15:36 WIB
Pasar sedang mengalami recovery dimana selama bulan januari dilaporkan mencatat pertumbuhan sebesar 0.3% dan mampu menekan laju kenaikan suku bunga tahunan selama bulan sebesar 4.7%.
Data tersebut sesuai dengan data survey yang dirilis oleh British Relay Consortium (BRC) dimana mencatat adanya pemotongan harga telah berkontribusi dalam pencatatan rebound sebesar 2.6% lebih baik dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun kondisi di bulan ini sangat riskan dan telah membuat posisi GBP semakin tertekan. Pihak otoritas moneter Inggris sedang berupaya menggairahkan retail untuk mengangkat pertumbuhan yang sekaligus berimplikasi terhadap apresiasi kursnya.
Walaupun pasar belum dapat memberikan kontribusi positif terhadap penyerapan tenga kerja, namun mampu mencatat angka kenaikan pendapatan selama priode Desember sebesar 3.7% lebih baik dari periode yang sama di tahun lalu.
Masyarakat Inggris saat ini mulai melakukan pengetatan dalam konsumsinya karena naiknya haraga-harga energi dan makanan sehingga dikhawatirkan akan mengurangi persentase pertumbuhan dalam laporan retail penjualan.
Disamping itu, terdapat pula kekhawatiran dikarenakan tingkat pertumbuhan global yang menurun dan kebijakan pengetatan kredit yang dikeluarkan oleh Bank sentral Inggris akan semakin membuat tahun 2008 ini kurang prospektif di negara “The Beatles” ini.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, anggota komite kebijakan moneter Inggris, David Blanchflower mengusulkan pemotongan suku bunga sebesar 50 bp di bulan Februari ini, namun mayoritas komite menginginkan pemotongan dalam kisaran 25 bp hingga 5.25 % seperti yang dilansir dari laporan rapat komite tersebut bulan ini yang baru saja dirilis.
Sementara mengacu pada Laporan Inflasi per kwartal bank sentral yang dirilis pekan lalu menyebutkan sentimen serupa. Bulan depan, terdapat indikasi akan adanya pemotongan suku bunga lagi sehingga akan membuat pasar bergairah lagi.
Setelah GBP mencatat angka positif terapresiasi oleh kebijakan pemotongan suku bunga oleh otoritas moneter negara itu sehingga membuat GBP mencatat rebound ke angka 1.9736. Namun, kebijakan yang ditempuh untuk menasionalisasi Northern Rock, salah satu bank terbesar dan berpengaruh di Inggris, membuat GBP goyah dan terdepresiasi ke 1.9400.
Namun para analis melihat akan terjadi rebound setelah anggota komite moneter David Blanchflower mengindikasikan terjadinya pemotongan suku bunga dalam kisaran 50 bp, walaupun mayoritas anggota komite tersebut belum menyepakati ke nominal berapa persentase pemotongan itu.
Sinyalemen-sinyalemen diatas memberikan harapan akan pertumbuhan positif dan berharap pertumbuhan mencapai besaran 0.3% sehingga membuat semua pihak lepas kekhawatiran terhadap semakin merosotnya performa ekonomi di negara monarki parlementer tersebut.
Apabila skenario di atas menjadi kenyataan, diharapkan GBP akan terkreksi lagi dan mencatat apresiasi ke angka 1.9950. Sebaliknya, bila terjadi pertumbuhan negatif maka GBP tidak akan bisa menembus target apresiasi sebesar 1.9338 yang dibuat tanggal 22 Januari silam.