15:32 WIB
Besarnya jumlah defisit perdaganan Jepang bulan lalu dapat membuat BOJ terpaksa merevisi proyeksi pertumbuhan bahkan skenarionya.
Meski mencatat kenaikan ekspor yang cukup signifikan, yaitu 7,7%, lonjakan impor sebesar 9% karena kenaikan harga minyak membuat Jepang mencatat defisit perdagangan sebesar 79,3 milyar yen, pertama kali dalam setahun terakhir.
Jepang cenderung untuk mencatat defisit pada Januari, dimana pelabuhan ditutup karena liburan Tahun Baru. Negara itu mencatat defisit sebesar 3,5 milyar yen Januari tahun lalu. Namun, besarnya jumlah defisit bulan lalu tentu saja dapat mempengaruhi optimisme akan ekonomi domestik.
Ekspor ke Asia dan Eropa mencatat rekor di Januari. Ekspor ke Eropa naik 10,6%, lima kali lipat bulan sebelumnya. Sedangkan ke Asia meningkat 8,2% sama seperti Desember, dan ke Cina naik 4,6%. Namun ekspor ke AS turun 3,2%.
Eksportir Jepang mengandalkan pasar Cina, Rusia dan India untuk menutupi penurunan permintaan di AS, pasar ekspor terbesar Jepang. Namun memburuknya kondisi ekonomi AS dikhawatirkan dapat menyebar ke seluruh dunia. Oleh karena itu, terlalu dini untuk menyimpulkan Eropa dan Asia akan terus menutupi dampak perlambatan AS.
Menurunnya permintaan di AS pada akhirnya akan berdampak ke emerging markets, yang merupakan kontributor separuh ekspor Jepang.
Dalam BOJ minutes, yang dipublikasikan kemarin, para anggota dewan mengekspresikan optimisme mereka akan kondisi ekonomi domestik ke depan, dan menyatakan untuk tidak terlalu terpengaruh dengan perkembangan jangka pendek namun lebih berfokus pada proyeksi ekonomi dan tren harga ke depan. Meski mereka menyadari ekspor ke AS akan terus menurun, mereka optimis ekspor ke emerging markets dapat mengimbanginya
Namun, melihat angka defisit itu, paling tidak dapat membuat pejabat BOJ ketar-ketir, bahkan tidak mustahil mereka harus mengevaluasi skenario.