12:33 WIB
Penurunan suku bunga the Fed dapat memperburuk dilema ekonomi yang mesti dihadapi Asia. Semakin besarnya selisih suku bunga AS dan Asia meningkatkan arus dana asing ke kawasan Asia, dan dapat menyebabkan penggelumbungan aset (asset bubbles), yang akhirnya dapat mempersulit upaya bank sentral di Asia meredam inflasi.
Di Cina, badai salju terburuk dalam 50 tahun terakhir mendorong inflasi yang telah melebihi target bank sentral dan diperkirakan akan mencapai level tertinggi dalam 11 tahun terakhir. Di Singapura, inflasi mencapai level tertinggi dalam 25 tahun terakhir. Sedangkan di Indonesia, inflasi bulanan naik 1,77% pada Januari, tertinggi dalam 6 tahun terakhir.
Pemerintah di beberapa negara Asia mempertimbangkan alternatif untuk mengendalikan inflasi. Dari pada menaikkan suku bunga, yang justru dapat memperlebar selisih rate, pemerintah di kawasan Asia terlihat mempertimbangkan regulasi harga, subsidi atau mempercepat penguatan mata uang.
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang cepat, inflasi tertinggi dalam 11 tahun terakhir dan biaya intervensi yang tinggi, akan membuat Cina harus membiarkan yuan terapresiasi, meski banyak pejabat yang menentangnya. Setelah menguat 7% tahun lalu, yuan telah terapresiasi 1,9% menjadi 7,1657 per dollar AS tahun ini.
Agar mata uang tidak terapresiasi terlalu cepat, yang akhirnya dapat menghambat ekspor, bank sentral Asia membeli dollar AS, mengumpulkan hingga $4 tilyun untuk cadangan devisa.
Melambatnya ekonomi global akan mendorong bank sentral Asia terus melakukan intervensi. Namun, kelemahan intervensi adalah dapat meningkatkan jumlah mata uang lokal, dan itupun dapat mendorong inflasi. Untuk mencegahnya, bank sentral biasanya menjual obligasi untuk mengurangi uang tersebut dari pasaran.
Selain melalui mata uang, pemerintah Asia mempertimbangkan penetapan harga makanan dan subsidi. Pemerintah Cina akan memberlakukan regulasi harga makanan dan pemerintah Indonesia akan memsubsidi utilitas.
Namun, langkah seperti itu dipandang negara maju akan kontraproduktif. Para pejabat negara kelompok G-7, dalam pertemuannya di Tokyo 7 Februari lalu, memperingatkan pengendalian harga secara artifisial dan subsidi hanya akan mendorong permintaan minyak dan komoditas lainnya, yang akhirnya akan semakin sulit untuk meredam tekanan inflasi global.
Para anggota G-7 melihat langkah tersebut dapat menyebarkan inflasi Asia ke seluruh dunia. Mereka juga mengimbau pemerintah untuk menghindari langkah untuk menurunkan harga energi secara artifisial.
Pengendalian harga komoditas seperti makanan dan BBM selama ini merupakan salah satu alat di negara yang memiliki banyak penduduk miskin, seperti India dan Indonesia. Namun, negara Asia lain, yang penduduknya relatif lebih makmur seperti Korsel dan Singapura, juga merasakan dampak kenaikan harga, membuat pemerintah negara tersebut mempertimbangkan langkah pengendalian seperti itu.