1 Februari 2008 / 13:33 WIB
Harga minyak mentah anjlok memasuki hari kedua di New York karena pelaku khawatir AS berada di ambang resesi, sehingga menghambat permintaan terhadap bahan bakar di negara itu.
Jumlah warga AS yang tercatat untuk pertama kalinya memberoleh manfaat sebagai pengangguran naik mencapai tertinggi dalam 27 bulan, ungkap satu laporan kemarin.
The Fed telah memangkas biaya pipnjaman dan pemerintah tengah mendiskusikan paket stimulus. Satu laporan yang diterbitkan pada 30 Januari menunjukkan bahwa pasok minyak AS meningkat akibat permintaan terhadap bahan bakar anjlok pada pekan lalu.
Harga minyak mentah untuk pengiriman Maret melemah sebesar 54 sen atau 0,6% menjadi US$91,21 per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak diperdagangkan di level harga US$91,26 per barel pada pukul 10.25 di Sydney.
Harga kontrak berjangka minyak kemarin turun 58 sen atau 0,6% dan ditutup di posisi US$91,75 per barel dalam penurunan harga pertama untuk enam sesi. Harga kontrak berjangka minyak mencapai rekor di posisi US$100,09 per barel pada 3 Januari.
Harga penutupan minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret� anjlok 32 sen atau 0,4% dan ditutup di level US$92,21 per barel kemarin di bursa London's ICE Futures Europe. Harga minyak mentah Brent menyentuh rekor di titik US$98,50 per barel pada 3 Januari lalu.
Permintaan terhadap bensin di AS pada pekan yang berakhir 25 Januari lalu mengalami penurunan ke posisi terendah sejak pekan yang berakhir pada 27 Januari 2006, ungkap Departemen Energi dalam laporannya.
Posisi cadangan minyak mentah naik 3,56 juta barel menjadi 293 juta barel pada pekan lalu, kata laporan itu. Pasok telah melonjak sebesar 3,6% dalam tiga pekan terakhir. Stok bensin naik sebesar 3,56 juta barel menjadi 223,9 juta barel di negara itu.