17:22 WIB
Topik utama yang menjadi bahan pembicaraan para investor di awal tahun 2008, adalah perkiraan arah ekonomi Amerika. Kondisi ekonomi Amerika akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia secara keseluruhan, mengingat posisi Amerika sebagai ekonomi terbesar di dunia. Sebagian besar pelaku dunia keuangan mengkhawatirkan terjadinya resesi di US. Resesi dalam bahasa ekonomi, didefinisikan sebagai, 2 periode berturut-turut dimana “real GDP(Gross Domestic Products)” – GDP yang sudah disesuaikan dengan inflasi - turun. Konsumen di Amerika saat ini tengah dihadapkan dengan tingkat suku bunga tinggi dan harga makanan, energi dan obat-obatan yang terus naik. Tingkat suku bunga yang tinggi telah menimbulkan “credit crunch” di sector keuangan dan property. Bank-bank besar seperti Merrill Lynch, Citigroup, UBS dan Bear Sterns mengalami krisis liquiditas. Konsumen dan investor kesulitan untuk memenuhi kewajiban membayar hipotek yang berakibat pada penyitaan properti.
Ekonomi Amerika sangat bergantung pada kekuatan sector konsumen, yaitu kekuatan konsumen untuk berbelanja (consumer spending). Dalam 15 tahun terakhir, tingkat berbelanja konsumen Amerika tidak pernah mengalami kontraksi(pertumbuh an negative), baik pada saat resesi, serangan teroris ataupun bencana alam yang besar. Trend ini diperkirakan akan terus berlanjut di tahun 2008. Tetapi, apakah tingkat konsumsi akan sekuat di tahun 2007? Kemungkinan besar tidak. “Credit-crunch” akan menimbulkan pengurangan tingkat konsumsi. Kunci untuk mempertahankan kekuatan spending konsumen, ada pada lapangan pekerjaan. Dengan tingkat pengangguran yang cukup rendah, 5%, tingkat konsumsi bisa diharapkan untuk terus berjalan, meski tidak sekuat di tahun 2007. Hal lain yang juga akan mendukung pertumbuhan ekonomi Amerika di tahun 2008 adalah perdagangan luar negeri. Melemahnya USD di tahun 2007, meningkatkan ekspor Amerika dan mengurangi tingkat deficit neraca perdagangan. Peningkatan ini menutupi efek negative akibat melemahnya sector property dan konstruksi, dalam perhitungan tingkat pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh.
Pada bulan Desember, Business Week mengadakan survey tentang ekonomi Amerika. Dari total 54 ekonom yang disurvey, hanya 2 orang yang memperkirakan Amerika akan mengalami resesi. Sementara yang lainnya, memperkirakan Amerika akan mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak sampai masuk resesi. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan berkisar 2% disbanding 2.6% di tahun 2007. Tingkat inflasi diperkirakan akan stabil disekitar 2% dan tingkat pengangguran antara 4.5%-5%. Untuk mendukung kondisi ini, diperlukan kebijakan moneter yang longgar dari The Federal Reserve (Bank Sentral Amerika).
Selain kondisi di atas, ada beberapa factor yang perlu diperhatikan, yang dapat menyebabkan melemahnya ekonomi Amerika. Diantaranya:
1. Defisit neraca perdagangan Amerika
Tingkat defisit yang besar menyebabkan tingkat suku bunga Amerika tidak dapat diturunkan secara berlebihan. Penurunan secara berlebihan akan menyebabkan runtuhnya USD dan meningkatkan inflasi
2. Melemahnya sector konstruksi dan jatuhnya harga rumah
3. Credit-crunch
Dalam masa pertumbuhan sector perumahan, tingkat konsumsi dipengaruhi oleh pengumpulan kekayaan dan tingkat hutang konsumen dalam bentuk hipotek. Saat ini kondisi sebaliknya yang sedang terjadi dan tingkat penyitaan mengalami peningkatan. Hal ini dapat mempengaruhi tingkat konsumsi
4. Runtuhnya 1 atau beberapa institusi keuangan yang besar
Penyitaan dan bad loans menyebabkan turunnya tingkat liquiditas yang memberatkan institusi keuangan
5. Faktor geopolitik
Ketegangan US-Iran, kerusuhan di Nigeria menyebabkan harga minyak dunia untuk naik. Efek dari harga minyak yang tinggi dan berkepanjangan adalah pelemahan ekonomi global.
Apabila hal-hal diatas dapat dihindari maka ekonomi Amerika masih dapat terhindar dari resesi. Dalam tahun 2008, kerugian dari sektor sub-prime masih akan berlanjut dalam minggu ini, The Fed sudah memotong tingkat suku bunga menjadi 3,00 %. Walaupun suku bunga sudah atau akan diturunkan secara agresif, belum tentu secara langsung akan memperbaiki perekonomian Amerika yang mengalami krisis. Komitmen dari Federal Reserve untuk melonggarkan kebijakan moneter diperlukan untuk mengembalikan tingkat kepercayaan konsumen dan untuk menghindarkan ekonomi Amerika dari resesi. Rencana presiden Bush untuk memberikan stimulus fiscal sebesar $145 miliar (± 1% GDP), dalam bentuk tax-rebate (pengembalian pajak) untuk individu maupun bisnis, akan dapat membantu ekonomi Amerika menghindari resesi.
Apapun rencana dari The Fed dan administrasi Bush, baik itu rencana untuk menurunkan suku bunga atau memberikan stimulus fiscal, yang paling diperlukan saat ini adalah kecepatan untuk menerapkan kebijakan-kebijakan ini.