilitas.

Namun, langkah seperti itu dipandang negara maju akan kontraproduktif. Para pejabat negara kelompok G-7, dalam pertemuannya di Tokyo 7 Februari lalu, memperingatkan pengendalian harga secara artifisial dan subsidi hanya akan mendorong permintaan minyak dan komoditas lainnya, yang akhirnya akan semakin sulit untuk meredam tekanan inflasi global.

Para anggota G-7 melihat langkah tersebut dapat menyebarkan inflasi Asia ke seluruh dunia. Mereka juga mengimbau pemerintah untuk menghindari langkah untuk menurunkan harga energi secara artifisial.

Pengendalian harga komoditas seperti makanan dan BBM selama ini merupakan salah satu alat di negara yang memiliki banyak penduduk miskin, seperti India dan Indonesia. Namun, negara Asia lain, yang penduduknya relatif lebih makmur seperti Korsel dan Singapura, juga merasakan dampak kenaikan harga, membuat pemerintah negara tersebut mempertimbangkan langkah pengendalian seperti itu.
(Selengkapnya...)

Northern Rock Terancam Nasionalisasi

12:26 WIB

Akhirya Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown sudah tidak tahan menanggung beban yang diderita Northern Rock yang telah membuat popularitasnya akhir-akhir ini anjlok. Brown memutuskan untuk menasionalisasi bank tersebut.

Northern Rock, bank yang telah berusia sekitar 140 tahun itu telah menggelontorkan kredit yang dikucurkan Bank of England senilai $49 miliar dan merupakan bank kelima terbesar di Inggris saat ini berdasarkan nominal uang yang telah dikucurkan tetapi mengalami kemacetan.

Namun begitu, Menkeu Inggris, Alistair Darling mengatakan bahwa kebijakan saat ini yang diambil hanya bersifat tentatif dan bank tersebut akan kembali dikelola swasta setelah membaiknya kondisi keuangan di negara itu.

Kebijakan saat ini yang ditempuh adalah untuk menyelamatkan salah satu aset Inggris itu seperti urai Darling yang mengatakan alasan pemerintahnya menerapkan kebijakan seperti itu.

Dia menambahkan bahwa kinerja Northern Rock itu masih bagus. Namun, pemerintah berkesimpulan bahwa hal tersebut adalah untuk mencegah semakin meluasnya masalah yang akan membawa konsuekuensi lebih besar terhadap perbankan di Inggris.

Dengan kebijakannya ini maka kasus ini merupakan yang pertama diambil lagi setelah lebih dari tiga puluh tahun negara ini tidak menerapkan kebijakan nasionalisasi terhadap bank-bank swastanya.

Saham-saham Northern Rock yang ditransaksikan pun, untuk sementara terpaksa di-pending. Sementara manajemen bank tersebut terpaksa mengalami restrukturisasi.

Sementara itu, para pemegang saham melakukan penentangan terhadap kebijakan nasionalisasi ini dan berupaya untuk menghentikannya. Para penentang itu mengatakan bahwa nasionalisasi itu sama saja dengan upaya pemerintah untuk mengambil alih aset-aset yang mereka miliki.

Mereka akan menempuh jalan hukum supaya langkah nasionalisasi terhenti. Sebaliknya, pemerintah , seperti yang dikatakan oleh Darling akan menggunakan jasa auditor untuk melakukan audit terhadap kinerja bank tersebut supaya dapat ditentukan berapa harga yang pemerintah harus berikan kepada mereka yang menentangnya.

Ini sekaligus merupakan sebagai tantangan pemerintah terhadap para penentang kebijakan itu, Darling menunjukkan kekesalannya dengan mengatakan bahwa bank itu bisa besar karena adanya campur tangan dari pihak pemerintah.
(Selengkapnya...)

Jepang Korban Langsung Resesi AS

12:24 WIB

Jepang diperkirakan akan mengalami resesi dalam satu atau dua kwartal kedepan di 2008. Berita ini langsung berdampak pada turunnya penguatan yen.

Pertumbuhan dibeberapa bagian negara Asia juga akan melambat setelah ekonomi AS menunjukkan tanda-tanda kontraksi akibat memburuknya sektor perumahan. Pertumbuhan ekonomi Asia rata-rata sekitar 6 persen tahun ini bersamaan menurunnya permintaan AS terhadap barang-barang impor.

(Ekonomi Jepang sangat bergantung pada ekspor, sehingga setiap pelambatan permintaan akan mempengaruhi ekonomi maupun yen. Tingginya harga minyak, tidak stabilnya pasar dan tidakjelasnya prospek ekonomi AS memicu kekhawatiran terhadap ekonomi Jepang.

Di satu sisi melambatnya ekonomi AS, yang merupakan pasar ekspor terbesar Jepang dan melemahnya dolar dapat menghambat pemulihan ekonomi Jepang. Deputi Gubernur Bank of Japan Toshihiro Muto mengaku bahwa ketidakjelasan ekonomi global mempengaruhi ekonomi Jepang.

Minggu lalu, Bank of Japan secara mutlak mempertahankan suku bunga pada 0,5 persen
karena ekonomi Jepang tumbuh moderat sesuai trend, walau pertumbuhan ekonomi sepertinya melambat akibat dropnya investasi sektor perumahan.

Mengacu pada prospek pertumbuhan ekonomi, bank sentral menegaskan bahwa ekonomi diperkirakan akan terus tumbuh moderat, walau level pertumbuhan cenderung melambat saat ini.

Pertumbuhan tahunan pinjaman bank-bank Jepang untuk 2008 berada pada level terlambannya dihampir dua tahun terakhir, yang merupakan pertanda aktifitas bisnis melambat diantara perusahaan-perusahaan kecil.

Goldman Sachs sempat menyatakan bahwa Jepang berada dalam posisi kritis setelah AS di 2008, peringatan ini keluar setelah Merill Lynch mengatakan AS bergerak menuju resesi.

AS yang merupakan rekan setia Jepang diperkirakan mengalami resesi paling cepat dikwartal pertama. Beberapa emerging market pun tidak luput dari efek resesi yang terjadi di AS.
(Selengkapnya...)

Warga Inggris Mulai Kencangkan Ikat Pinggang

12:21 WIB

Belanja konsumsi warga Inggris mulai melemah akibat ketatnya penyaluran kredit. Setidaknya demikian menurut bank sentral negara itu.

Pertumbuhan kredit pada 2008 akan sangat lemah.

Menurut Bank of England (BOE), peningkatan biaya pinjaman telah mengurangi minat rumahtangga untuk mendapatkan kredit konsumsi yang juga berdampak pada penurunan konsumtif.

Jurang antara tingkat suku bunga kredit dengan suku bunga resmi hanya 0,2 persen di tiap tahun dan mengurangi tingkat pertumbuhan konsumsi sekitar 1,1 persen.

Ini berarti tingkat suku bunga pinjaman hanya 0,2 persen lebih tinggi pada 2007 sementara tingkat suku bungan tabungan rumahtangga rata-rata mendekat 4,5 persen dibandingkan suku bunga resmi tahun lalu 3,4 persen.

BOE kesulitan memprediksi apakah hal itu akan berlangsung untuk jangka pendek atau panjang.

Tapi yang jelas ada kaitan yang erat antara masa tenggang pinjaman dengan kelonggaran kredit.

Di Inggris, masyarakatnya lebih terbiasa membeli barang dengan kredit ketimbang memakai uang tabungan sendiri.
(Selengkapnya...)

Inflasi AS Terkendali, Buka Peluang Suku Bunga Lebih Rendah

12:19 WIB

Pasar finansial berharap tingkat inflasi AS Januari dan Pebruari cukup terkendali sehingga bisa memuluskan target penurunan suku bunga the Fed 50 basis poin pada Maret.

Bursa saham AS untuk Pebruari masih jauh lebih mendingan dibandingkan Januari. Meski begitu, untuk memulihkan keyakinan pasar, dibutuhkan iklim ekonomi yang lebih kuat.

Uniknya, investor tidak terlalu ambil pusing dengan data perumahan, inflasi dan manufaktur pekan ini sebagai jaminan, melainkan lebih berharap pada volatilitas pasar.

Pertanyaan mendasar adalah apakah rilis data berikutnya bisa membawa gairah ke pasar atau sebaliknya pasar lesu menunggu ekonomi AS benar-benar pulih.

Kekhawatiran terbesar terletak pada pasar perumahan. Berapa lama krisis kredit macet perumahan menemukan jalan keluarnya dan seberapa jauh dampaknya terhadap anggaran rumah tangga AS.

Demikian juga halnya dengan perusahaan-perusahaan yang menanamkan modal di aset berbasis agunan rumah, masih menyisakan segudang tanda tanya.

Hari ini, Asosiasi Pengembang Rumah Nasional AS (NAHB) – semacam REI-nya Amerika – akan merilis indeks industri perumahan yang menunjukkan penurunan selama Pebruari.

Besok, Depnaker AS akan melaporkan laporan proyek konstruksi dan perijinan pekerja bangunan yang dua-duanya diperkirakan melemah.

Kekhawatiran lain adalah inflasi yang terus membayangi kelesuan ekonomi. Dolar masih tetap lemah sementara biaya energi dan pangan masih tinggi.

Anggaran konsumen saat ini lebih banyak diprioritaskan untuk kebutuhan pokok seperti makanan, transportasi dan kesehatan.

Laporan Depnaker tentang harga konsumen (CPI) Rabu kemungkinan 0,3 persen selama Januari sama dengan Desember.

Harga konsumsi inti termasuk biaya energi dan makanan diperkirakan naik 0,2 persen.

Pada hari yang sama, bank sentral AS, the Fed akan merilis hasil pertemuan 29-30 Januari saatmana suku bunga dipangkas setengah poin menjadi tiga persen dengan catatan penting bahwa pasar finansial masih tertekan.

Menurut the Fed, kredit usaha dan rumahtangga masih ketat sementara kontraksi perumahan terus mencuram dan pasar tenaga kerja terus melemah.

Dengan kondisi seperti itu, the Fed hampir dipastikan akan memangkas suku bunga ke tingkat lebih rendah paling tidak 50 poin basis (bps).
(Selengkapnya...)

15 Februari 2008

Paulson: "Ekonomi AS Secara Fundamental Kuat"

13:19 WIB

Amerika Serikat mulai merasakan dampak signifikan dari melemahnya pasar perumahan. Namun, Menteri Keuangan AS Henry Paulson didepan Kongres AS mengungkapkan bahwa perekonomian AS secara fundamental cukup kuat dan mampu menghindari resesi.

“Ekonomi AS secara fundamental kuat dan kokoh, walaupun beberapa tahun terakhir harga rumah tidak stabil, ekonomi bergerak signifikan dan pasar perumahan mengalami koreksi,” berdasarkan keterangan Paulson.

Koreksi pasar perumahan, tingginya harga energi dan krisis di pasar keuangan memperberat pertumbuhan ekonomi saat ini, ekonomi AS diyakini akan terus tumbuh meskipun di kwartal ke depan diperkirakan melambat dibanding beberapa tahun terakhir.

Dalam pernyataannya Paulson berkali-kali meminta Kongres agar mengabulkan undang-undang yang memberi keleluasaan kepada Federal Housing Administration untuk berperan lebih besar dalam membantu pemilik rumah rumah yang kesulitan melunasi tunggakan mortgage dan undang-undang terpisah yang memberi kuasa kepada pemerintah mengeluarkan obligasi pembebasan pajak (tax-exempt bonds) untuk meng-cover refinancing.

Semua inisiatif ini akan membantu mengurangi krisis sektor perumahan dan pemerintah masih terbuka untuk setiap ide-ide baru. Dia mengatakan undang-undang yang ditandatangani Presiden George W. Bush Rabu lalu akan memberi potongan pajak kepada lebih dari 130 juta warga Amerika sehingga dapat membantu pertumbuhan ekonomi.
(Selengkapnya...)

Weber: "Pasar Remehkan Ancaman Inflasi"

13:11 WIB

Anggota Dewan ECB Axel Weber mengatakan prediksi investor bahwa ECB akan menurunkan suku bunga merupakan kesalahpaham karena ekspektasi suku bunga mereka tidak mencerminkan secara tepat ancaman inflasi.

“Ekspektasi suku bunga saat ini di pasar keuangan, tidak mencerminkan penilaian tepat mengenai ancaman inflasi,” kata Weber dalam pidato tertulisnya di Siegen, Jerman.

Investor semakin berekspektasi ECB akan mengikuti langkah the Fed dan Bank of England, yang menurunkan suku bunganya, setelah minggu lalu Presiden ECB Jean-Claude Trichet mengatakan ketidakpastian yang menyelimuti pertumbuhan zona euro meningkat. Bank sentral itu mempertahankan suku bunganya 4%, tertinggi dalam 6 tahun terakhir, 7 Februari lalu.

Weber mengatakan bahwa kenaikan rata-rata harga konsumen akan melebihi target ECB tahun ini. ECB berupaya untuk mengendalikan inflasi di level dekat, namun di bawah 2%.

Meski Weber menyadari pertumbuhan terancam melambat, para pejabat sepertinya lebih mencemaskan inflasi. Inflasi zona euro mencapai 3,2% pada Januari, tertinggi dalam 14 tahun terakhir.

Weber, yang juga menjabat sebagai Gubernur Bank Sentral Jerman, mengatakan bahwa ancaman terhadap stabilitas harga jelas meningkat. Oleh karena itu, penting untuk mencegah dampak tahap kedua (second round effects) dari inflasi.
(Selengkapnya...)

Bernanke Nyatakan Siap Pangkas Rate Lagi

13:03 WIB

Pada saat ekonomi diambang resesi, Chairman the Fed Ben Bernanke menyatakan bahwa bank sentral itu siap untuk menurunkan suku bunganya lagi bila terlihat tanda-tanda kontraksi ekonomi.

“FOMC akan mengevaluasi secara seksama informasi terbaru mengenai prospek ekonomi dan akan bertindak bila diperlukan untuk mendorong pertumbuhan dan memberikan jaminan dalam menghadapi ancaman,” katanya dalam pidato tertulisnya di hadapan Komite Perbankan Senat. “The Fed telah melakukan banyak hal untuk mencegah resesi, namun siap melakukannya lagi bila prospek terus memburuk,” tambahnya.

Bernanke dan para koleganya berupaya untuk menyelamatkan ekonomi menghadapi krisis kredit yang dipicu oleh meningkatnya kredit macet di subprime mortgage, yang telah berlangsung selama 7 bulan. Ketua the Fed itu mengakui menyebarnya dampak guncangan finansial terhadap konsumen.

“Semakin ketatnya kredit sepertinya akan terus menjadi sumber penghambat pertumbuhan ekonomi,” kata Bernanke. “Prospek ekonomi terus memburuk dalam beberapa bulan terakhir, dan ancaman terhadap pertumbuhan meningkat.”

The Fed menurunkan suku bunganya secara agresif bulan lalu setelah meningkatnya tingkat pengangguran dan aksi hindar resiko di pasar keuangan, ditambah dengan menurunnya pembelanjaan konsumen.

Mengenai inflasi, Bernanke juga mengatakan bahwa the Fed akan terus memantaunya. Selain itu, ia mengatakan bahwa ekspektasi inflasi terlihat masih terpenuhi.

Namun, Bernanke juga menegaskan masih adanya ancaman terhadap ekonomi. “Meski prospek memperlihatkan akan adanya perbaikan, penting untuk mengakui masih adanya ancaman, termasuk kemungkinan semakin memburuknya sektor perumahan dan ketenagakerjaan, atau semakin ketatnya kredit,” katanya.

Setelah pidato Bernanke tersebut, pasar memperkirakan 94% kemungkinan the Fed akan menurunkan suku bunganya sebesar 75 bps menjadi 2,25% Maret nanti.
(Selengkapnya...)

14 Februari 2008

The Greenback Pulih Dalam Sebulan Terakhir

10:49 WIB

Data retail sales Januari Amerika yang hasilnya meningkat 0,3% berhasil mengangkat dolar, membuka harapan cash register receipts per bulan Amerika serta sedikit menepis kekhawatiran akan resesi ekonomi.

Analis menyatakan data tersebut membawa harapan karena gonjang-ganjing pasar telah menekan tingkat belanja konsumen yang beresiko resesi dan kemungkinan dipangkasnya suku bunga. Untuk dolar Amerika sendiri saat-saat ini masih menunjukkan pelemahan terhadap yen sejak Juni 2007.

Pengamat berpendapat bahwa meningkatnya hasil data retail sales tersebut tidak merubah banyak lesunya pertumbuhan ekonomi negeri om Sam dan akan ada lagi aksi jual terhadap dolar. Sementara itu pelaku pasar berharap Federal Reserve terus memangkas tingkat suku bunga sampai pada level dibawah 2% tahun ini.

Menanggapi komentar tersebut tampaknya Gunernur Ben Bernanke tidak terlalu menggubrisnya karena saat ini lebih tepat untuk bertindak bagaimana caranya agar ekonomi Amerika tidak menjadi resesi meskipun peluang penurunan suku bunga masih terbuka lebar.
(Selengkapnya...)

Emas Menguat Ikuti Minyak, Platina

10:31 WIB

Emas berjangka pulih dari kejatuhannya menyusul kenaikan minyak dan platina, dan ditutup sedikit melemah.

Platina naik setelah laporan menunjukkan krisis listrik di Afrika Selatan dapat berlangsung sampai bertahun-tahun, meningkatkan kekhawatiran mengenai ketatnya pasokan emas putih tersebut.

Perusahaan listrik negara Afrika Selatan, Eskom, tidak mampu memasok listrik ke perusahaan pertambangan dan industri lainnya lebih dari 90% kebutuhan listrik mereka sampai 2012. Eskom, yang memasok sebagian besar listrik di negara itu, bulan lalu mengatakan bahwa tidak dapat menjamin pasokan listrik ke industri, membuat perusahaan pertambangan besar menutup tambangnya selama lima hari.

Selain platina, faktor pendorong lainnya datang dari minyak, yang naik setelah Venezuela mengatakan akan menghentikan penjualan minyak ke Exxon Mobil Corp, menyusul perselisihan hukum mengenai nasionalisasi proyek minyak.

Kenaikan harga platina dan kekhawatiran mengenai inflasi yang meningkat karena kenaikan harga minyak mengangkat emas.

Emas untuk pengiriman April di Comex Division New York Mercantile Exchange turun 90 sen menjadi $910,20 per ons. Perak untuk pengiriman Maret naik 10,3 sen menjadi $17,353 per ons. Sedangkan platina untuk pengiriman April naik $61,90 menjadi $1.983,70 per ons.
(Selengkapnya...)

Minyak Naik Setelah Venezuela Hentikan Pasokan ke Exxon

10:25 WIB

Minyak berjangka melanjutkan penguatannya dini hari ini setelah Venezuela mengatakan akan menghentikan penjualan minyak ke Exxon Mobil Corp. menyusul perselisihan hukum mengenai nasionalisasi proyek minyak.

Harga juga terdorong oleh laporan pemerintah AS yang menunjukkan sedikit kenaikan stok minyak di negara itu karena menurunnya impor dan kenaikan permintaan dari perusahaan pengolah.

Minyak jenis Light Sweet di New York Mercantile Exchange naik 49 sen menjadi $93,27 per barel. Minyak jenis Brent di ICE Futures naik 46 sen menjadi $93,32 per barel.

Presiden Venezuela Hugo Chavez menghentikan penjualan minyak ke Exxon setelah perusahaan itu memenangkan keputusan pengadilan untuk membekukan aset Venezuela di luar negeri dalam perselisihan mengenai kompensasi atas nasionalisasi proyek minyak.

Stok minyak di AS naik 1,1 juta barel minggu lalu, Departemen Energi AS melaporkan, lebih rendah dari prediksi 2,7 juta barel.
(Selengkapnya...)

Akankan Masa Keemasan Euro Segera Berakhir?

10:11 WIB

Masa kejayaan euro terhadap dolar diperkirakan akan segera berakhir seiring memburuknya indikator ekonomi zona ekonomi mata uang tunggal Eropa itu sementara keyakinan pasar bahwa bank sentral Eropa (ECB) akan mulai menurunkan suku bungapun menguat.

Pekan lalu mata uang tunggal Eropa itu membukukan kejatuhan terbesar terhadap dolar sejak 2005.

Mata uang euro hingga hari ini rentan terhadap kabar buruk seperti data sektor jasa yang dirilis pekan lalu yang ternyata kurang menggembirakan.

“Saya kira, gelombang pasang telah berbalik dan sentimen positif dolar sekarang justru berlari dengan cepat,” komentar Mitul Kotecha, peneliti pada Calyon.

Bank sentral Eropa didesak untuk segera mengikuti langkah the Fed memangkas suku bunga dari level empat persen saat ini.

Pasar berjangka memperkirakan aka nada tiga atau empat kali penurunan suku bunga menjelang akhir 2008.

Penyesuaian suku bunga itu ditimbang dari suku bunga bank sentral AS dan Inggris. Dari sudut pandang imbal laba, euro kurang mendapat dukungan pasar.

IMF dua pekan lalu merevisi pertumbuhan zona euro dari 2,1 menjadi 1,6 persen.

Selasa lalu euro jatuh satu persen tidak lama setelah data sektor jasa menunjukkan kelambanan pada Januari seakan mengikuti indikator ekonomi AS yang jatuh ke level kontraksi yang sebelumnya tidak pernah muncul sejak resesi 2001.

Jumat lalu, euro juga ditutup anjlok setengah persen saat data menunjukkan para pengusaha AS mengurangi upah buruh untuk pertama kalinya dalam empat setengah tahun terakhir.

“Hal itu menunjukkan tanda-tanda kelesuan dalam hal dolar merespon berita ekonomi, barangkali karena resesi AS menjadi tolok ukur perhitungan uama sehingga resesi Eropa muncul sebagai kejutan substansial,” kata Teis Knuthsen, Kepala Riset FX dari Danske Bank di Kopenhagen.

Dari segi tehnikal, untuk melihat kecendrungan penurunan lebih jauh, euro perlu ditunggu jatuh setidaknya dua sen dari level yang sekarang.
(Selengkapnya...)

12 Februari 2008

Indeks Kepercayaan Bisnis Australia Anjlok

17:38 WIB

SYDNEY (Bloomberg): Kepercayaan bisnis warga Australia anjlok pada Januari ke level terendah sejak serangan terjadinya teroris September 2001, karena kenaikan suku bunga dan kekacauan pasar finansial.

Indeks kepercayaan turun 9 poin dari Desember lalu menjadi minus 4, demikian ungkap survei the National Australia Bank Ltd yang dirilis di Melbourne hari ini.

Indeks kepercayaan anjlok ke level terendah sejak dimulai pada 1998, namun tidak mencakup 11 September 2001.

Saham-saham All Ordinaries Index Australia mengalami penurunan bulanan terparah dalam 20 tahun terakhir pada Januari lalu di tengah kekhawatiran resesi AS akan menghambat pertumbuhan ekonomi global. Indeks kepercayaan kemungkinan akan turun lebih jauh setelah bank sentral menaikkan tingkat suku bunga pekan lalu.

Sementara itu, dolar Australia melemah menjadi 90,30 sen dolar AS pada pukul 12:23 di Sydney dari posisi sebelumnya 90,36 sen sebelum laporan dikeluarkan. Imbal hasil obligasi pemerintah turun 2 basis poin atau 0,02% poin menjadi 6,81%.
(Selengkapnya...)

Harga Spot Emas Sore Ini US$920,33 per Ounce

17:32 WIB

Harga spot emas sore ini US$920,33 per ounce, atau menurun dibandingkan dengan perdagangan kemarin sore US$925,96, menurut siaran televisi CNBC.

Sementara itu, harga kontrak emas untuk pengiriman segera tercatat turun Rp70 sen (-0,1%) menjadi US$922,80 per ounce pada pkl. 14:49 waktu Singapura. Haraga perak meningkat 0,2% menjadi US$17,52 per ounce pada waktu yang sama, tulis Bloomberg.

Harga logam mulia yang sedikit mengalami perubahan di Asia itu terjadi di tengah ketidakpastian tentang dampak dari kemungkinan penjualan emas oleh Dana Moneter Internasional (IMF).

Para pejabat G-7, yang bertemu di Tokyo pada akhir pekan, mengatakan mereka mendukung penjualan emas dari cadangan IMF sebagai bagian dari reformasi anggarannya. IMF merupakan pemegang cadangan emas terbesar ketiga setelah bank-bank sentral AS dan Jerman.
(Selengkapnya...)

Ancaman Chavez dorong harga minyak

05:38 WIB

Minyak berjangka ditutup menguat dini hari ini mencapai level tertinggi dalam sebulan terakhir setelah Venezuela mengancam akan menghentikan pasokan ke AS menyusul ketegangan antara negara itu dan Exxon Mobil Corp.

Venezuela adalah pemasok terbesar keempat AS, dan para analis mengatakan bahwa gangguan pasokan dapat menekan stok dan mendorong harga.

Minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman April di New York Mercantile Exchange naik $1,82 menjadi $93,59 per barel. Minyak jenis Brent di ICE Futures naik $1,59 menjadi $93,53.

Presiden Venezuela Hugo Chavez kemarin melontarkan ancaman setelah Exxon Mobil memenangkan keputusan pengadilan untuk membekukan $12 milyar aset Venezuela di luar negeri sebagai upaya Exxon untuk mendapatkan kompensasi dari nasionalisasi proyek minyak di Venezuela.

Chavez mengatakan bahwa bila AS benar-benar membekukan aset Venezuela, maka pasokan minyak akan dihentikan. Jubir Departemen Luar Negeri AS mengatakan ia berharap Venezuela mematuhi hukum internasional.

Harga juga naik karena faktor cuaca dan gangguan produksi di AS, yang diperkirakan akan menekan pasokan heating oil. Cuaca dingin mulai bergerak ke kawasan Timur Laut AS. Kekhawatiran mengenai pasokan meningkat setelah Valero Energy Corp. menutup fasilitas pengolahannya di Delaware karena gangguan listrik.
(Selengkapnya...)

11 Februari 2008

Australia Bakal Naikkan Suku Bunga Lagi?

11:56 WIB

SYDNEY (Bloomberg): Bank sentral Austrlia diperkirakan menaikkan suku bunga lagi untuk meredam inflasi, sementara lembaga keuangan dunia lainnya cenderung melakukan pemangkasan.

"Melihat risiko ekonomi yang tak kunjung mereda, kebijakan moneter tampaknya perlu diperketat," ungkap pernyataan Reserve Bank of Australia hari ini.

Tingkat inflasi akan tetap melampaui batas atas dari target bank sentral sebesar 3% sampai akhir 2009. Nilai tukar mata uang negara itu menguat dipicu spekulasi Gubernur Glenn Stevens akan menambah kenaikan suku bunga pekan lalu mencapai tingkat tertinggi dalam 11 tahun pada bulan depan.

Sebaliknya, bank sentral Amerika Serikat (Fed), Kanada dan Inggris memangkas suku bunga seiring ancaman resesi yang mengancam pertumbuhan global.

"Reserve Bank berada di ambang perang karena mencatat tiga laporan inflasi secara berturut-turut. Suku bunga [di Australia] naik pekan lalu dan tampaknya akan meningkat lagi pada Maret," ujar Rory Robertson, pakar suku bunga pada Macquarie Group Ltd di Sydney.
(Selengkapnya...)

Penjualan Mobil di AS Diduga Anjlok

10:53 WIB

MICHIGAN (Bloomberg): Kalangan produsen mobil diperkirakan hanya dapat menjual sekitar 15,7 juta unit kendaraan di AS pada tahun ini, terendah sejak 1998, ungkap satu ekonom industri mobil.

Jumlah pengangguran diduga akan bertambah 5,3% dan pada paruh kedua tahun ini, kata Paul Taylor, kepala ekonom di the National Automobile Dealers Association.

"Biaya energi untuk bensin, pemanas rumah dan pendingin akan terus menguras uang dari anggaran konsumen dan memperlambat belanja," kata dia.

Warga AS membeli sebanyak 16,1 juta unit mobil dan truk kecil pada tahun lalu, terendah sejak 1998. Chief Executive Nissan Motor Corp, Carlos Ghosn, mengatakan penjualan AS kemungkinan akan turun menjadi 15,5 juta unit pada tahun ini. Penjualan di AS mencapai puncaknya pada 2000 sebanyak 17,4 juta unit.

Taylor mengatakan penjualan rumah akan mulai pulih pada tahun ini di 28 dari 50 negara bagian AS. Florida, California, Arizona dan Michigan adalah beberapa di antara 22 negara bagian yang masih akan terus mengalami penurunan pada 2008.

Penjualan rumah bekas di AS anjlok 13% pada 2007, penurunan terbesar sejak 1982. Pembelian rumah baru mengalami penurunan terbesar dalam 12 tahun pada 2007.
(Selengkapnya...)

Akankah Yen Terus Menguat Terhadap Dolar?

10:46 WIB

Pasar valuta asing dan bursa saham menjadi agenda utama pembicaraan kelompok tujuh negara (G7) yang berkumpul di Tokyo sejak akhir pekan lalu.

Salah satu pesan yang disampaikan pertemuan itu adalah keluarnya komunike bersama yang mendesak China untuk segera memperkuat nilai tukar yuan.

Para menkeu dari tujuh negara industri itu juga mendesak perbankan untuk menutup semua kredit macet dan membenahi laporan keuangan untuk membantu menormalkan fungsi pasar kredit.

Menurut Tsuyoshi Segawa dari Shinko Securities, dampak pertemuan itu tidak begitu besar terhadap pasar.

Sejumlah analis lain memperkirakan pasar akan mengabaikan imbauan G7 dan ada kemungkinan nilai tukar yen terhadap dolar akan menguat dalam tiga pekan ke depan.

“Risiko penguatan yen terhadap dolar masih sangat tinggi,” komentar Masafumi Yamamoto, Kepala Strategi Valas pada Royal Bank of Scotland.

Menurutnya, yen bisa menguat hingga 104 terhadap dolar menjelang akhir Maret atau level tertinggi sejak Maret 2005.

Pada transaksi akhir pekan kemarin, yen bertengger pada level 107,35 terhadap dolar disbanding 104,95 pada Januari.

Pasar keuangan di China dan Taiwan masih tutup hingga Senin ini karena liburan Tahun Baru China sementara pasar Jepang juga akan tutup karena hari libur nasional.

Menurut Toru Tanaka, Manajer Senior – Bendahara & Valas pada Mitsubishi Corp., fokus perhatian analis saat ini adalah langkah yang akan diambil dalam menyikapi gejolak pasar finansial.

“Pasar valas sepertinya bergerak dengan cara ini dan bergantung pada tiap berita yang muncul,” kata Tanaka.
(Selengkapnya...)

OPEC Ganti Dolar Dengan Euro Untuk Transaksi Minyak

10:38 WIB

OPEC secara bertahap akan mengganti mata uang dolar dengan euro dalam transaksi ekspor minyak.

Menurut Sekjen OPEC, Abdullah Al-Badri, anjloknya nilai tukar dolar menggembosi kekuatan beli eksportir minyak.

Karena itu, beberapa negara anggota mendesak agar transaksi dilakukan dengan euro sebagai pengganti dolar.

“Kami mungkin akan menghargai minyak dengan euro,” kata Badri seraya menambahkan hal itu dilakukan secara bertahap karena perlu waktu.

OPEC sudah menyiapkan rencana pergantian dolar ke euro dalam delapan tahun ke depan.

Euro naik tajam hingga $1,4547 dibanding $1,4500 sebelumnya dan kemudian akhir pekan lalu bertengger di level $1,4515.

Iran dan Venezuela adalah dua negara anti-AS yang ingin membuang dolar dari kas penerimaan ekspor minyak mereka dan menggantinya dengan euro.

OPEC beranggotakan 13 negara pengekspor minyak dengan pangsa pasar hamper separuh pasokan minyak mentah dunia.
(Selengkapnya...)

Penjualan Rumah di AS Anjlok Lampaui Perkiraan

10:32 WIB

WASHINGTON (Bloomberg): Jumlah warga AS yang meneken kontrak pembelian rumah anjlok melampaui perkiraan pada Desember, sehingga pejabat the Fed kembali menyatakan lesunya sektor perumahan belum usai hingga akhir 2008.

Indeks National Association of Realtors' mengenai kesepakatan pembelian rumah merosot 1,5% menjadi 85,9, level terendah kedua sejak kelompok yang berbasis di Chicago itu memulai pendataan pada 2001.

Data terpisah yang dikeluarkan oleh Departemen Tenaga Kerja menunjukkan jumlah warga AS yang mengajukan klaim asuransi akibat PHK meningkat melebihi perkiraan.

Resesi perumahan terparah dalam seperempat abad ini telah menyebabkan para pengembang memangkas dan menurunkan jumlah karyawannya di industri terkait perumahan. Presiden the Fed untuk Philadelphia Charles Plosser kemarin mengatakan industri perumahan kemungkinan akan melambat pada paruh pertama tahun ini.

Para pedagang mengantisipasi penurunan lanjutan suku bunga benchmark the Fed sebesar 0,5 poin menjadi 2,5% pada atau sebelum pertemuan 18 Maret.

Penurunan dalam penjualan rumah mengikuti penurunan 3% untuk November, yang ternyata melampaui laporan sebelumnya. Para ekonom memprediksikan indeks akan turun 1%. Proyeksi bervariasi dengan kisaran penurunan 3% hingga kenaikan 1,8%.

The Realtors menurunkan prediksi mereka untuk penjualan rumah 2008 menjadi 5,38 juta dari 5,7 juta pada Januari lalu. Pada 2007, sebanyak 5,65 juta rumah terjual. Pembelian rumah-rumah baru akan menurun menjadi 637.000 dari 774.000, kata grup tersebut.
(Selengkapnya...)

Trichet: "Prospek Pertumbuhan Ekonomi Tidak Menentu"

10:29 WIB

Presiden Bank sentral Eropa Jean-Claude Trichet mengisyaratkan resiko pertumbuhan ekonomi zona euro meningkat, mendorong perkiraan investor bahwa pemangkasan suku bunga akan berlanjut.

Ketika resiko di pasar keuangan kembali muncul, ketidakjelasan dampaknya pada ekonomi riil secara keseluruhan masih tinggi ungkap Trichet. ECB sendiri akan terus memonitor secara dekat perkembangan ekonomi beberapa minggu mendatang.

ECB telah mempertahankan borrowing costs pada level tertingginya dalam enam tahun terakhir, dan menolak mengikuti jejak langkah rekannya di AS dan Inggris yang memangkas borrowing costs setelah melihat kemungkinan inflasi di 15 negara-negara euro.

ECB sendiri belum akan memangkas suku bunga beberapa bulan kedepan, namun sudah mulai mempersiapkan pasar jika terjadi penurunan. Euro melemah 0,8 persen menjadi $1,4521.

Pada 6 Desember 2007, ECB memperkirakan ekonomi zona euro akan tumbuh sekitar 2 persen di 2008 setelah tumbuh 2,6 persen di 2007. Sementara data terakhir menunjukkan resiko downside mulai menyelubungi prospek ekonomi.

Badan moneter internasional (IMF) pada 29 Januari memangkas perkiraan pertumbuhan untuk zona euro di 2008 sebesar setengah poin menjadi 1,6 persen.

Bank of England hari ini memangkas suku bunga untuk kedua kalinya dalam tiga bulan terakhir, sebesar seperempat poin menjadi 5,25 persen.

Sementara itu inflasi di 15 negara yang menggunakan euro berakselerasi menjadi 3,2 persen di Januari. ECB memperkirakan di Desember bahwa kenaikan harga-harga rata-rata sekitar 2,5 persen tahun ini setelah naik 2,1 persen di 2007. Ini membuat 2008 merupakan tahun kesembilan dimana bank sentral Eropa gagal mempertahankan targetnya, yaitu mempertahankan inflasi sedikit dibawah 2 persen.
(Selengkapnya...)

Kongres AS Sahkan Paket Stimulus Ekonomi

10: 26 WIB

Kongres AS akhirnya menyetujui rancangan paket stimulus ekonomi senilai $152 milyar dalam rangka mencegah resesi melalui program pengembalian pajak ke jutaan warga dan memberikan insentif pajak ke perusahaan untuk mendorong pembelanjaan.

Kongres mensahkan paket tersebut dengan hasil voting 380 banding 34, beberapa jam setelah Senat menyetujuinya dengan hasil voting 81 banding 16. Kongres segera memberikan legislasi tersebut ke Presiden Bush, yang diperkirakan akan menandatanganinya minggu depan.

Paket tersebut mencakup pengembalian pajak hingga $600 kepada individu dan $1.200 kepada pasangan, ditambah $300 per anak. Masyarakat berpendapatan rendah, di bawah $3000 per tahun, termasuk pensiunan yang mendapat Jaminan Sosial dan veteran cacat fisik yang tidak memiliki kewajiban pajak, akan menerima $300.

Bush memuji rancangan paket final tersebut dengan mengatakan paket itu akan efektif. “Paket ini akan meningkatkan pembelanjaan konsumen dan mendorong investasi bisnis,” katanya.

Dalam konferensi pers, Menteri Keuangan Henry Paulson mengatakan pengembalian pajak itu akan diberikan ke lebih dari 130 juta warga. Ia mengatakan cek akan diberikan mulai Mei dan kemungkinan selesai pada akhir musim panas.

Rancangan akhir paket tersebut lebih luas dari paket sebelumnya yang disetujui Kongres dan didukung Bush. Senat menambah manula dan veteran cacat fisik ke dalam paket itu yang sebelumnya tidak tercantum dalam rancangan Kongres.

Untuk memenangkan dukungan dari kubu Republik, Demokrat terpaksa menghapus perluasan tunjangan pengangguran dan dana bantuan pemanas (heating) untuk warga berpendapatan rendah. Senat juga memastikan imigran illegal tidak boleh menerima pengembalian pajak.

Pemimpin Mayoritas Senat Harry Reid, Wakil Demokrat Nevada, mengatakan paket yang disetujui Senat itu akan mengubah arah ekonomi AS. Ia juga mengatakan Kongres dan Senat akan melakukan yang diperlukan untuk mendorong ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi AS kuartal keempat hanya mencapai 0,6%, dan lapangan kerja di luar sektor pertanian (non-farm payroll) turun 17.000 bulan lalu, meningkatkan kekhawatiran ekonomi semakin dekat ke resesi.

Mengenai tentangan kubu Republik terhadap proposal Demokat untuk menambah tunjangan pengangguran dan dana bantuan pemanas (heating), Reid mengatakan hal itu akan menghantui mereka (Republik) pada pemilu Nopember nanti. Ia dan Senat Demokrat lainnya mengatakan akan terus mengupayakan penambahan tersebut.
(Selengkapnya...)

05 Februari 2008

G-7 Undang Rusia, Cina, Korsel dan Indonesia ke Tokyo

16:07

Negara-negara yang tergabung dalam kelompok G-7 akan mengundang Rusia, Cina, Korsel dan Indonesia untuk turut serta dalam pertemuannya di Tokyo minggu ini, menurut Menteri Keuangan Jepang Fukushiro Nukaga.

Para menteri keuangan dan pejabat bank sentral negara G-7 akan bertemu di ibukota Jepang itu 9 Februari nanti. Kelompok tersebut terdiri dari AS, Jepang, Jerman, Inggris, Perancis, Italia dan Kanada.

Cina dan tiga negara non anggota lainnya akan membahas isu seputar ekonomi global, pasar keuangan dan harga minyak. Nukaga mengatakan bahwa Rusia akan menghadiri beberapa pertemuan utama G7 itu.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan Jepang menyatakan bahwa isu mata uang akan dibahas dalam pertemuan itu. Sedangkan Pejabat Keuangan Kanada mengatakan bahwa dampak penurunan suku bunga dan paket stimulus ekonomi AS terhadap ekonomi global juga akan dibahas.

Dalam pertemuan nanti, G7 juga akan terus mendesak Cina untuk mengadopsi mata uang yang lebih fleksibel. Namun tidak disebutkan apakah kelompok tersebut akan menggunakan pesan yang lebih tegas dari sebelumnya.

Tidak seperti pertemuan sebelumnya Oktober lalu yang berfokus pada meningkatkan likuiditas di pasar keuangan, dalam pertemuan nanti G7 akan membahas mengenai upaya memperbaiki kepercayaan pasar terhadap ekonomi.
(Selengkapnya...)

OPEC Pertahankan Pasokan Minyak

14:26 WIB

Produsen minyak OPEC siap mempertahankan pasokan minyak meski kekhawatiran diantara sejumlah produsen utama Teluk bahwa harga minyak mentah US$90 per barel terlalu tinggi bagi negara-negara konsumen yang khawatir terhadap resesi.

Sejumlah menteri dari Organisasi Negara Negara Pengekspor Minyak telah mengatakan mereka berharap tidak ada perubahan dalam kebijakan pada pertemuan yang dimulai pada pukul 0900 GMT. Namun tak seorangpun yang menyarankan sebaliknya.

Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al-Naimi yang berpengaruh tidak akan mendukung perubahan, surat kabar al-Hayat melaporkan, mengatakan pasokan dan permintaan global seimbang.

"Kondisi pasar baik saat ini, pasokan dan permintaan seimbang dan cadangan global juga baik," kata Naimi.

Berbicara awal Jumat lalu, Presiden OPEC Chakib Khelil mengatakan kepada Reuters ia mengharapkan produksi akan dipertahankan.

Sementara Riyadh tidak akan menolak masalah penambahan lebih banyak minyak pada pertemuan ini, para delegasi mengatakan produsen utama Teluk akan lebih menyukai harga yang lebih rendah untuk membantu mencegah resesi di Barat yang dapat mengurangi permintaan minyak OPEC.

Amerika Serikat telah memimpin seruan panambahan minyak mentah dari OPEC, mengatakan bahwa harga minyak yang rendah akan mendongkrak ekonominya yang melemah.

Namun Venezuela dan Iran yang keras terhadap harga telah menyarankan OPEC perlu mempertahankan pengurangan output saat kelompok itu akan bertemu Maret untuk menetapkan harga dasar.
(Selengkapnya...)

Bank of England Bakal Pangkas Suku Bunga

14:13

Bank of England minggu ini akan menurunkan tingkat suku bunga untuk kedua kali dalam tiga bulan guna meredam inflasi, menurut hasil survei.

Sembilan anggota Komite Kebijakan Moneter akan memangkas suku bunga 25 basis poin menjadi 5,25% pada Kamis, menurut 58 dari 61 ekonom dalam survei Bloomberg News. Dua ekonom memperkirakan penurunan suku bunga 50 basis poin dan seorang mengestimasi tidak ada penurunan.

Penurunan harga rumah dan tingginya biaya pinjaman menjadikan ekonomi Inggris mencarar kinerja terburuk sejak akhir resesi 1992. Pada saat yang sama, Gubernur Bank of England Mervyn King mengindikasikan tekanan inflasi akan membuat lembaga itu mengikuti langkah The Fed memangkas suku bunga.

"Suku bunga bank tampaknya perlu turun karena kekhawatiran mengenai inflasi," ujar Matthew Sharratt, ekonom pada Bank of America Corp di London.

King, yang ditunjuk lagi oleh PM Gordon Brown pada 30 Januari, mengatakan Bank of England menghadapi aksi penyeimbangan yang sulit pada 2008. Harga rumah turun ke titik terendah sejak tahun 2000 pada kuartal IV, persetujuan hipotek merosot ke titik terendah dalam sembilan tahun dan ancaman resesi AS membuat kelabu prospek pertumbuhan global.
(Selengkapnya...)

BI: Inflasi 2008 Bisa Capai 6,5%

Gubernur Bank Indonesia Burhanudin Abdullah memperkirakan inflasi pada 2008 berada di kisaran 6,0% hingga 6,5%, atau lebih tinggi dari target yang telah ditentukan, yaitu 5% plus minus 1%.

"Realisasi inflasi bias ke arah angka inflasi yang tinggi (dari kisaran 6,0% hingga 6,5%)," katanya dalam Rapat Kerja antara Komisi XI dan pemerintah di Gedung DPR, Jakarta, Senin.

Dikatakannya, angka pertumbuhan ekonomi akan berada di level bawah dari kisaran 6,2% sampai 6,8% pada 2008. Hal ini dikarenakan masih adanya kondisi ekonomi global, terutama di Amerika yang masih terus memburuk.

"Tingkat pengangguran di AS mulai meningkat kembali sehingga consumer spending terus menurun dan perkembangan terhadap ekonomi melemah," katanya.

Menurut Burhanudin, langkah kebijakan AS saat ini menunjukkan perhatian yang serius terhadap kemungkinan ancaman resesi ekonomi dunia.

Hal ini ditunjukkan dalam kebijakan The Fed dengan menurunkan suku bunganya secara agresif dari 4,25% menjadi 3% pada Januari 2008, serta pelonggaran kondisi pasar uang dan kerjasama beberapa Bank Sentral di negara maju untuk melakukan injeksi likuiditas.

Di sisi fiskal ditunjukkan dengan stimulus terhadap permintaan yang telah dilakukan pada Oktober 2007 dilanjutkan dengan pemberian "tax rebate" dan stimulus lainnya mencapai sekitar satu persen dari PDB AS.

"Dalam hal ini Bank Indonesia merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi AS pada 2008 yang semula 1,9% menjadi 1,5%," katanya.

Perlambatan ekonomi AS tersebut membawa perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia 2008 menurun dari 4,4% menjadi 4,1%.

"Penurunan pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih dalam dapat dihindari karena pertumbuhan ekonomi di negara emerging market, khususnya China tetap kuat," katanya.
Ia mengemukakan penurunan pertumbuhan perekonomian dunia akan berdampak pada pelemahan perekonomian domestik dibanding perkiraan sebelumnya.

"Ekspor barang dan jasa tetap tumbuh, meski menjadi sedikit lebih rendah daripada perkiraan semula," katanya.

Selain itu, melambatnya ekspor non-migas dan produksi minyak Indonesia juga akan mengurangi surplus transaksi berjalan. Hal ini membuat neraca pembayaran Indonesia meski mencatat surplus, namun lebih rendah dibanding sebelumnya.

Menurut dia, hal itu mampu mendorong cadangan devisa 2008 menjadi sekitar US$70 miliar atau setara dengan 6,2 bulan kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
(Selengkapnya...)

Amerika Mengalami Defisit Di Bawah Bush

13:45

Presiden AS George W. Bush memperkirakan defisit anggaran AS sebesar dua kali lipat di 2008 dan dia memvonis pelemahan ekonomi sebagai biang keladinya setelah mengungkapkan rencana belanja sebesar $3,1 trilyun untuk tahun fiskal 2009 hari ini, dimana anggaran ini hampir tidak memberikan sisa untuk program-program domestik.

Proyeksi Gedung Putih ini langsung mendapat kritikan dari pihak Demokrat dan Republik yang mengatakan angka-angka tersebut akan mencemari kemerosotan fiskal yang sudah melebar.

Dengan ekonomi yang sudah diambang resesi, Bush mengatakan defisit akan capai $410 milyar untuk anggaran tahun 2008 yang berakhir pada 30 September dan $407 milyar untuk tahun fiskal 2009 yang mulai pada 1 Oktober.

Defisit anggaran tersebut membuat belanja militer dan perang Irak sebagai pusat perhatian, dimana Pentagon meminta kenaikan sebesar 7,5 persen menjadi $515 milyar. Diatas itu semua Bush, juga meminta $70 milyar lagi untuk konflik di Irak dan Afghanistan.

Bush, setelah rapat dengan kabinetnya mengatakan anggaran tersebut melindungi Amerika dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sehingga kongres harus mengabulkannya.

Buruknya situasi defisit anggaran akan diwarisi Presiden selanjutnya.

Sementara defisit jangka pendek menjadi kehawatiran, banyak ahli anggaran meyakinkan betapa seriusnya masalah fiskal beberapa tahun mendatang karena ledakan generasi pensiunan menyababkan belanja kesehatan dan kebutuhan lainnya pun akan melonjak.

Beberapa anggota dewan dari Republik menerima ajuan anggaran tersebut, sementara Senator dari New Hampshire Judd Gregg, Republikan senior di komite anggaran senat meradang, dengan mengatakan anggaran tersebut tidak memiliki kredibilitas.
Dia mengatakan bahwa banyak pihak yang melihat rencana anggaran ini hanya merupakan latihan akademis dari pada latihan yang sebenarnya, karena ini bukanlah anggaran yang serius.

Bush memperkirakan defisit lebih dari $400 milyar dalam dua tahun mendatang. Angka ini lebih dari dua kali lipat dari gap di 2007 pada $162 milyar dan mendekati level tertinggi pada $413 milyar sewaktu di 2004.

Besarnya defisit, disebabkan sebagian besar oleh lemahnya pendapatan ditengah-tengah lambannya ekonomi. Janji paket stimulus sebesar $150 milyar berupa rebat pajak yang rencananya akan menjauhkan ekonomi dari resesi justru menambah defisit, paling tidak dijangka pendek dan pendanaan perang Irak adalah sumber lain defisit.

Bush mengatakan, walau defisit jangka pendek memburuk, masih mungkin menyeimbangkan anggaran di 2012 sementara membuat kebijakan pemotongan pajaknya di 2001-2003 permanen.

Para pemutus kebijakan mengemukakan banyak alasan kenapa anggaran ini sepertinya menutupi kejadian yang sebenarnya. Mereka menegaskan bahwa anggaran ini hanya memasukkan sedikit dari perkiraan pendanaan untuk perang Irak dan Afganistan di 2009 dan perkiraan ekonomi yang diperlihatkan figure Bush berada diatas perkiraan ekonom sektor swasta.

Cetak biru juga menunjukkan besarnya pemangkasan pada banyak program domestic yang popular seperti dana jalan tol dan bantuan pemanas untuk orang miskin. Bush juga mengambil milyaran dari tabungan kesehatan untuk orang jompo dan cacat.

Diperkirakan banyak prioritas dari anggaran Bush ini akan ditolak oleh pihak Demokrat, yang memimpin Kongres AS, diungkapkannya document tersebut akan memicu perlawanan terhadap kebijakan fiskal Bush dan warisan ekonominya.

Sebelumnya demokrat "menggetok" Bush karena mengakibatkan negara mengalami defisit dimana saat dia naik menjadi Presiden negara mengalami surplus yang berlimpah. Hal ini merujuk pada utang negara yang melonjak menjadi $9 trilyun dari sekitar $5,6 trilyun ketika Bush naik di Januari pada 2001.

Salah satu area dimana Bush meminta belanja lebih besar adalah dalam memerangi imigrasi illegal. Dia meminta 17 persen tambahan belanja untuk para penyelenggara bea dan cukai dan imigrasi, termasuk pagar perbatasan dan menambah agen-agen patroli perbatasan.
(Selengkapnya...)

04 Februari 2008

US: Resesi Atau Tidak Resesi?

17:22 WIB

Topik utama yang menjadi bahan pembicaraan para investor di awal tahun 2008, adalah perkiraan arah ekonomi Amerika. Kondisi ekonomi Amerika akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia secara keseluruhan, mengingat posisi Amerika sebagai ekonomi terbesar di dunia. Sebagian besar pelaku dunia keuangan mengkhawatirkan terjadinya resesi di US. Resesi dalam bahasa ekonomi, didefinisikan sebagai, 2 periode berturut-turut dimana “real GDP(Gross Domestic Products)” – GDP yang sudah disesuaikan dengan inflasi - turun. Konsumen di Amerika saat ini tengah dihadapkan dengan tingkat suku bunga tinggi dan harga makanan, energi dan obat-obatan yang terus naik. Tingkat suku bunga yang tinggi telah menimbulkan “credit crunch” di sector keuangan dan property. Bank-bank besar seperti Merrill Lynch, Citigroup, UBS dan Bear Sterns mengalami krisis liquiditas. Konsumen dan investor kesulitan untuk memenuhi kewajiban membayar hipotek yang berakibat pada penyitaan properti.

Ekonomi Amerika sangat bergantung pada kekuatan sector konsumen, yaitu kekuatan konsumen untuk berbelanja (consumer spending). Dalam 15 tahun terakhir, tingkat berbelanja konsumen Amerika tidak pernah mengalami kontraksi(pertumbuh an negative), baik pada saat resesi, serangan teroris ataupun bencana alam yang besar. Trend ini diperkirakan akan terus berlanjut di tahun 2008. Tetapi, apakah tingkat konsumsi akan sekuat di tahun 2007? Kemungkinan besar tidak. “Credit-crunch” akan menimbulkan pengurangan tingkat konsumsi. Kunci untuk mempertahankan kekuatan spending konsumen, ada pada lapangan pekerjaan. Dengan tingkat pengangguran yang cukup rendah, 5%, tingkat konsumsi bisa diharapkan untuk terus berjalan, meski tidak sekuat di tahun 2007. Hal lain yang juga akan mendukung pertumbuhan ekonomi Amerika di tahun 2008 adalah perdagangan luar negeri. Melemahnya USD di tahun 2007, meningkatkan ekspor Amerika dan mengurangi tingkat deficit neraca perdagangan. Peningkatan ini menutupi efek negative akibat melemahnya sector property dan konstruksi, dalam perhitungan tingkat pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh.

Pada bulan Desember, Business Week mengadakan survey tentang ekonomi Amerika. Dari total 54 ekonom yang disurvey, hanya 2 orang yang memperkirakan Amerika akan mengalami resesi. Sementara yang lainnya, memperkirakan Amerika akan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak sampai masuk resesi. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan berkisar 2% disbanding 2.6% di tahun 2007. Tingkat inflasi diperkirakan akan stabil disekitar 2% dan tingkat pengangguran antara 4.5%-5%. Untuk mendukung kondisi ini, diperlukan kebijakan moneter yang longgar dari The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika).

Selain kondisi di atas, ada beberapa factor yang perlu diperhatikan, yang dapat menyebabkan melemahnya ekonomi Amerika. Diantaranya:

1. Defisit neraca perdagangan Amerika

Tingkat defisit yang besar menyebabkan tingkat suku bunga Amerika tidak dapat diturunkan secara berlebihan. Penurunan secara berlebihan akan menyebabkan runtuhnya USD dan meningkatkan inflasi

2. Melemahnya sector konstruksi dan jatuhnya harga rumah
3. Credit-crunch

Dalam masa pertumbuhan sector perumahan, tingkat konsumsi dipengaruhi oleh pengumpulan kekayaan dan tingkat hutang konsumen dalam bentuk hipotek. Saat ini kondisi sebaliknya yang sedang terjadi dan tingkat penyitaan mengalami peningkatan. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat konsumsi

4. Runtuhnya 1 atau beberapa institusi keuangan yang besar

Penyitaan dan bad loans menyebabkan turunnya tingkat liquiditas yang memberatkan institusi keuangan

5. Faktor geopolitik

Ketegangan US-Iran, kerusuhan di Nigeria menyebabkan harga minyak dunia untuk naik. Efek dari harga minyak yang tinggi dan berkepanjangan adalah pelemahan ekonomi global.

Apabila hal-hal diatas dapat dihindari maka ekonomi Amerika masih dapat terhindar dari resesi. Dalam tahun 2008, kerugian dari sektor sub-prime masih akan berlanjut dalam minggu ini, The Fed sudah memotong tingkat suku bunga menjadi 3,00 %. Walaupun suku bunga sudah atau akan diturunkan secara agresif, belum tentu secara langsung akan memperbaiki perekonomian Amerika yang mengalami krisis. Komitmen dari Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan moneter diperlukan untuk mengembalikan tingkat kepercayaan konsumen dan untuk menghindarkan ekonomi Amerika dari resesi. Rencana presiden Bush untuk memberikan stimulus fiscal sebesar $145 miliar (± 1% GDP), dalam bentuk tax-rebate (pengembalian pajak) untuk individu maupun bisnis, akan dapat membantu ekonomi Amerika menghindari resesi.

Apapun rencana dari The Fed dan administrasi Bush, baik itu rencana untuk menurunkan suku bunga atau memberikan stimulus fiscal, yang paling diperlukan saat ini adalah kecepatan untuk menerapkan kebijakan-kebijakan ini.
(Selengkapnya...)

Minyak naik karena rebound-nya saham global

17:00

Minyak naik setelah jatuh tajam minggu lalu, menyusul penguatan saham global mengurangi kekhawatiran mengenai melambatnya pertumbuhan AS dan dampaknya terhadap permintaan minyak.

Harga jatuh tajam minggu lalu setelah dilaporkan non farm payroll AS turun 17.000 pada Januari, terbesar sejak Agustus 2003. Namun dengan kenaikan Wall Street Jumat lalu, diikuti bursa Asia dan Eropa hari ini, minyak menguat kembali.

Minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Maret naik 11 sen menjadi $89,03 per barel, setelah turun $2,79 di $88,96 Jumat lalu. Di London, minyak jenis Brent untuk pengiriman Maret naikm 17 sen menjadi $89,61 per barel.
(Selengkapnya...)

Nikkei, Kospi Ditutup Menguat

14:15 WIB

Indeks Nikkei dan Kospi ditutup menguat hari ini, seiring dengan penguatan bursa Asia.

Indeks Nikkei menguat 2,7% menjadi 13.859,70 setelah tawaran akuisisi Microsoft ke Yahoo Inc. senilai $44,6 milyar mengangkat sentimen pasar. Seorang analis mengatakan bahwa momentum kenaikan akan terus berlanjut, pasar akan mentarget level 14.000 minggu ini. Indeks TOPIX menguat 2,1% menjadi 1.364,72.

Yahoo Japan Corp. menguat 9,5% menjadi 46.000 yen. Softbank Corp, yang memiliki 41% saham Yahoo Japan, menguat 16% menjadi 2.205 yen. Sharp Corp., produsen LCD terbesar Jepang, menguat 7,7% menjadi 1.967 yen setelah melaporkan kenaikan laba bersih kuartal ketiga.

Sementara itu, indeks Kospi menguat 3,4%, kenaikan terbesar tahun ini, menjadi 1.690,13. Kenaikan indeks didorong oleh sektor konstruksi, shipbuilder, produsen chip, dan perusahaan baja.

Saham konstruksi menguat karena baiknya prospek tahun ini. Shipbuilder menguat karena momentum kenaikan permintaan, sedangkan produsen chip menguat karena ekspektasi membaiknya industri chip. Saham baja menguat karena ekspektasi kenaikan harga baja menyusul badai salju di Cina.

Samsung Electronics menguat 4,4% menjadi 612.000 wom. POSCO menguat 3,9% menjadi 531.000 won. Hyundai Engineering menguat 15% menjadi 78.200 won. Hyundai Mipo menguat 11,2% menjadi 218.000 won.
(Selengkapnya...)

Hang Seng Menguat, Didorong Keuangan

16:18 WIB

Saham Hong Kong ditutup menguat tajam, didorong oleh sektor keuangan karena harapan Cina akan menunda kenaikan suku bunga dan langkah pengetatan lainnya karena gangguan yang disebabkan oleh badai salju terburuk dalam 50 tahun terakhir.

Badai salju menyebabkan listrik mati total, menghancurkan tanaman pangan, dan melumpuhkan transportasi dan operasi bisnis lainnya, meningkatkan kekhawatiran pertumbuhan akan melambat dan inflasi akan tetap di level tertinggi dalam 11 tahun terakhir.

Indeks Hang Seng menguat 908,50 poin, atau 3,8%, menjadi 25.032,08, menyusul penguatan bursa Shanghai.

Industrial and Commercial Bank of China dan China Costruction Bank menguat, ditambah pula dengan China Life Insurance dan Ping An Insurance, mendorong indeks keuangan naik 1.427,16 poin, atau 4,3% menjadi 35.042,36.

Indeks Shanghai menguat 8,1% menjadi 4.672,17 karena prospek sektor keuangan menyusul ekspektasi tertundanya pengetatan kebijakan moneter.
(Selengkapnya...)

Fed Kerahkan Para Bankir Pantau Resesi

04-Feb-2008 / 11:24 WIB

Meski kelesuan ekonomi secara teknis belum dapat diartikan resesi, namun daya beli konsumen AS anjlok drastis dan rendahnya pertumbuhan berdampak negatif pada masyarakat.

Menurut Pete Cook, CEO First National Bank, Alamogordo, omset real estate dan pengangguran merupakan dua indicator terbesar untuk mendiagnosa kesehatan ekonomi masyarakat.

“Saya pikir kita akan menjalani masa lesu,” kata Cook yang juga masuk dalam jajaran 108 direktur bank yang membantu Federal Reserve.

Cook juga masuk dalam daftar sembilan banker dan tiga tokoh non-perbankan lain yang ditunjuk Dewan Distrik Dallas Federal Reserve untuk memantau perkembangan ekonomi.

Gubernur Bank Sentral AS, Ben Bernanke mengingatkan uang beredar dan pasar kredit perlu dikontrol lewat kebijakan moneter.

“Tujuan kami adalah membuka lapangan pekerjaan yang maksimal, harga-harga yang stabil dan suku bunga jangka panjang yang moderat,” papar Cook menjelaskan kebijakan Bernanke.

Untuk membantu menstimulasi ekonomi, the Fed telah mengambil tindakan agresif dengan memangkas suku bunga dua kali hanya dalam sepekan.

Tingkat pengangguran AS terus memburuk hingga 4,9% pada Januari. Ekonomi AS mulai stagnan sejak kuartal terakhir 2007.

Sektor perumahan perlu dicarikan solusi secepat mungkin mengingat banyaknya stok yang tidak terjual seiring merebaknya kredit macet subprime mortgage.
(Selengkapnya...)

01 Februari 2008

'Bunga The Fed Berpeluang Turun Lagi'

1 Februari 2008 / 13:46 WIB

The Fed menyatakan masih membuka pintu pemangkasan suku bunga yang ketiga setelah pemotongan benchmark suku bunga dari 3,5% menjadi 3%, Kamis malam.

Keputusan yang diambil dalam selang waktu delapan hari sejak kebijakan moneter pertama diluncurkan itu, sekaligus mengurangi kritik investor dan ekonom pada The Fed.

Bank sentral AS itu banyak mendapat kritik sejak Agustus menyusul tingginya inflasi yang masih menjadi faktor dominan.

"Kini pernyataan dan gerakannya (The Fed) telah terkoordinasi dan mereka bergerak dengan sangat agresif. Sulit bagi siapa pun untuk mengatakan bahwa The Fed bukan segalanya," kata Ethan Harris, kepala ekonom Lehman Brothers Holdings Inc, seperti dikutip Bloomberg.

Pasar menyambut baik keputusan The Fed menurunkan suku bunganya secara agresif hanya dalam waktu sepekan itu.

Keputusan itu dinilai menenteramkan pasar atas komitmen bank sentral menstabilkan kondisi keuangan yang sempat mengancam perekonomian AS.

Meskipun The Fed meyakini pemangkasan suku bunga secara kumulatif bisa mendorong pemulihan yang besar, sambungnya, bank sentral AS itu juga tetap harus fokus mengawasi risiko negatif terhadap pertumbuhan. Upaya itu dilakukan dengan memberi isyarat kemungkinan penurunan suku bunga berikutnya.

(Selengkapnya...)

Harga Minyak Tertekan Melambatnya Ekonomi AS

1 Februari 2008 / 13:33 WIB

Harga minyak mentah anjlok memasuki hari kedua di New York karena pelaku khawatir AS berada di ambang resesi, sehingga menghambat permintaan terhadap bahan bakar di negara itu.

Jumlah warga AS yang tercatat untuk pertama kalinya memberoleh manfaat sebagai pengangguran naik mencapai tertinggi dalam 27 bulan, ungkap satu laporan kemarin.

The Fed telah memangkas biaya pipnjaman dan pemerintah tengah mendiskusikan paket stimulus. Satu laporan yang diterbitkan pada 30 Januari menunjukkan bahwa pasok minyak AS meningkat akibat permintaan terhadap bahan bakar anjlok pada pekan lalu.

Harga minyak mentah untuk pengiriman Maret melemah sebesar 54 sen atau 0,6% menjadi US$91,21 per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak diperdagangkan di level harga US$91,26 per barel pada pukul 10.25 di Sydney.

Harga kontrak berjangka minyak kemarin turun 58 sen atau 0,6% dan ditutup di posisi US$91,75 per barel dalam penurunan harga pertama untuk enam sesi. Harga kontrak berjangka minyak mencapai rekor di posisi US$100,09 per barel pada 3 Januari.

Harga penutupan minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret� anjlok 32 sen atau 0,4% dan ditutup di level US$92,21 per barel kemarin di bursa London's ICE Futures Europe. Harga minyak mentah Brent menyentuh rekor di titik US$98,50 per barel pada 3 Januari lalu.

Permintaan terhadap bensin di AS pada pekan yang berakhir 25 Januari lalu mengalami penurunan ke posisi terendah sejak pekan yang berakhir pada 27 Januari 2006, ungkap Departemen Energi dalam laporannya.

Posisi cadangan minyak mentah naik 3,56 juta barel menjadi 293 juta barel pada pekan lalu, kata laporan itu. Pasok telah melonjak sebesar 3,6% dalam tiga pekan terakhir. Stok bensin naik sebesar 3,56 juta barel menjadi 223,9 juta barel di negara itu. (Selengkapnya...)

FBI Selidiki 14 Perusahaan Terkait Praktik Pinjaman Subprime

1 Februari 2008 / 10:20 WIB

Biro Penyelidik Federal (FBI) menyelidiki 14 perusahaan dengan tuduhan penipuan akuntansi dan kejahatan lainnya terkait krisis subprime mortgage.

Neil Power, Kepala Unit Kejahatan Ekonomi FBI, tidak bersedia menyebutkan ke 14 perusahaan itu, meski ia mengatakan kasus menyangkut tipe valuasi. Penyelidikan mencakup perusahaan subprime, pengembang rumah dan perusahaan Wall street yang mengemas pinjaman melalui sekuritas.

“Kami menyelidiki kemungkinan penipuan akuntansi yang dilakukan melalui pembentukan sekuritas terhadap pinjaman tersebut,” kata Power dalam jumpa pers di Washington. “Kami akan menyelidiki pihak yang meng-sekuritas-kan pinjaman dan pihak yang memegangnya, seperti bank investasi.”

Kasus ini menambah kerumitan industri KPR pada saat penuntut dan otoritas mencari pihak yang bertanggung jawab atas krisis mortgage yang menyebabkan banyak orang kehilangan rumah dan investor menderita kerugian.

FBI juga menyelidiki kejahatan terkait mortgage lainnya, terutama kepada individu seperti pialang, penilai, perusahaan properti, pengembang atau pembeli yang mendapatkan pinjaman secara illegal. Biro tersebut sedang menyelidiki 1.210 kasus penipuan terkait mortgage.

(Selengkapnya...)

Confidence Zona Euro Melemah, Inflasi Berakselerasi

31-Jan-2008 / 18:57 WIB

Confidence diantara eksekutif-eksekutif Eropa dan konsumen mengenai prospek ekonomi yang jatuh lebih besar dari perkiraan karena inflasi berakselerasi dan kekhawatiran memuncak bahwa ekonomi AS akan tergelincir menuju resesi.

Indeks sentiment di zona euro drop menjadi 101,7 bulan ini, level terendah sejak Januari 2006 dibanding 103,4 di Desember. Tingkat inflasi naik menjadi 3,2 persen, level tertinggi sejak Desember 1993.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi dan melonjaknya harga-harga menciptakan dilemma kepada bank sentral Eropa yang menargetkan untuk mempertahankan inflasi hanya dibawah 2 persen. sementara pejabat ECB mengatakan melambatnya ekonomi AS akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi zona euro, berakselerasinya inflasi telah membuat sulit bank sentral memangkas suku bunga dan menempatkan ECB dalam posisi sulit.

Masalahnya berada di AS yang akan memberikan dampak kepada negara-negara lainnya termasuk zona euro. Ekonom memperkirakan confidence akan turun menjadi 104,1 dari level Desember pada 104,7 berdasarkan survey ekonom. Inflasi diperkirakan masih berada pada 3,1 persen.

Ekonomi AS tumbuh menjadi 0,6 persen pertahun dikwartal keempat dari 4,9 persen ditiga bulan sebelumnya, berdasarkan data yang rilis kemarin.

Ekspektasi consumers inflation masih berada pada 28, diatas rata-rata jangka panjang sebesar 23. Confidence index sektor jasa turun menjadi 12 poin di Januari dari 14 di Desember.
(Selengkapnya...)