10:11 WIB
Masa kejayaan euro terhadap dolar diperkirakan akan segera berakhir seiring memburuknya indikator ekonomi zona ekonomi mata uang tunggal Eropa itu sementara keyakinan pasar bahwa bank sentral Eropa (ECB) akan mulai menurunkan suku bungapun menguat.
Pekan lalu mata uang tunggal Eropa itu membukukan kejatuhan terbesar terhadap dolar sejak 2005.
Mata uang euro hingga hari ini rentan terhadap kabar buruk seperti data sektor jasa yang dirilis pekan lalu yang ternyata kurang menggembirakan.
“Saya kira, gelombang pasang telah berbalik dan sentimen positif dolar sekarang justru berlari dengan cepat,” komentar Mitul Kotecha, peneliti pada Calyon.
Bank sentral Eropa didesak untuk segera mengikuti langkah the Fed memangkas suku bunga dari level empat persen saat ini.
Pasar berjangka memperkirakan aka nada tiga atau empat kali penurunan suku bunga menjelang akhir 2008.
Penyesuaian suku bunga itu ditimbang dari suku bunga bank sentral AS dan Inggris. Dari sudut pandang imbal laba, euro kurang mendapat dukungan pasar.
IMF dua pekan lalu merevisi pertumbuhan zona euro dari 2,1 menjadi 1,6 persen.
Selasa lalu euro jatuh satu persen tidak lama setelah data sektor jasa menunjukkan kelambanan pada Januari seakan mengikuti indikator ekonomi AS yang jatuh ke level kontraksi yang sebelumnya tidak pernah muncul sejak resesi 2001.
Jumat lalu, euro juga ditutup anjlok setengah persen saat data menunjukkan para pengusaha AS mengurangi upah buruh untuk pertama kalinya dalam empat setengah tahun terakhir.
“Hal itu menunjukkan tanda-tanda kelesuan dalam hal dolar merespon berita ekonomi, barangkali karena resesi AS menjadi tolok ukur perhitungan uama sehingga resesi Eropa muncul sebagai kejutan substansial,” kata Teis Knuthsen, Kepala Riset FX dari Danske Bank di Kopenhagen.
Dari segi tehnikal, untuk melihat kecendrungan penurunan lebih jauh, euro perlu ditunggu jatuh setidaknya dua sen dari level yang sekarang.