
19.28 WIB
Pada pertengahan aktivitas perdagangan Eropa hari ini (31/03) gubernur BoE, Mervyn King menyampaikan bahwa Monetary Policy Committee (MPC) tidak dapat membiarkan roda perekonomian Inggris berjalan terlalu lamban ketika bank sentral berusaha untuk tetap fokus dalam menjaga tingkat inflasi. King juga menyatakan bahwa jika tingkat inflasi berada di bawah perkiraan dan target, maka suku bunga harus mendukung pertumbuhan ekonomi, dengan tetap memperhatikan ekspektasi inflasi ke depannya.
Kondisi dilema yang dihadapi Inggris juga dihadapi oleh Eropa, di mana tingkat inflasi melaju lebih cepat daripada biasanya; di tengah pelambatan ekonomi dengan biaya investasi yang besar di Inggris dan Eropa; akibat BoE dan ECB belum juga mengadakan pemangkasan terhadap suku bunganya. Gap biaya pinjaman yang berbeda dengan perekonomian Amerika Serikat membuat biaya pinjaman untuk sektor riil relatif menjadi besar, sehingga perekonomian berjalan lamban.
Mervyn King mengatakan bahwa MPC harus tetap menjaga tujuan kebijakan makroekonomi yang saling bertolak belakang tersebut. King mengatakan bahwa hal yang paling mungkin untuk ditempuh adalah dengan mengurangi instabilias perekonomian yang akhir-akhir ini terjadi akibat krisis yang terjadi di pasar finansial. King juga mengatakan bahwa kebijakan moneter harus mengendalikan ekspektasi pasar terhadap laju inflasi.
(Selengkapnya...)
World Clock
Economic Calendar (Waktu Dalam GMT-5)
31 Maret 2008
Mervyn King: Kebijakan Suku Bunga Harus Dukung Pertumbuhan Ekonomi
Volatilitas Emas Masih Tinggi: Be Careful!

18.46 WIB
Akhir pekan lalu, harga emas tiba-tiba turun cukup signifikan dan menjadi kesempatan berharga bagi investor untuk melakukan pembelian, bursa komoditas itupun semakin bergairah.
Membeli saat harga merosot telah menjadi strategi dasar para investor komoditas sejak 2002. Logam mulia itupun menjadi kelas aset bervolatilitas tinggi.
Di pasar emas yang sedang bergairah, investor tidak selayaknya dihantui kekhawatiran kecuali kalau motifnya masuk ke pasar sekadar untuk jangka pendek.
Kemerosotan harga yang terjadi pekan lalu merupakan kejatuhan herga emas terbesar sejak dua tahun terakhir.
Emas waktu itu bergerak dalam pola harga bearish dengan level support pada 923.20 setelah melampau tingkat kritis 935.00. Hari ini emas kemungkinan masih terus bergerak ke arah bawah.
Rentang perdagangan hari ini bisa berkisar antara resistansi 940.00 dan support kunci pada 910.00 sementara kecenderungan umum adalah 810.00 dengan target 1,080.00 dan 1,170.00.
Hal itu menunjukkan bahwa pemilik logam mulai sepertinya enggan melepas stok mereka ke pasar yang sedang bullish.
Banyak analis berpandangan bahwa emas tahun ini akan mencapai $1,200 per ons dan dalam dua atau tiga tahun ke depan akan mencapai $2,000 per ons.
Namun yang patut diwaspadai adalah pesaing investasi emas yakni bursa saham. Kegairahan pasar komoditas tak lepas dari kelesuan pasar saham.
Reaksi pasar komoditas juga tidak bisa lepas dari pergerakan nilai tukar EUR/USD antara 1.5749 – 5837 sebelum bertengger pada 1.5809.
Pergerakan harga energi juga menyebabkan tekanan jual pada NYMEX yang ditutup melemah $1.96 menjadi $105.62 per barel.
Emas sempat diperdagangkan dengan harga coba-coba untuk waktu singkat di atas $950 di Asia sejak akhir pekan lalu namun turun setelah tekanan jual mendominasi pasar dengan rentang harga $942 – 47.
Beberapa data ekonomi AS ikut mempengaruhi pergerakan harga seperti Belanja Komsumen dan Inflasi Inti.
Pekan ini, jika memang kebutuhan investor akan dana likuid cukup tinggi, maka bukan tidak mungkin emas masih mengalami penurunan harga.
Namun hal itu diyakini tidak akan banyak mempengaruhi kecenderungan emas untuk tetap bullish sepanjang tahun ini. Karena bagaimanapun, minat beli terhadap emas justru semakin tinggi.
Dalam fase konsolidasi boleh jadi dan bisa dimaklumi jika emas anjlok ke bawah $900 namun bouncing masih tidak jauh antara $955 (upside) dan $915 (downside).
Dan di dalam pasar bervolatilitas tinggi, adrenalin investor biasanya semakin tertantang dan emaspun masih akan menjadi primadona untuk pekan-pekan ke depan.
(Selengkapnya...)
EUR/GBP Mencetak Rekor Tertingginya, Akankah EUR/USD Mengikuti?

13.41 WIB
Euro merupakan fokus pasar pada perdagangan minggu lalu. Pada umumnya pasar merespon iklim bisnis yang ternyata lebih baik daripada yang diperkirakan, didukung pula oleh komentar hawkish dari ECB. EUR/GBP pada hari Jumat lalu telah mencetak rekor tertingginya di 0.7929, sementara EUR/USD tembus hingga 1.5902.
Di lain pihak, dollar sedikit melunak akibat lemahnya beberapa data ekonomi. Yen juga melemah terhadap beberapa cross currency akibat risk aversion yang dilakukan pelaku pasar.
Sejumlah data penting akan dirilis minggu ini, di antaranya Tankan, ISM, PMI, NFP, juga tidak ketinggalan adalah testimony Bernanke serta keputusan suku bunga RBA. Tampaknya kita harus benar-benar memperhatikan apakah EUR/USD akan mencetak rekor tertinggi lagi.
Data perumahan US juga memperlihatkn kemunduran yang cukup signifikan. Laporan ini mengindikasikan bahwa resesi di sektor perumahan kemungkinan akan berlanjut dan masih belum menampakkan tanda-tanda akan stabil, meskipun data existing home sales mengalami peningkatan untuk pertama kalinya dalam 7 bulan sebesar 2,9%.
Isyarat resesi juga diberikan oleh data durable goods orders yang di luar dugaan jatuh menjadi -1,7% di bulan Februari.
Rally yang dialami euro terjadi setelah data Ifo Jerman yang menguat di atas perkiraan, menjadi 104.8 dari 104.1. Data ini menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan bisnis di Eurozone, walaupun perekonomian global masih terlihat akan melambat.
Kisah Sterling sangat jauh berbeda dengan Euro. Pound melemah setelah komentar yang dovish dari Mervyn King. Dalam testimoninya King mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi UK tampaknya akan melemah tahun ini.
(Selengkapnya...)
28 Maret 2008
Babak Baru Krisis Finansial Global

18.38 WIB
Hari-hari ini dunia dibuat terus berdebar menyaksikan perkembangan di Amerika Serikat (AS). Semua menunggu langkah apa lagi yang akan ditempuh Pemerintah maupun Bank Sentral AS (Fed) atau bank-bank sentral negara maju lain, untuk mencegah kian meluasnya gejala krisis finansial global yang bermula dari krisis kredit macet perumahan (subprime mortgage) di AS.
Sejak krisis kredit macet perumahan merebak pada Juli 2007, sudah banyak langkah ditempuh The Fed dan pemerintahan Presiden George W Bush untuk mencegah resesi ekonomi AS dan meredam kepanikan di pasar finansial. Termasuk serangkaian pemotongan suku bunga secara maraton, peluncuran paket stimulus ekonomi senilai 163 miliar dollar AS, dan injeksi likuiditas ke sistem finansial.
Dampak krisis kredit perumahan bukannya mereda, justru meluas dari pasar kredit ke sistem perbankan dan keuangan secara keseluruhan. Bahkan ke seluruh sektor perekonomian, dan berpotensi memicu resesi ekonomi dan krisis finansial global yang lebih luas.
Berbagai statistik seperti pertumbuhan industri dan angka pengangguran, menunjukkan resesi di AS sudah terjadi. Beberapa kalangan, termasuk mantan Menteri Keuangan AS Robert Rubin, mantan pimpinan Fed Alan Greenspan dan Dana Moneter Internasioanl (IMF) sudah mengingatkan kemungkinan situasi lebih buruk ke depan. Presiden Federal Reserve New York Tim Geithner bahkan terus terang mengakui Amerika mengalami financial meltdown.
Padahal, pada Agustus 2007 mereka masih meyakinkan bahwa krisis perumahan tidak akan menyebar ke sektor pasar uang lainnya atau perekonomian secara keseluruhan. Faktanya, sejak itu kepanikan melanda seluruh pasar finansial. Investor berebut hengkang dari pasar. Aksi rush (bank run) ini membuat seluruh sistem finansial tak berfungsi. Krisis likuiditas juga membuat perekonomian lumpuh. Sejumlah bank besar atau hedge fund yang bermain sekuritas berbasis sub-prime mortgage (mortgage-backed securities/MBS) yang macet, kolaps atau dalam kesulitan keuangan.
Langkah Fed menginjeksikan likuiditas 200 miliar dollar AS melalui fasilitas Term Auction Facility (TAF) ke pasar uang dan menyelamatkan bank investasi raksasa Bear Stearns (lewat akuisisi oleh JP Morgan Chase yang didukung pendanaan dari Fed) Maret lalu, semakin membuktikan sistem perbankan AS memang sudah bangkrut. Bahkan ada yang mengibaratkan institusi finansial AS saat ini sebagai zombie, secara teknis sudah mati, tetapi masih beroperasi.
Lewat skema itu, Fed juga mensinyalkan pihaknya tak akan segan intervensi langsung di pasar modal untuk mencegah terus bergugurannya harga saham. Padahal jelas, intervensi di pasar modal bukan mandat bank sentral. Secara tak langsung, langkah itu juga menunjukkan kepanikan bank sentral dari perekonomian terbesar di dunia itu. Indikasi lain kepanikan Fed adalah penurunan suku bunga hari Minggu (23/3) saat semua libur.
Kehabisan amunisi
Berbagai langkah pemerintah AS dan Fed untuk sesaat memang menenangkan pasar dan indeks saham sempat rebound, meski tak bertahan lama. Ini menunjukkan pemotongan suku bunga saja tak cukup.
Demikian pula, beberapa kebijakan menginjeksikan likuiditas ke sistem finansial dan perbankan yang mengalami krisis likuiditas melalui sejumlah instrumen. Beberapa ekonom melihat ini sebagai bentuk bailout de facto oleh Fed dan membuat Fed berubah menjadi semacam tempat penggadaian MBS.
Langkah itu pun takkan banyak menolong, mengingat outstanding sub-prime mortgage mencapai 11 triliun dollar AS.
Krisis yang melanda perbankan, pasar saham dan pasar uang AS menandai babak baru krisis finansial global. Sejumlah analis mengatakan ini menunjukkan sistem finansial global telah gagal. Dampak krisis di AS juga berimbas ke perbankan dan lembaga investasi di negara lain.
Sejumlah bank investasi lain diprediksikan akan menyusul Bear masuk dalam ruang perawatan Fed. Bear juga bukan bank pertama yang kesulitan keuangan. Sebelumnya Citigroup Inc, Merril Lynch dan Morgan Stanley juga dipaksa meminta bailout dari investor luar, termasuk lembaga investasi milik pemerintah asing.
Too big to fail?
Untuk menyelamatkan Bear Stearns, Fed menyediakan dana 30 miliar dollar untuk mendukung akuisisi Bear oleh JP Morgan Chase. Nilai akuisisi itu hanya 1 persen dari nilai Bear tiga pekan sebelumnya, atau diskon 93,3 persen dari nilai kapitalisasi Bear per 14 Maret dan 98,8 persen dari nilai buku per 29 Februari. Harga saham Bear yang pernah mencapai level tertinggi 159,36 dollar, 14 Maret lalu hanya ditutup pada 30 dollar.
Kenapa Fed harus menyelamatkan Bear? Ambruknya Bear bisa memicu krisis kepercayaan yang lebih besar, karena memiliki keterkaitan dengan sejumlah lembaga keuangan lain.
Kolapsnya Bear berpotensi memicu krisis kepercayaan yang lebih besar dibandingkan saat terjadinya krisis Long Term Capital Management (LTCM--hedge fund raksasa yang ambruk karena transaksi derivatif tahun 1998). Krisis LTCM waktu itu juga nyaris merontokkan sistem perbankan global dan memaksa Fed melakukan bailout. Nilai pokok kredit macet di Bear ini mencapai 900 miliar dollar AS atau tujuh kali lipat LTCM.
Apalagi, makroekonomi AS kini jauh lebih rentan dibandingkan saat krisis LTCM. Sebagai perbandingan, defisit transaksi berjalan yang dulu 2 persen, sekarang 8 persen. Rasio utang pasar kredit terhadap PDB dulu sekitar 250 persen, sekarang 330 persen. Rasio utang rumah tangga dulu 65 persen terhadap PDB, sekarang 100 persen. Utang kartu kredit rumah tangga saja menurut The Center for American Progress sudah mencapai 790 miliar dollar AS, empat kali lipat dalam satu dekade.
Yang pasti, sejak krisis sub-prime merebak Juli 2007, indeks harga saham global sudah jatuh lebih dari 10 persen. Kerugian akumulatif 5 triliun dollar lebih. Bank dan lembaga keuangan kian pelit menyalurkan kredit. Terjadi pula krisis likuiditas yang luar biasa di seluruh sistem finansial.
(Selengkapnya...)
Rupiah Layu di Ujung Pekan

17.50 WIB
Naiknya pasar saham di akhir pekan tidak bisa diikuti oleh rupiah. Mata uang lokal ini layu karena minimnya sentiment positif di pasar.
Pada penutupan perdagangan pukul 17.00 WIB hari ini (28/3) rupiah melemah 35 poin di posisi 9.210 per USD.
Pelemahan rupiah memang kerap terjadi di akhir bulan karena kebutuhan akan dolar yang meningkat terutama dari korporasi dan antisipasi pasar akan keluarnya data inflasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan inflasi Maret pada pekan depan. Meskipun inflasi Maret diprediksi lebih rendah dari Februari 2008 yang sebesar 0,65%, namun pasar terlihat masih belum tenang. Hal ini dikarenakan gejolak pasar global yang belum memperlihatkan tanda-tanda akan mereda, sehingga hal ini dipandang masih merupakan ancaman atas inflasi.
(Selengkapnya...)
Sterling Terseret Oleh Kejatuhan Sektor Perumahan

15.20 WIB
Sterling melemah secara tajam pada pembukaan sesi Eropa setelah data perumahan yang dirilis jauh lebih jelek daripada yang diperkirakan. Harga perumahan jatuh menjadi -0.6% di bulan Maret dari perkiraan sebesar -0.3%. Sementara itu data tahunan turun drastis dari 2.7% menjadi 1.1%, lebih lemah dari ekspektasi sebesar 2.0%. Sepertinya, ekspektasi pasar akan rebound yang akan dialami oleh cable untuk sementara ini akan mentah.
Rebound yang dialami Cable dari 1.9736 berakhir di level 2.0193 dan tembusnya elvel support minor di 2.0034, mengisyaratkan bahwa harga tertinggi intraday sudah tercipta. Untuk sementara ini, nampaknya pergerakan akan cenderung “netral”.
(Selengkapnya...)
Greenback: Bangkit Sementara?

10.15
Perdagangan currency sampai penutupan pasar AS dolar berhasil bangkit dari keterpurukan oleh major currency didorong oleh membaiknya data ekonomi AS consumer spending direvisi naik 2.3 persen dari perkiraan sebelumnya 1.9 persen. Faktor pendorong lainya disinyalir adanya aksi profit taking oleh para investor menjelang tutup buka di kwartal pertama tahun ini.
Munculnya aksi carry trade mendorong mata uang yang memiliki tingkat suku bunga rendah seperti yen dan swiss franc berbalik tertekan lagi. Para pelaku pasar kembali menghindari mata uang tersebut dengan mengalihkan ke investasi di negara yang memilki yield dan suku bunga tinggi. Namun yang patut diwaspadai adalah anjloknya bursa saham AS tadi malam bisa mambalikan keadaan dengan kembali memburu yen dan swiss franc.
Untuk perdagangan currency hari ini, fokus pasar masih akan menantikan serangkaian data dari berbagai kawasan baik dari Asia, Eropa dan Amerika sendiri. Namun yang akan menjadi sorotan tentu saja data dari Negara Paman Sam seperti konsumer sentimen dan personal spending AS sekarang di kwartal pertama akibat dampak krisis kredit keuangan atau yang lebih populer dengan istilah subprime mortgage? Jika data AS diatas negatif, greenback punya peluang akan mendapatkan tekanan hebat lagi diakhir pekan ini. Spekulasi pemangkasan suku bunga oleh fed terus bergulir akan memberatkan pula buat dolar bangkit dari keterpurukan.
(Selengkapnya...)
27 Maret 2008
Pertumbuhan Sektor Perumahan Inggris Tersendat Karena Ketatnya Kredit

20.26 WIB
Mortgage approvals Inggris cenderung flat di Pebruari karena pasar perumahan terus mendapat gempuran dari dampak krisis kredit macet dunia.
Mortgage approvals Inggris naik menjadi 43.870 di Pebruari dari 43.732 di bulan sebelumnya, namun masih turun sepertiga dibanding tahun lalu.
Net mortgage lending naik 5,6 miliar pound, naik dibanding revisi 5,0 miliar pound di Januari. Lebih tinggi 12,8 persen pertahunnya dan berada diatas rata-rata enam bulan sebelumnya sebesar 5,1 miliar pound.
Gross mortgage lending tergelincir menjadi 17,9 miliar pound dari 18,1 miliar pound di Januari. Lebih lemah 2,9 persen pertahunnya namun berada diatas rata-rata enam bulan sebelumnya 17,6 miliar pound akibat kuatnya remortgaging approvals.
Walau data penjualan ritel relative naik di Pebruari, kredit konsumen dan kartu kredit khususnya terus tertahan.
Pasar perumahan AS mulai melambat setelah setengah tahun lalu, Bank of England menaikkan suku bunga sebesar 125 basis poin antara Agustus 2006 sampai Juli 2007 sebagai upaya memperlambat pertumbuhan inflasi.
Setelah itu, BoE menurunkan suku bunga 50 basis poin menjadi 5,25 persen untuk menyeimbangkan dampak inflasi dengan pelambatan ekonomi dan tingginya harga bahan bakar dan energi.
Ekonom memperkirakan suku bunga akan dipangkas lagi sebesar 25 basis poin tahun ini.
Persetujuan pembelian rumah berjalan konstan dan termasuk rendah dalam lima bulan terakhir.
Pertahunnya mortgage approvals turun sepertiga di Pebruari dibanding tahun lalu karena tingginya biaya pinjaman membuat pembeli rumah mengurungkan niatnya.
Perbankan memberikan 43.870 pinjaman untuk pembelian rumah, turun 33 persen dibandingkan Pebruari 2007. Approvals untuk re-mortgaging naik 5,5 persen dibanding tahun lalu menjadi 72,193.
Berdasarkan bukti-bukti diatas, pelemahan sektor perumahan Inggris akan berlanjut setelah hanya sedikit pembeli yang mampu membeli rumah.
(Selengkapnya...)
Pertumbuhan Ekspor di Jepang Mencatat Percepatan

18.41 WIB
Pertumbuhan ekspor di Jepang pada Februari tanpa diduga mencatat percepatan didorong permintaan dari pasar yang baru tumbuh yang mengimbangi pelemahan di Amerika Serikat.
Ekspor melonjak 8,7% dibanding setahun sebelumnya setelah meningkat 7,6% pada januari, menurut Kementerian Keuangan hari ini. Sebanyak 19 ekonom rata-rata memprediksi kenaikan ekspor 7,5% dalam survei Bloomberg News. Ekspor menyumbang lebih dari setengah terhadap ekspansi ekonomi kuartal lalu.
Konsumen di perekonomian yang baru tumbuh membantu Hino Motors Ltd dan Honda Motor Co dalam menghadapi penurunan permintaan di AS yang merupakan pasar terbesar Jepang. Kenaikan pengapalan ke luar negeri, meski AS menghadapi resesi, tidak seperti yang diduga analis.
"Ini merupakan angka yang kuat dan kami perlu menilai ulang perkiraan ekspor. Tampaknya ekspor kurang sensitif terhadap perlambatan di AS," ujar Richard Jerram, chief economist pada Macquarie Securities Ltd di Tokyo.
(Selengkapnya...)
Kepercayaan Konsumen Korea Selatan Anjlok

18.36 WIB
Kepercayaan konsumen Korea Selatan anjlok ke level terendah dalam satu tahun pada triwulan pertama, mengindikasikan belanja akan melambat dan menekan pertumbuhan ekonomi.
Indeks sentimen tergelincir ke 105 dalam triwulan ini yang berakhir 31 Maret dari posisi 106 sebelumnya. Posisi 105 tersebut merupakan yang terendah dalam empat triwulan terakhir, kata Bank of Korea hari ini dalam sebuah pernyatannya di Seoul. Angka yang melampaui 100 mengindikasikan jumlah yang optimistis melampaui kaum pesimistis.
Harga minyak yang mencapai rekor, pelemahan won Korea dan anjloknya harga saham menekan kepercayaan dan bisa menghambat belanja konsumen.
Goldman Sachs Group Inc pada pekan lalu menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi 2008 untuk Korsel menjadi 4,8% dari sebelumnya 5% karena turunnya konsumsi dan investasi swasta.
Kepercayaan anjlok karena "sentimen terhadap kondisi hidup saat ini dan ekonomi domestik melemah," kata bank sentral itu dalam pernyatannya.
Para konsumen memperkirakan inflasi dalam enam bulan ke depan akan naik tajam dan penurunan pendapatan pada tahun depan juga diduga meningkat, kata bank itu.
Harga minyak mentah Dubai, benchmark Korsel, melonjak 65% sejak awal tahun lalu. Korsel membeli 97% kebutuhan energinya dari impor.
Indeks Kospi Korsel telah tertekan 13% tahun ini setelah menguat 32% pada 2007, sedangkan won Korea telah anjlok 6,5% terhadap dolar AS,.
Laporan hari ini dibuat berdasarkan survei terhadap 2.401 rumahtangga di 30 kota besar yang dilaksanakan pada 3 - 14 Maret melalui surat elektronik dan telepon.
(Selengkapnya...)
26 Maret 2008
USD Kembali Melemah; Sentimen Negatif Laporan Data Makroekonomi

20.22 WIB
Aktivitas pra-perdagangan di Wall Street hari ini (26/03), US dollar kembali melemah. Terhadap euro, US dollar diperdagangkan pada $1.5727/euro dimana sebelumnya $1.5613 pada akhir perdagangan kemarin, sampai saat ini etrpantau Euro diperdagangkan pada harga $1.5715. Sementara itu terhadap Yen, US dollar turun pada harga 99.12 yen/US dollar dimana sebelumnya diperdagangkan 100.16 yen/usd, dan sampai saat ini terpantau pada harga 99.18 yen/usd.
Penurunan US dollar didorong oleh berita makroekonomi Amerika Serikat yang baru saja dilaporkan oleh Departemen Perdagangan AS, yang menyatakan bahwa perubahan pemesanan komoditi durable AS yang didominasi oleh barang-barang modal dalam proses produksi dan transportasi mengalami penurunan melampaui estimasi. Perubahan pemesanan turun 1.7% dari sebelumnya pada bulan Januari telah turun 4.7%, dan diprediksi untuk bulan februari akan naik 0.8%.
Data perekonomian ini telah mendorong Euro diperdagangkan menguat dalam hari ini mencapai $1.5757, dimana laporan data makroekonomi euro hari ini menunjukkan perekonomian Eropa masih pada koridornya. Euro diperdagangkan pada 155.90 terhadap Yen Jepang, dimana sebelumnya 156.40, dan sampai saat ini terpantau pada harga 155.88 yen/euro.
(Selengkapnya...)
Emas Terus Naik, Menempel Minyak & Melawan Dolar

20.04 WIB
Sepekan lalu satu barel minyak dihargai 3,422 gram emas. Kini, satu barel berharga 3,445 gram emas. Harga minyak mentah dunia dari sudut nilai emas tidak banyak berubah.
Namun akan lain halnya bila dolar dijadikan sudut penilaian. Harga emas dibanding dolar berfluktuasi liar. Harga dolar terhadap minyak mentah jatuh 6,7 persen sejak akhir pekan lalu sementara emas terhadap emas jatuh 7,3 persen.
Pekan lalu harga dolar terhadap minyak mentah dan emas naik 3,4% dan 2,7% sementara harga emas terhadap minyak mentah naik hanya 0,7 persen.
Fluktuasi harga terjadi karena interaksi faktor pasokan dan permintaan.
Namun dari perbandingan harga di atas, prinsip fundamental suplai dan permintaan terlihat tidak sejalan bahkan sulit menilainya ketika dolar dan mata uang lain digunakan untuk mengukur harga.
Mata uang tidak memiliki ukuran konsisten dan akurat dalam hal daya beli.
Di saat dolar terus melemah, emas terus menguat dan kemungkinan pada minggu-minggu ke depan akan terus naik.
Emas batangan jatuh 10% pekan lalu setelah mencapai level di atas 1.000 dolar. Penyebab utama adalah investor melakukan aksi ambil untung.
Harga emas akan kembali naik setelah penjualan besar-besar sejak pekan lalu. Faktor utama adalah kecenderungan dolar untuk terus melemah.
Perhatian utama investor emas banyak tertuju pada data pergerakan dolar. Target harga emas berikutnya adalah 1.080 dan 1.170 dolar per ons.
Tahun ini harga emas telah mencatat kenaikan hingga 14% dengan rekor tertinggi $1.032 per on pekan lalu tidak lama setelah dolar melorot tajam.
Belakangan kecenderungan emas mengikuti nilai tukar dolar dengan arah terbalik semakin kuat.
Akselarasi emas terhadap nilai tukar euro/dollar adalah 0,62 tahun lalu dibandingkan dengan tahun sebelumnya hanya 0,46.
Kuatnya fundamental Jerman mendukung penguatan euro dan melemahkan dolar sehingga emas kembali merangkak naik.
Pemangkasan suku bunga Fed juga ikut mengangkat harga emas karena pasar yakin nilai pemangkasan overnight itu melemahkan nilai tukar dolar.
(Selengkapnya...)
Sterling Jatuh Setelah Pernyataan Mervyn King

18.00 WIB
Sterling melemah terhadap USD dan terlihat akan mencetak rekor terendahnya terhadap euro hari ini (26/3) setelah para pembuat kebijakan Bank of England mengatakan bahwa pound sedang menghadapi resiko pelemahan (downside) dan mengulangi pernyataan bias mengenai rencana pemotongan suku bunga. Euro sendiri sempat tertolong setelah data tingkat kepercayaan bisnis Jerman menguat melebihi perkiraan.
Charles Bean, salah seorang anggota MPC, menyatakan di depan Treasury Committee Inggris bahwa resiko pelemahan yang dialami sterling, menyebabkan membengkaknya defisit neraca keuangan. Dengan kata lain, pernyataan Bean ini mengisyaratkan sterling akan melemah.
Sangatlah jarang bagi sebuah bank sentral untuk secara terbuka mengakui pelemahan mata uangnya, jadi pernyataan (akan adanya resiko pelemahan) tersebut seakan-akan memberikan sinyal bahwa pelemahan sterling masih akan berlanjut hingga beberapa bulan mendatang.
Hingga pukul 17.53 WIB sterling sempat jatuh hampir setengah persen hingga ke level 1.9965 terhadap USD.
BoE ibaratnya sedang “berjalan di atas tali”. Saat ini mereka sedang menghadapi dilema antara naiknya inflasi dan prospek pelambatan ekonomi akibat krisis pasar kredit global.
Gubernur BoE, Mervyn King, mengatakan kepada Treasury Committee bahwa inflasi terlihat meningkat di sekitar 3%, namun dia juga mengatakan bahwa BoE masih memiliki kecenderungan untuk memotong suku bunga dari 5.25%.
Menurut King, kegentingan masalah kredit yang mulai muncul sejak Agustus tahun telah memasuki babak baru yang lebih sulit, padahal MPC mengemban tugas untuk menyeimbangkan inflasi dan menjaga laju pertumbuhan ekonomi.
Jajak pendapat yang dilakukan Reuters minggu lalu kepada 56 ahli ekonomi menunjukkan bahwa 22 orang di antaranya memperkirakan bahwa BoE akan memotong suku bunga sebesar 25 basis poin di bulan April, sementara 34 orang memperkirakan bahwa BoE akan menunggu hingga bulan Mei.
(Selengkapnya...)
25 Maret 2008
Jepang Rentan Terhadap Resiko Pelemahan Ekonomi

15.15 WIB
Ditengah-tengah vakumnya pengganti gubernur bank sentral baru, setelah dua orang kandidat calon gubernur yang diajukan pemerintah ditolak senat, Jepang cenderung rentan terhadap resiko ketidakjelasan kondisi ekonomi dan resiko downside.
Pejabat sementara gubernur bank sentral Jepang, deputi gubernur Maasaki Shirakawa yang baru saja ditunjuk kabinet, berjanji akan menangkal setiap resiko tersebut agar tidak memukul pemulihan ekonomi yang sudah berjalan setahap demi setahap.
Ekonomi Jepang merupakan korban baru dari serangkaian ketidakjelasan ekonomi dan faktor-faktor resiko seperti krisis pasar keuangan, melambatnya ekonomi dunia dan tingginya ongkos harga bahan mentah.
Semua kondisi diatas menurunkan keuntungan perusahaan skala kecil dan menengah. Ini bukan berita bagus bagi Jepang yang pergerakan ekonominya sangat bergantung pada negara-negara lain.
Resiko downside (melemah) semakin kuat dan BoJ harus bekerja keras untuk melihat kemungkinan atau membuka peluang bangkitnya ekonomi dan disaat bersamaan menentukan kebijakan yang pantas dan fleksibel untuk mencapai pertumbuhan yang stabil ditengah-tengah stabilnya harga.
BoJ perlu secara konsisten melanjutkan kebijakannya dan membuat penjelasan yang logis untuk meyakinkan sesama anggotanya dan mencapai level kemandirian tertinggi.
BoJ tidak hanya akan terfokus pada ekonomi dan pasar keuangan di jangka pendek, namun juga akan menganalisa kebutuhan kebijakan di jangka panjang, merujuk kepada dampak yang diakibatkan krisis sektor perumahan dan ekonomi AS terhadap harga-harga asset yang akhirnya memukul ekonomi.
Kekhawatiran ini tidaklah salah karena reaksi pesimis mulai ditunjukkan banyak perusahaan terhadap prospek keuntungan yang didapat.
Pemerintah perlu mengawasi dari dekat ekonomi AS, pasar keuangan dan pergerakan harga minyak.
Kebijakan baru dapat diambil setelah sebelumnya kondisi ekonomi AS di analisa. Tidak dapat dipungkiri ekonomi Jepang dan AS saling terkait. Recovery ekonomi Jepang bergantung pada berapa lama krisis yang melanda negara Paman Sam tersebut berlangsung.
(Selengkapnya...)
EUR/USD Rebound, Koreksi Sudah Selesai?
14.45 WIB
Fokus pasar kembali kepada penguatan Euro dan pelemahan dolar seiring kembalinya para trader dari liburan. Arah harga secara keseluruhan sbenarnya masih belum jelas saat ini, karena ada banyak faktor yang bisa “menggiring” arah pasar. Di satu sisi, pasar komoditi masih melemah, ditandai dengan turunnya harga minyak mendekati level harga $100/barrel. Harga emas pun masih berkutat di angka rendah. Di sisi lain, para pelaku carry trade tampaknya berada dalam masa “istirahat” sehubungan dengan rebound yang cukup kuat di pasar modal Asia.
Meskipun demikian, pergerakan yang paling kelihatan jelas adalah pelemahan dolar dan penguatan euro, yang tercermin pada grafik yang menanjak dalam pergerakan EUR/USD hingga hari ini (25/3 pukul 14.45 WIB).
Secara teknis, rebound dolar ini masih terbilang dalam area koreksi, paling tidak terhadap euro, yen, dan swissy. Sementara itu, retreat-nya euro terhadap dolar (sebagaimana juga terhadap sterling) juga masih dalam bataskewajaran koreksi. Dua currency pairs ini masih memegang peranan penting dalam pelemahan (penguatan?) dolar selanjutnya.
Hari ini merupakan hari yang cukup “sepi data”. Fokus pasar hari ini kelihatannya akan lebih kepada data Consumer Confidence US, yang diperkirakan turun dari 75 ke 74 di bulan Maret.
(Selengkapnya...)
24 Maret 2008
The Greenback: Kembali Perkasa?
13.22 WIB
Minggu lalu; setelah mencetak rekor terlemah terhadap Euro dan Swissy, dan melemah hingga 95.77 terhadap yen; the greenback mengalami rebound dan ditutup menguat. Pemotongan suku bunga the Fed sebesar 75 bps (lebih kecil daripada yan diperkirakan oleh pasar) memegang perana penting dalam skenario penguatan dolar tersebut. Akan tetapi, tidak kalah pentingnya adalah jatuhnya harga emas sebesar 11% dari rekor tertingginya di level 1032/oz, serta turunnya harga minyak mentah sebesar lebih dari $13. Kedua faktor tersebut juga ikut serta memberi pengaruh yang signifikan terhadap penguatan dolar.
Sementara itu, meskipun terlihat volatilitas yang cukup ekstrim pada pergerakan yen; menyusul pergerakan yang hebat pada pasar modal; minggu lalu mata uang negeri sakura itu tetap ditutup menguat terhadap beberapa mata uang utama dunia selain USD.
Pasar finansial dunia terkesan “gugup” sepanjang awal perdagangan minggu lalu, menyusul pemotongan darurat terhadap suku bunga diskonto sebesar 25 bps yang dilakukan oleh the Fed dan penjualan Bear Sterns ke JPMorgan Chase.
Fed kelihatannya sangat menaruh perhatian terhadap masalah kredit yang semakin menjadi. Pasar memperkirakan pemotongan suku bunga sebesar 100 bps oleh Fed, namun ternyata Fed hanya memotong suku bunganya sebesar 75 bps menjadi 2,25%. Harga saham dan dolar mengalami rebound sejak saat itu, dan penguatan itu dipertegas lagi oleh laporan per kuartal dari Lehman Brothers dan Goldman Sachs yang bagus.
Keputusan pemotongan suku bunga Fed tersebut bukanlah merupakan keputusan bulat, di mana ada dua anggota FOMC yaitu Plosser dan Fisher lebih memilih untuk “tidak terlalu agresif”. Dalam pernyataannya, Fed menyatakan bahwa aktivitas perekonomian telah “semakin melemah”, diiringi pelambatan dalam consumer spending dan pelemahan pasar tenaga kerja.
Pasar finansial masih berada “di bawah tekanan”. Kondisi kredit yang sedemikian ketat dan kontraksi di pasar perumahan yang semakin buruk kelihatannya akakn semakin menekan laju roda ekonomi untuk beberapa kuartal ke depan. Namun the Fed berpendapat bahwa kebijakan moneter yang mereka lakukan seharusnya bisa membantu pertumbuhan ekonomi yang “cukup baik” seiring waktu serta “mengurangi resiko” terhadap aktivitas perekonomian.
Akan tetapi lagi-lagi the Fed menyadari bahwa “resiko” tersebut masih tetap ada. Resiko inflasi masih terlihat meninggi, namun para anggota FOMC memperkirakan bahwa inflasi masih akan “cukup lunak” untuk kuartal yang akan datang. Ketidakpastian akan hal ini mengharuskan the Fed untuk terus memonitor pertumbuhan inflasi dengan sangat hati-hati.
(Selengkapnya...)
21 Maret 2008
The Greenback Melanjutkan Rebound
11.20 WIB
The greenback melanjutkan rebound-nya terhadap sejumlah mata uang pada hari Kamis kemarin dan kelihatannya akakn terus menguat terhadap Swiss dan Euro. Aussie dan Loonie juga terlihat mengalami tekanan kemarin, menyusul aksi profit taking.
Sementara itu, emas mencapai kejatuhan mingguannya yang terbesar dalam 25 tahun, yaitu turun sebesar 12% dari rekor tertingginya di atas $ 1,000 per ons. Hal yang sama juga dialami oleh minyak dunia yang juga turun ke bawah $ 100 per barrel.
Euro dan Swiss juga mengalami pelemahan lebih jauh terhadap USD, juga karena aksi profit taking yang dilakukan para spekulan, menyusul lemahnya data PMI di bulan Maret, yang ternyata lebih buruk daripada yang diperkirakan.
Dari negeri paman Sam, data klaim pengangguran terlihat menanjak dari 22k ke 378k. Data ini sama dengan data pengangguran yang tercatat setelah terjadinya badai Katrina tahun 2005 lalu.
Namun data survei Philadelphia Fed membaik lebih daripada yang diharapkan, yaitu dari -24 menjadi -17.4 di bulan Maret, sementara leading indicators jatuh sebesar -0.3% di bulan Februari.
Kejutan terbesar kemarin adalah bagusnya data penjualan eceran di Inggris, yang mana mengalami peningkatan sebesar 1% di bulan Februari, jauh lebih bagus daripada prediksinya, bahkan lebih baik daripada data bulan sebelumnya (0.8%). Data penjualan eceran tersebut sebelumnya diprediksi menurun sebesar -0.2%.
(Selengkapnya...)
Berakhirkah Kedigdayaan Ekonomi Uncle Sam?
11.15 WIB
Krisis ekonomi berkepanjangan yang melanda AS memaksa the Fed memangkas suku bunga untuk keenam kalinya pagi ini. Walau tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, pemotongan sebesar 0,75 basis poin menjadi 2,25 persen itu diharapkan dapat membangkitkan ekonomi yang sudah terpuruk dan memulihkan kepercayaan pada sistem keuangan AS.
Pemangkasan suku bunga kali ini merupakan yang terbesar dalam satu hari dalam satu dekade terakhir. Sebelumnya banyak investor memperkirakan the Fed akan memangkas sampai satu persentase poin penuh setelah muncul bukti kuat bahwa resesi telah mulai dan krisis di Wall Street makin akut.
Sepertinya terjadi silang pendapat diantara anggota-anggota the Fed, oleh karena itu mereka membuka peluang akan adanya pemangkasan lanjutan beberapa bulan kedepan.
Reaksi pasar bervariasi setelah suku bunga resmi dipangkas namun berhasil menggenjot harga saham dibursa sampai akhir perdagangan. Ralli pertama kali terjadi diawal perdagangan ketika dua perusahaan investasi raksasa AS, Goldman Sachs dan Lehman Brothers melaporkan keuntungan yang melebihi perkiraan dan meyakinkan investor bahwa mereka memiliki modal yang cukup.
Saham-saham sempat melemah sebelum akhirnya kembali menguat sampai akhir sesi. Down Jones industrial average ditutup menguat 420 poin atau 3,51 persen menjadi 12.392,66.
Keputusan memangkas suku bunga semakin menguatkan bahwa silang pendapat meruncing tentang bagaimana memulihkan ekonomi dari keterpurukan sementara disaat yang sama mengendalikan tekanan inflasi, yang dibuktikan oleh jatuhnya nilai dolar dan harga-harga mulai dari energi sampai makanan.
Ketua the Fed, Ben S. Bernanke sendiri cenderung ingin membangkitkan ekonomi, ini terlihat dari dua kebijakannya yaitu menurunkan suku bunga dan memunculkan program pinjaman darurat kepada perbankan dan perusahaan-perusahaan investasi.
Bernanke dan sekutunya telah mengetahui kalau harga-harga konsumen naik cepat dari perkiraan, namun mereka memperkirakan tekanan inflasi akan reda seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi.
Pemerintahan Bush sendiri tidak luput dari cercaan, Bush dikutuk karena terlalu lamban merespon krisis yang terjadi dan lebih memilih menjamin perbankan dan perusahaan investasi ketimbang membantu pemilik rumah yang mengalami gagal bayar.
Bush pun dinilai terlalu mengumbar cerita bohong dan tidak realistis melihat kenyataan bahwa ekonomi AS sudah terpuruk.
Keyakinan investor memburuk dan diperparah dengan enggannya perbankan memberi pinjaman atau mengambil resiko karena takut kasus kredit macet terulang kembali.
Mortagage lending masih akan melemah dan capai level terendah dalam delapan tahun terakhir tahun ini sementara harga-harga rumah akan terus turun. Meningkatnya penyitaan membuat rumah yang tidak terjual menumpuk. Harga rumah di 20 daerah metropolitan AS turun tajam di Desember. indeks harga rumah drop 9,1 persen di Desember.
Hal paling ironis yang terjadi setelah pemerintah AS memperkirakan defisit anggaran federal senilai $410 miliar tahun ini, pertanda tingkat simpanan AS dekati nol. Sehingga AS harus meminjam dana dari luar negeri untuk membiayai belanja dalam negeri. Pinjaman luar negeri digunakan untuk membayar gaji pegawai pemerintah bahkan Presiden sendiri.
Dolar juga mendapat tekanan tidak hanya dari defisit anggaran tapi juga dari besarnya defisit perdagangan dan ekspektasi inflasi setelah the Fed berupaya menstabilkan sistem keuangan yang sudah payah melalui suntikan dana segar yang cukup besar.
Mata uang dan sistem keuangan bermasalah dan besarnya defisit anggaran dan perdagangan sepertinya tidak menarik kreditur. AS pun tidak selalu bisa bergantung pada China, Jepang dan Arab Saudi untuk mendanai perputaran ekonominya. Bayangkan jika suatu saat lelang obligasi Treasury AS tidak berjalan sesuai rencana.
Pemerintah AS sepertinya tutup mata terhadap kondisi buruk yang terjadi saat ini, mereka berusaha meyakinkan masyarakat bahwa krisis ini hanya sesaat dan akan segera membaik namun angka-angka dan data-data ekonomi yang rilis membuat masyarakat semakin cemas.
(Selengkapnya...)
19 Maret 2008
Hasil Voting MPC: 7-2 Untuk Mempertahankan Suku Bunga di 5,25%
17.50 WIB
Para pengambil kebijakan BoE memutuskan untuk menahan suku bunga di 5,25%. Tujuh dari sembilan anggota MPC memilih untuk menahan tingkat suku bunga BoE tersebut, sementara dua orang anggota lainnya; yaitu Deputi gubernur John Gieve dan david Blanchflower; menyarankan agar BoE memotong suku bunga sebesar 25 basis poin.
Hasil tersebut berbeda dengan yang telah diperkirakan oleh para analis, yang memeperkirakan hasil voting MPC adalah 9-1 untuk menahan suku bunga.
Mayoritas anggota MPC mengatakan bahwa resiko yang dihadapi oleh BoE sejak pertemuan terakhir tidak banyak berpengaruh pada keputusan bunga bulan ini.
Namun Gieve dan Blanchflower melihat resiko yang dihadapi dengan cara yang berbeda, dengan mengatakan bahwa prospek pertumbuhan ekonomi AS telah memburuk sejak bulan lalu. Pasar finansial telah terperosok lebih dalam lagi, dan hal ini diperkirakan akan berlanjut lebih lama lagi. Menurut mereka, “Hal ini meningkatkan resiko penurunan pada perekonomian Inggris dalam jangka pendek dan inflasi.”
(Selengkapnya...)
Fed Pangkas Suku Bunga 75 Bps
07.30 WIB
NEW YORK (Bloomberg): Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menurunkan suku bunga pinjaman tiga perempat basis poin menjadi 2,25% dalam upaya mendorong perkonomian dan memulihkan sistem keuangan negara itu.
Chairperson Fed Ben S. Bernanke berusaha keras membangkitkan konsumen dan perusahaan dari keterpurukan akibat krisis kredit yang membuat sejumlah bank terbesar di dunia enggan memberikan pinjaman satu sama lain.
Para pejabat juga memperlihatkan kekhawatiran baru tentang inflasi yang menjadikan suku bunga turun lebih kecil dari perkiraan.
"Informasi saat ini menunjukkan kegiatan ekonomi terus melemah. Sejumlah indikator memperlihatkan inflasi meningkat," menurut pernyataan Federal Open Market Committee setelah pertemuan di Washington.
Saham AS melonjak setelah pemotongan suku bunga tersebut, namun sebelumnya turun hingga akhirnya naik kembali menembus level tertinggi untuk hari ini.
Sebenarnya tindakan Fed ini tidak sesuai dengan ekspektasi pasar. Pasar futures mengharapkan pemotongan sebesar 100 bps tapi suku bunga Fed dan diskonto hanya dipotong 75 bps.
Meskipun USD reli menjelang pengumuman, investor tampaknya hars berhati-hati karena The Ferd sedang memainkan "permainan yang berbahaya". Dengan pernyataan yang disertai kekhawatiran akan perekonomian AS, mereka terkesan hanya menunda masalah.
Yang lebih mengkhawatirkan tampaknya adalah ada 2 anggota the Fed yang menyuarakan pemotongan yang lebih kecil. Mereka semestinya memotong suku bunga sebesar 100 bps, namun mereka merasa "telah banyak bertindak dalam beberapa hari terakhir dan ingin menyediakan ruang untuk pemotongan lebih lanjut", jika masih ada kekacauan di sektor perbankan.
Tingkat inflasi juga menjadi faktor penting dalam keputusan pemotongan suku bunga ini. Akan tetapi, faktor yang paling dominan adalah aktivitas ekonomi yang melemah (dan mungkin masih akan berkelanjutan) akibat pengetatan kredit dan memburuknya pasar perumahan.
(Selengkapnya...)
18 Maret 2008
The Fed Memangkas Discount Rate Sebesar 25 Basis Poin
16.22 WIB
Kemarin pagi sekitar jam 6.14 AM waktu Jakarta, FED menurunkan discount rate nya sebesar 25 basis poin dari 3.50% menjadi 3.25%. Penurunan discount rate yang diluar jadwal ini tampaknya belum bisa mempengaruhi tekanan jual di pasar saham yang tampaknya terus berlangsung di pasar Asia.
Jadwal FOMC akan dilakukan pada tanggal 18 Maret 2008 yang akan dilanjutkan dengan pengumuman kebijakan atas suku bunga di AS. Tampaknya pasar memperkirakan FED akan menurunkan kembali interest rate nya. Yang menjadi masalah adalah akan berapa besar FED akan memangkas interest rate nya, dan berapa besar akan kembali memangkas discount rate nya.
Akan cukup menarik memperhatikan pegerakan pasar hari ini. Akankah dia kembali turun tajam ataukah akan ada buying power yang bisa menahan penurunan yang lebih lanjut.
(Selengkapnya...)
'Stabilitas Moneter Semu Akibat BI Partisan'
16.49 WIB
Kemelut yang dihadapi pejabat maupun institusi BI dikhawatirkan bakal membuat BI semakin mandul dalam menyikapi dinamika perkembangan pasar finansial global.
Pengamat pasar modal Djoko Santoso Soenoe mengatakan kondisi pasar yang penuh risiko saat ini seharusnya tidak memungkinkan bagi berbagai pihak untuk terus menerus mempolitisasi lembaga bank sentral.
"BI sejak lama memang diduga berbau tidak sedap karena berbagai kepentingan yang merugikan bangsa," katanya dalam pernyataannya kepada Bisnis hari ini.
Menurut dia, sungguh tidak bertanggungjawab jika bank sentral yang seharusnya menjadi garda depan dalam menahan krisis dan bertindak profesional dipaksa bersikap transaksional, demi membela kepentingan politik atau kekuasaan tertentu.
Hal ini sangat membahayakan stabilitas makro ekonomi jangka panjang, ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa selama ini tidak jelas mazhab apa yang dianut oleh BI, apakah membela inflasi dan suku bunga rendah, menjaga kurs rupiah tetap lemah agar cadangan devisa semakin kuat, ataukah pertumbahan ekonomi yang berkelanjutan. Akibatnya, tambahnya, stabilitas makro yang tercipta selama ini adalah semu.
Rupiah selama ini, katanya, mungkin menjadi satu-satunya mata uang yang melemah terhadap dolar di wilayah Asia, sementara cadangan devisa tidak juga bertambah dengan cepat, seperti di Brazil, China, atau India. Cadangan devisa Brazil naik dari US$15 miliar pada 2000 menjadi US$190 miliar saat ini, lebih dari sepuluh kali lipat, sedangkan Indonesia kurang dari dua kali.
"Kalau mazabnya saja belum jelas, bagaimana bisa mempertebal iman."
BI bisa mendorong pertemuan darurat dengan bank-bank sentral lain di wilayah Asia, untuk bergerak bersama-sama memberikan pernyataan atau memikirkan insentif apa yang harus diambil untuk memulihkan kepercayaan pasar, sebagaimana dilakukan oleh the Fed pada saat Asia terkena krisis sepuluh tahun lalu.
Derasnya arus perdagangan, modal dan informasi dari barat membuat pasar Asia tidak bisa decouple. Langkah bersama bank sentral wilayah Asia, setidaknya diharapkan dapat mengurangi atau menyetop derasnya arus informasi negatif tersebut.
(Selengkapnya...)
Jepang Sediakan Pinjaman Untuk RI Rp 1,9 Triliun
16.11 WIB
Jepang pada Selasa menyediakan pinjaman senilai 22,08 miliar yen (Rp1,9 trilun) kepada Indonesia, untuk mendukung usaha-usaha pembangunan sosial dan ekonomi, dengan para pejabat Jepang mengatakan jumlah bantuan pinjaman untuk Indonesia pada tahun fiskal 2007 diperkirakan mencapai US$1 miliar.
Duta Besar Jepang untuk Indonesia Shin Ebihara dan Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri Indonesia Imron Cotan bertukar nota kesepakatan di Jakarta terkait dengan pinjaman tersebut yang bertujuan untuk mendukung usaha-usaha reformasi di Indonesia di bidang stabilitas makroekonomi, iklim usaha, penyelengggaraan negara yang bersih dan pengentasan kemiskinan.
Kyodo melaporkan, bunga untuk pinjaman tak terikat itu ditetapkan 0,7% per tahun dengan masa pembayaran 15 tahun, termasuk masa tenggang waktu (grace period) 15 tahun.
"Pada saat kami masih dalam proses meratifikasi Perjanjian Kemitaraan Ekonomi Jepang-Indonesia yang ditandatangani oleh para pemimpin kedua negara Agustus lalu, iklim investasi di Indonesia yang mengalami banyak perbaikan dapat menarik perdagangan dan investasi dari Jepang," kata Sekretris Pertama Kedubes Jepang Tsukasa Hirota, dalam jumpa pers.
Menurut dia, sejauh ini Jepang telah berkomitmen menyediakan pinjaman untuk Indonesia senilai 45,26 miliar yen (US$467 juta) untuk tahun fiskal 2007 yang berakhir 31 Maret.
Desember lalu, Jepang dan Indonesia bertukar nota tentang pinjaman senilai 23,18 miliar yen untuk membiayai proyek-proyek guna meminimalkan kerusakan akibat gempa bumi, tsunami dan bencana alam lainnya.
"Pada akhir Maret, kami akan menyediakan sekitar US$650 juta untuk membiayai proyek-proyek khusus," kata Hirota.
Sebanyak lima proyek yang dibiayai dana itu mencakup dua proyek irigasi, proyek pembangunan rel kereta api dan sebuah proyek universitas.
(Selengkapnya...)
Bank of England Tawarkan Dana Darurat
16.08 WIB
LONDON (Bloomberg): Bank of England menawarkan dana ekstra kepada perbankan dalam operasi darurat jangka pendek pertama seperti yang dilakukan bank sentral AS (Fed) untuk mencegah semakin memburuknya pasar keuangan.
"Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kondisi pasar keuangan jangka pendek. Bank itu akan mengambil tindakan untuk menjamin overnight rate dekat dengan is close to bank rate," ungkap pernyataan bank sentral Inggris itu.
Bersama dengan bank sentral lain, Bank of England terus memantau kondisi pasar dari dekat. Tindakan bank sentral Inggris tersebut menyusul langkah Fed untuk menurunkan tingkat suku bunga diskonto.
Upaya penyelamatan otoritas AS atas Bear Stearns Cos, perusahaan sekuritas terbesar kelima di Wall Street, menjadikan nilai tukar dolar AS mencapai titik terendah terhadap euro.
"Risiko pelemahan semakin meningkat. Bagian dunia lain jelas terpengaruh dari masalah di Amerika Serikat. Inggris dalam ancaman," ujar Richard McGuire, ekonom pada Royal Bank of Canada di London.
(Selengkapnya...)
11 Maret 2008
Harga Minyak Dekati US$108 per Barel
11.51 WIB
Harga minyak mentah menyentuh tingkat US$108 per barel di New York setelah mencapai rekor kemarin ke posisi tertinggi US$107,90 per barel. Rekor sebelumnya adalah US$106,47 per barel yang terpecahkan pada Kamis pekan lalu.
Harga minyak untuk pengiriman April diperdagangkan 7 sen lebih rendah pada posisi US$107,90 per barel di New York Mercantile Exchange pada pukul 9.34 waktu Sydney. Kemarin, di bursa berjangka naik US$2,75 atau 2,6% menjadi ditutup pada rekor baru US$107,90.
Sementara itu, di London, harga minyak jenis Brent North Sea untuk pengiriman April menyentuh harga US$104,42 per barel. Sebelumnya rekor tertinggi harga minyak di London berada pada posisi US$102,61 per barel pada Kamis pekan lalu.
Harga minyak terus meningkat sejak OPEC memutuskan tidak menambah lagi produksinya. Organisasi negara pengekspor minyak itu memasok sedikitnya 40% minyak dunia dan kini memproduksi 29,67 juta barel per hari.
OPEC beralasan bahwa mereka tidak menaikkan produksinya karena kenaikan harga minyak yang terjadi saat ini bukan masalah fundamental "melainkan lebih dipengaruhi oleh faktor spekulasi."
"Harga minyak ke depan bisa mencapai US$120 per barel dan itu dalam jangka relatif pendek," kata Matthew Simmons, chairman of Simons & Co., Houston Investment Bank.
"Saya adalah satu dari sedikit orang yang tidak merasakan terkejut ketika melihat harga minyak mencapai US$107. Saya tetap berpikir itu adalah hasil negosiasi," katanya.
(Selengkapnya...)
Penguatan Yen Diabaikan Oleh BoJ?
11.49 WIB
Untuk kali pertama selama beberapa dekade terakhir, banyak trader forex merasa yakin bahwa BoJ tidak akan melakukan intervensi pada pasar keuangan, membuat jalan bagi yen untuk melanjutkan penguatannya yang terbesar terhadap USD semenjak tahun 2000.
Otoritas Jepang menjual mata uangnya dalam empat event utama semenjak tahun 1995 ketika yen mencapai level 100 untuk mendukung eksportir seperti Toyota dan Sony.
Ketika yen menguat hingga 8 tahun tertinggi sebesar 101.43 minggu lalu, menteri keuangan Fukushiro Nukaga berhenti untuk memberikan beberapa sinyal yang dikhawatirkan oleh para petinggi, dengan hanya mengatakan pemerintah akan memperhatikan pergerakan mat uang dengan "hati-hati".
Yen telah menguat sebesar 19% semenjak Juni. Dibandingkan referensi ekonomi, reli juga didiasari oleh faktor kerugian pada pasar kredit, yang menyebabkan para investor menjual aset-aset dengan imbal hasil lebih tinggi di selurh dunia dengan pinjaman yang rendah di Jepang, negara ke dua yang terbesar, dapat berkembang 1,5% tahun ini, sesuai dengan tingkat pertumbuhan di AS, seperti yang dikatakan oleh IMF pada 29 Januari. Hal ini merupakan pertama kalinya ekonomi Jepang tidak tertingal di belakang AS sejak 1991.
Negara-negara G7, yang akan melakukan pertemuan tanggal 12 - 13 April di Washington, dapat memberi sinyal perhatiannya akan intervensi yang terkoordinir, demikian menurut strategis UBS tanggal 3 Maret.
Bagaimanapun, intervensi unilateral "lebih kecil kemungkinannya" setelah ekonomi Jepang mengalami ekspansi setiap tahunnya sejak 2002, demikian menurut Ashley Davis, strategis UBS di Singapura.
(Selengkapnya...)
Fukuda Minta Ota Buat Stimulus Ekonomi
Menteri Kebijakan Fiskal dan Ekonomi Jepang Hiroko Ota mengatakan Perdana Menteri Yasuo Fukuda memintanya untuk membuat satu paket stimulus ekonomi guna meningkatkan lapangan kerja, ekonomi regional, dan aktifitas di perusahaan kecil.
Ota kepada wartawan hari ini mengatakan dirinya akan mengambil kebijakan sekitar awal April.
Menurut dia, Fukuda mengatakan kepada para menterinya bahwa 'risiko penurunan' bagi ekonomi AS meningkat, dan bahwa pemerintah perlu membuat satu paket untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi Jepang.
(Selengkapnya...)
Indeks Kepercayaan Bisnis Australia Anjlok
11.09 WIB
Kepercayan bisnis Australia mendekati terendah dalam enam tahun lebih setelah bank sentral menaikkan tingkat suku bunga dan bursa saham anjlok.
Indeks sentimen tersebut naik 2 poin pada Februari dibandingkan bulan sebelumnya, ungkap menurut survei National Australia Bank Ltd terhadap 500 perusahaan yang dirilis di Melbourne hari ini.
Indeks kepercayaan konsumen menjadi negatif pada Februari untuk pertama kalinya dalam 15 bulan dan pertumbuhan penjualan ritel terhenti pada Januari setelah berekspansi tujuh bulan, ungkap laporan bulan lalu.
Level di bawah nol menunjukkan jumlah yang memperkirakan bisnis akan terdegradasi lebih banyak daripada yang memprediksi akan naik. Hasil negatif dalam indeks menunjukkan ekspansi ekonomi 16 tahun akan mereda akibat kenaikan suku bunga menghambat belanja ritel dan pelambatan global menekan ekspor.
Indeks kondisi bisnis Bank National Australia anjlok 2 poin menjadi 11, terendah dalam lebih dari dua tahun, dan 8,5 poin di bawah rekor Oktober yang 19,5 poin.
National Australia, bank terbesar di negara itu, hari ini menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi dan memprediksikan bank sentral telah menyelesaikan kenaikan biaya pinjaman.
Dolar Australia ditransaksikan di level 91,73 sen AS pada pkl. 11:35 di Sydney dari 91,75 sen menjelang keluarnya laporan. Imbal hasil obligasi pemerintah berjangka dua tahun naik 2 basis poin atau 0,02% menjadi 6,25%.
Sejumlah perusahaan Australia pada Januari lalu berada di level paling pesimis sejak serangan teroris 11 September 2001 di AS.
Kepercayaan kemungkinan akan turun lebih jauh setelah bank sentral menaikkan tingkat suku bunga lagi pekan lalu, membawa benchmark ke tingkat tertinggi 12 tahun, guna meredam inflasi terpesat sejak 1991.
National Australia hari ini memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi untuk 2008 dan 2009 menjadi 2,8% dari 3%. Itu berarti lebih lambat dibandingkan ekspansi ekonomi 4% tahun lalu.
Inflasi pokok Australia terakselerasi menjadi 3,8% dalam triwulan keempat karena biaya bahan bakar dan rumah melonjak melampaui target bank sentral yang berkisar antara 2% dan 3%.
(Selengkapnya...)
10 Maret 2008
Rupiah Tumbang Ke 9.175/USD
18.29 WIB
Rupiah mengiringi kejatuhan pasar saham. Mata uang lokal ini tumbang hingga melewati level 9.100/USD menyusul belum jelasnya perekonomian global.
Pada penutupan perdagangan hari ini rupiah kehilangan 120 poin lebih ke posisi 9.175/USD
Pelaku pasar diduga sengaja melakukan aksi ambil untung setelah penguatan tajam rupah pekan lalu. Selain itu kemungkinan besar pasar sedang menanti momentum penurunan bunga The Fed pada 18 Maret mendatang untuk kembali mengoleksi rupiah.
Pelemahan terhadap greenback ini juga dialami oleh beberapa mata uang regional lainnya. Dolar Hongkong mengalami pelemahan 0,04%, rupee India melemah 0,32%, won Korea melemah 0,83%, dolar New Zealand melemah 0,32%, peso Filipina melemah 0,99%, dan dolar Singapura melemah 0,2%.
(Selengkapnya...)
Payroll Jatuh di Bulan Februari, Meningkatkan Bahaya Resesi
17.45 WIB
Ketakutan terhadap resesi AS semakin bertambah di hari Jumat seiring dengan jatuhnya tenaga kerja di bulan Februari pada laju tercepat dalam 5 tahun terakhir, mengindikasikan sektor perumahan dan kekacauan sektor kredit berimbas meluas pada ekonomi.
NFP melaporkan penurunan tenaga kerja sebesar 63.000 di bulan Februari. Sementara angka Januari pun direvisi lebih rendah dengan kehilangan 22.000 tenaga kerja.
Tingkat pengangguran berkurang menjadi 4,8%, namun hal itu juga merefleksikan penyusutan lapangan kerja. Payroll pegawai pemerintah meningka menjadi 38 ribu. Hal ini berarti penurunan payroll sektor swasta untuk bulan lalu adalah 101 ribu, penurunan terbesar sejak Maret 2003.
Tentunya kejatuhan sektor tenaga kerja ini dapat menambah ketakutan negatif pada Fed yang "terjerat umpan balik" di mana ketegangan pasar uang mendorong ke arah ekonomi yang lebih lemah, sehingga membawa kekacauan finansial.
Data ini memberikan dukungan ekspektasi Wall Street akan pemangkasan suku bunga Fed lebih lanjut yang akan dilaksanakan pada pertemuan mendatang.
(Selengkapnya...)
07 Maret 2008
Pemerintah Jepang: Muto Kandidat Gubernur BoJ Menggantikan Fukui
19.55 WIB
Pemerintah Jepang menominasikan deputi gubernur Bank of Japan, Toshiro Muto, sebagai calon kuat pengganti Toshihiko Fukui, demikian seperti yang dilansir oleh kantor berita NHK. Rekomendasi ini akan diajukan ke parlemen Jepang hari Jumat ini.
Fukui, yang telah mengabdikan dirinya untuk membantu menjalankan roda perekononomian Jepang selama lima tahun berencana akan mengundurkan diri pada tanggal 19 Maret mendatang.
Bagaimanapun, masih merupakan tanda tanya besar apakah Partai Demokratik Jepang (Democratic Party of Japan/DPJ) akan menyetujui atau bahkan menolak pencalonan Muto ini karena alasan politis.
DPJ, yang cukup berpengaruh di kalangan atas parlemen Jepang, telah diindikasikan akan menghalang-halangi usaha yang akan dilakukan oleh pemerintah dan koalisinya dalam menominasikan pengganti Fukui, meskipun jika hal itu berarti posisi gubernur BoJ akan dibiarkan kosong untuk sementara.
DPJ terlihat tidak terlalu bersemangat atas pencalonan Muto ini. Bahkan beberapa anggota DPJ berargumen bahwa latar belakang Muto dalam pemerintahan berpotensi untuk ‘membahayakan’ kebebasan BoJ dalam menentukan arah kebijakan moneter. Muto sendiri adalah mantan seorang pejabat tinggi di kementerian keuangan, dan pernah menjadi deputi gubernur BoJ pada tahun 2003.
Pendapat beberapa anggota DPJ tersebut berseberangan dengan dukungan yang dikumandangkan oleh koalisi dari Liberal Democratic Party dan New Komeito, yang juga berpengaruh di parlemen. Koalisi ini menyetujui pencalonan Muto sebagai kandidat pengganti Fukui.
Sementara itu, pemerintah juga mengusulkan kepada parlemen untuk mencalonkan Masaaki Shirakawa (mantan direktur eksekutif BoJ) dan Takatoshi Itoh (profesor di Tokyo University) sebagai kandidat deputi gubernur menggantikan Muto dan Kazumasa Iwata.
Shirakawa dianggap sebagai tokoh kunci di belakang kebijakan uang longgar yang dilakukan oleh BoJ pada tahun 2003, yang mengarahkan suku bunga menjadi nol untuk menghadapi deflasi.
(Selengkapnya...)
Bank of Japan Menahan Suku Bunga di 0.5%
11.30 WIB
Bank of Japan memutuskan untuk menahan suku bunganya di 0.5% pada pertemuan hari Jumat (7/3), seperti yang telah diperkirakan. Seluruh anggota dewan pengambil kebijakan BoJ yang berjumlah sembilan orang mengambil keutusan untuk menahan suku bunga.
Hal ini memberikan waktu kepada BoJ untuk menaksir seberapa jauh perekonomian AS akan melemah, dan sejauh mana krisis kredit dan pasar perumahan yang berkelanjutan di AS akan “menggelincirkan” pertumbuhan ekonomi global.
BoJ juga harus mengetahui dengan pasti apakah pertumbuhan ekonomi Jepang mampu mempertahankan recovery-nya meskipun ada ketidakpastian di sector korporat.
Setelah keputusan suku bunga tersebut diumumkan, kurs yen sedikit berubah terhadap USD ke level 102.76.
Reaksi pasar financial juga relative kecil terhadap keputusan yang telah diperkirakan ini.
Indeks Nikkei 225 sempat turun 3,3% ke level 12,786.00, melemah dari level penutupan sesi pagi di 12,836.82.
(Selengkapnya...)
06 Maret 2008
Pound Menguat Setelah MPC Memutuskan Menahan Bunga
19.57 WIB
Pound menguat setelah MPC Bank of England mengumumkan hasil votingnya untuk menahan suku bunga di 5,25%.
Keputusan ini sebenarnya telah diperkirakan oleh polling yang dilakukan oleh Thomson Financial News. Dari 35 ekonom yang menjadi responden dalam polling tersebut, hanya dua orang yang memperkirakan bahwa BoE akan memotong suku bunganya. Sebagian besar ekonom tersebut meramalkan bahwa pemotongan suku bunga akan dilakukan oleh BoE pada bulan Mei mendatang – di saat BoE menerima forecast yang lebih lengkap mengenai laporan inflasi di bulan Mei.
Ekspektasi akan bertahannya suku bunga BoE di 5,25% ini diperkuat kemarin oleh data survei yang solid di sektor jasa, yang mengisyaratkan bahwa inflasi harga konsumen akan meningkat di bulan-bulan mendatang.
(Selengkapnya...)
05 Maret 2008
Inflasi Menggigit, Cina Tingkatkan Inisiatif
16.36 WIB
Inflasi dan overheating ekonomi adalah ancaman utama bagi pertumbuhan ekonomi Cina sehingga untuk mengatasinya pemerintah perlu menurunkan tingkat pinjaman.
Kontrol di sektor keuangan perlu diperketat dan cepatnya pertumbuhan yang cenderung berlebihan seharusnya mulai diredakan, berdasarkan laporan tahunan Perdana Menteri Wen Jiaobao dihadapan kongres Cina hari ini.
Suku bunga sudah berada pada level tertingginya dalam sembilan tahun terakhir, sementara upaya menaikkan persyaratan cadangan dana di bank-bank terbukti gagal menghentikan inflasi dari percepatannya. Cina perlu menekan harga tanpa memicu pelambatan tajam setelah permintaan terhadap ekspor dari AS menurun.
Para pengambil kebijakan / regulator terjepit antara resiko overheating dan menurunnya permintaan dari luar yang berdampak pada lemahnya ekspor dan memukul sektor ketenagakerjaan.
Ketidakjelasan dan potensi resiko di lingkungan ekonomi internasional meningkat, salah satunya efek dari krisis subprime mortgage AS.
Pemerintahan Jiaobao menegaskan target pertumbuhan sebesar 8 persen tahun ini, tidak berubah dibanding tahun lalu dan sejalan dengan sasaran sebesar 7-8 persen satu dekade lalu. Ekonomi Cina tumbuh sebesar 11,4 persen di 2007, level tercepat dalam 13 tahun terakhir.
Rate pinjaman dan deposito Cina saat ini sebesar 7,47 persen dan 4,14 persen. Bank diminta menyisihkan 15 persen dari depositonya untuk dijadikan cadangan. Pemerintah juga memangkas tingkat pinjaman dengan memberi perintah langsung kepada perbankan.
Hal ini merupakan pertanda bank sentral akan menaikkan suku bunga untuk tujuh kalinya dalam satu tahun terakhir.
Kenaikan suku bunga diharapkan dapat membantu menjinakkan inflasi. Cina sendiri rencananya akan menekan tingkat inflasi pada 4,8 persen sama seperti 2007 lalu, dan berusaha mencegah pergantian menjadi “overheating dari pertumbuhan yang relatif cepat”.
Inflasi yang berada pada 7,1 persen adalah konsekuensi dari lonjakan harga makanan dan bahan bakar. Kenaikan harga makanan di Cina telah memukul 300 juta orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Untuk mengatasi masalah itu, pemerintah telah memerintahkan pengorntrolan terhadap harga bahan pokok seperti daging, telur dan mie.
Cina juga akan meningkatkan kesejahteraan dengan menaikkan upah untuk melindungi masyarakat miskin dari efek lonjakan ongkos makanan. Pemerintah pusat akan meningkatkan anggaran belanja untuk sektor perkebunan dan pertanian sebesar 31 persen di tahun 2008, sehingga pendapatan masyarakat daerah pinggiran dapat meningkat.
Saat ini Cina berusaha meningkatkan konsumsi dan mengurangi ketergantungan akan investasi dan pertumbuhan ekspor. Pemerintah Cina sebenarnya memiliki dana ekstra yang cukup besar untuk mengatur ekonomi jika diperlukan.
Pendapatan dari pajak berada pada 16,4 persen atau 724 milyar yuan lebih tinggi dibanding target tahun lalu, dan tahun ini pun diperkirakan akan naik lagi.
Cina akan mempertahankan kebijakan pengetatan moneter, menggunakan persyaratan cadangan dan penjualan uang (bill) untuk medongkrak pendapatan tunai, pengelolaan suku bunga dengan tepat serta meningkatkan fleksibilitas yuan.
Wang sendiri tidak memperkirakan akan ada kenaikan suku bunga tahun ini, namun hal tersebut merupakan "pilihan yang tidak mungkin dihindari".
Pemerintah pusat hari ini memperkirakan defisit anggatan sebesar 180 milyar yuan, menyempit dibanding gap tahun lalu sebesar 200 milyar.
(Selengkapnya...)
Inflasi Melonjak, ECB Akan Pertahankan Rate?
16.22 WIB
Lonjakan inflasi tahunan zona euro bulan lalu akan membuat ECB mempertahankan suku bunganya minggu ini, meski mendapat desakan dari politisi untuk menurunkannya.
ECB akan mengadakan rapat regulernya Kamis nanti untuk menentukan suku bunga, yang terus dipertahankannya di 4% sejak Juni tahun lalu.
ECB tentu saja menghadapi dilema, di satu sisi inflasi terus melebihi targetnya, di sisi lain pertumbuhan melambat. Indeks Harga Konsumen (CPI) tahunan zona euro naik 3,2% di Februari dan indeks Harga Produsen (PPI) tahunan naik 4,9%. Sedangkan pertumbuhan PDB tahunan melambat jadi 2,2% dari 2,3% kuartal keempat tahun lalu.
Kenaikan inflasi disebabkan oleh meroketnya harga makanan dan energi. ECB ingin menekan inflasi di bawah 2% namun tetap menghindari menaikkan suku bunga untuk meredam kenaikan harga, terutama pada saat pertumbuhan melambat.
Belum lagi penguatan euro terhadap dollar AS yang menembus level psikologis $1.50, Euro terus terapresiasi terhadap greenback setelah the Fed memberi sinyal jelas akan memangkas suku bunganya lagi untuk membantu ekonomi AS yang sedang kembang kempis.
Penguatan euro itu jelas membuat para pejabat pemerintahan dan eksportir berada dalam kondisi siaga. Dalam pertemuan di Brussel, para menteri keuangan zona euro menyatakan kekhawatiran mereka mengenai dampak penguatan euro terhadap ekonomi. Mulai dari Ketua Euro Group Jean-Claude Juncker sampai menteri Keuangan Perancis Christine Lagarde mengatakan sangat cemas dengan penguatan mata uang tunggal Eropa itu.
Bahkan Direktur IMF Dominique Strauss-Kahn menuduh ECB tidak melakukan upaya yang cukup untuk meredam penguatan euro. Ia memuji ECB dalam mengendalikan inflasi, namun ia melihat bank sentral itu kurang memperhatikan pertumbuhan.
Sedangkan angota Dewan Gubernur ECB Guy Quaden mengatakan bahwa penguatan euro terhadap dollar AS justru terjadi karena kinerja ekonomi Eropa.
Meski berbagai tekanan terus datang, sepertinya ECB akan teguh pada posisinya, yaitu mempertahankan stabilitas harga. Oleh karena itu, kecil kemungkinan bank sentral itu akan memangkas rate-nya.
(Selengkapnya...)
Laporan Pasar: 5 Maret 2008 (15.36 WIB)
15.36 WIB
Gambaran umum pasar hari ini berada dalam fase konsolidasi. Pelaku pasar memusatkan perhatian mereka pada data service yang akan dirilis. Data PMI Service Eurozone diperkirakan tidak berubah di 52,3 untuk bulan Februari, sedangkan data PMI Service Jerman mengalami perbaikan dari 49,2 ke 50,9. Data retail sales untuk Eurozone juga diperkirakan mengalami peningkatan dari -0,1% (MoM) menjadi +0,4% (MoM), -2,0% (YoY) menjadi +0,1% (YoY) untuk bulan Januari. Sementara Euro berada dalam kondisi sideway setelah mencetak rekor tertingginya yang baru terhadap USD dan Sterling, kelihatannya data yang kuat hari ini bisa memicu rally yang panjang.
Dari UK, data PMI Service diperkirakan akan sedikit mengalami penurunan dari 52,5 menjadi 52,1. Sementara itu, data Nationwide Consumer Confidence semakin memburuk dari 81 ke 78 untuk bulan Februari. Sentimen pasar terhadap Sterling tetap melemah seiring dengan pelemahan pound terhadap USD pada pembukaan sesi Eropa, dan kelihatannya sterling akan terus melemah terhadap mata uang utama yang lain.
Dari Amerika Serikat, data ISM Non-manufacturing diperkirakan sedikit mengalami recovery untuk data bulan Februari. Kejatuhan yang tajam di bulan Januari (ke 44,6) merupakan “bencana” yang cukup parah. Perlu diwaspadai bahwa walaupun data ISM Non-manufacturing yang akan dirilis hari ini akan diperkirakan menguat ke 47, data tersebut masih belum bisa mengatasi kontraksi ekonomi.
Fokus pasar lainnya adalah ADP Employment Report yang dianggap sebagai preview dari Non-farm Payroll. Laporan yang dikeluarkan oleh badan swasta ini mengisyaratkan bahwa pertumbuhan lapangan pekerjaan hanya sebesar 20k.
Data lain yang akan dirilis hari ini adalah Factory Orders US yang diperkirakan akan jatuh menjadi -2,5% di bulan Januari. Data Productivity dan Labor Cost di kuartal ke-4 2007 diramalkan tidak mengalami perubahan (1,8% dan 2,1%). Fed juga akan mengumumkan Beige Book hari ini.
Dari negeri kangguru, koreksi Aussie terus berlanjut hari ini setelah data GDP kuartal ke-4 tahun 2007 dirilis melemah dari 1,0% menjadi 0,6% (QoQ), dan dari 4,3% menjadi 3,9% (YoY). Asisten Gubernur RBA, Edey, mengatakan bahwa pertumbuhan akan berkurang secara signifikan disebabkan oleh beberapa faktor seperti tingkat suku bunga yang tinggi, pengetatan kredit dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Walaupun demikian, pasar telah meredam ekspektasi akan kenaikan suku bunga Australia di bulan April dikarenakan pernyataan RBA kemarin yang dianggap kurang hawkish, disertai sentimen pasar yang bullish terhadap Aussie. Hal ini membuat pasar sedikit mengalami “cool down” walaupun up trend yang terjadi baru-baru ini masih diperkirakan berlanjut cepat atau lambat.
(Selengkapnya...)
04 Maret 2008
Dapatkah Bush & Bernanke Selamatkan Ekonomi AS?
21.13 WIB
Ekonomi AS semakin terpuruk, di mana pertumbuhan melambat, namun inflasi terus menanjak. Sektor perumahan makin merana, ditambah dengan krisis kredit. Mampukah Bush dan Bernanke menyelamatkannya?
Kepercayaan warga AS terhadap kekuatan ekonomi negaranya terus menurun. Hasil survei CNN baru-baru ini menunjukkan 57% warga berpendapat resesi sudah terjadi.
Baik Bush maupun Bernanke mengakui ekonomi AS sedang menghadapi tantangan berat.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih kemarin, Bush menegaskan bahwa AS tidak sedang menuju resesi, seperti yang ia katakan tiga hari sebelumnya dalam wawancara radio.
Secara terpisah, Bernanke, dalam kesaksian di hadapan Senat, menampik bahwa AS akan terjerumus ke stagflasi, yaitu kombinasi pertumbuhan stagnan dan inflasi tinggi.
Bagaimanapun, laporan ekonomi terus menunjukkan suramnya kondisi ekonomi negara adidaya itu dan meningkatkan kecemasan konsumen dan pasar mengenai prospek ke depan.
PDB AS hanya tumbuh 0,6% di kuartal keempat 2007, jauh dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 4,9%. Jumlah orang yang mengajukan tunjangan pengangguran meningkat 19.000. Selain itu, kenaikan inflasi menekan pembelajaan konsumen dan sentimen bisnis jatuh ke level terendah dalam enam tahun terakhir.
Paket stimulus dan pemangkasan suku bunga agresif
Bush dan Bernanke telah mengambil langkah untuk membantu ekonomi. Bush melalui paket stimulus ekonominya, Bernanke dengan pemangkasan suku bunga agresif.
Tapi apakah paket stimulus dan pemangkasan suku bunga akan mendorong ekonomi?
Paket stimulus, yang berbentuk pengembalian pajak sebesar $600 sampai $1,200, dikhawatirkan tidak dapat mencegah resesi, namun hanya menundanya. Menghamburkan uang tidak menyelesaikan krisis ekonomi, tapi justru memperumit.
Dalam sebuah jajak pendapat, mengenai apa yang akan dilakukan konsumen dengan uang yang didapat dari pengembalian pajak, sebagian besar menjawab untuk membayar tagihan dan pinjaman. Sedikit yang mengatakan untuk berbelanja.
Artinya, pengembalian pajak, secara tidak langsung, hanya akan masuk ke kas bank dan perusahaan kartu kredit. Di sisi lain, kredit semakin ketat, dimana institusi keuangan tersebut enggan memberikan pinjaman.
Sedangkan pemangkasan suku bunga, sejauh ini belum membantu pasar keuangan atau ekonomi. Langkah tersebut justru mendorong ekspektasi inflasi. Hal itu ditandai dengan kenaikan harga emas yang mendekati level $1,000.
Kembali ke soal kredit, hasil survei the Fed yang diumumkan 4 Februari lalu menunjukkan bank memperketat pemberian kredit.
Para pejabat the Fed memperkirakan hal itu akan berlanjut, mempersulit bank sentral itu mendorong ekonomi melalui pemangkasan suku bunga.
Otoritas AS menghadapi perubahan struktural ekonomi, yang sulit diatasi hanya dengan pemangkasan suku bunga dan pengembalian pajak. Penting bagi mereka untuk merancang dan melaksanakan kebijakan anti-resesi, kebijakan yang mendorong pertumbuhan berbasis konsumen, sektor perumahan dan stabilisasi makroekonomi.
(Selengkapnya...)
Ekonomi Dunia Melambat (Masih) Dibayangi Inflasi Tinggi
18.59 WIB
Pertumbuhan ekonomi global selama Pebruari mengalami penurunan sementara bank-bank sentral dihantui ancaman inflasi tinggi.
Di zona euro, misalnya, sektor manufaktur melambat seperti di Spanyol dan Italia – yang terakhir ini justru menunjukkan tanda-tanda stagnasi.
Kegiatan pabrikan di China dan India yang terkenal sebagai mesin pertumbuhan ekonomi Asia juga melambat.
Inflasi di zona euro bulan lalu tercatat 3,2% atau tertinggi sejak 1997. Tekanan harga masih kental menekan euro. Karena itu, kecil kemungkinan bank-bank sentral Eropa berani menurunkan suku bunga setidaknya untuk beberapa bulan ke depan.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) yang dikeluarkan RBS/NTC untuk zona euro mencapai 52,3 sesuai perkiraan semula di atas 50,0.
Namun di AS, indeks yang dikeluarkan ISM justru turun dari 50,7 menjadi 48,0 selama Februari.
Di Inggris, perusahaan-perusahaan manufaktur terus menaikkan harga dengan tingkat yang tercepat sejak 1999. Ini memperkecil peluang Bank of England (BOE) memangkas suku bunga untuk sementara waktu.
Baik BOE maupun bank sentral Eropa (ECB) pada pertemuan pekan ini diperkirakan tidak akan menurunkan suku bunga untuk menjaga lonjakan inflasi.
Namun Bank of Canada (BOC) boleh jadi menurunkan suku bunga mengingat dampak kelesuan ekonomi AS di mana the Fed telah menurunkan suku bunga 2,25 poin basis (bps) sejak September.
Dalam pertemuan the Fed akhir bulan ini, diperkirakan akan ada lagi penurunan suku bunga hingga 0,75 poin.
PMI China yang dirilis CLSA anjlok menjadi 52,8 pada Pebruari disbanding 53,2 sebelumnya dipicu oleh bencana salju dan gangguan produksi.
Dampak kelesuan ekonomi juga terasa ke Asia. Indeks Nikkei, misalnya anjlok 4,5% sebagai reaksi atas Wall Street yang masih dihantui krisis kredit agunan properti AS.
Menurut Departemen Perdagangan AS, belanja konstruksi pada Januari terpuruk paling parah dalam 14 tahun terakhir. Banyak proyek-proyek infrastruktur yang dibatalkan mulai dari bangunan sampai ke jalan raya.
Krisis mortage masih menjadi ancaman terbesar ekonomi AS. Di Florida saja, 95 kredit agunan terancam pailit. Total di seluruh AS bisa mencapai 2.000.000 kasus untuk tahun ini dibanding hanya 650.000an kasus sebelumnya.
Jelaslah sudah bahwa selama ini ekonomi AS terlalu bertitik berat pada sektor perumahan dengan perbandingan satu mortgage membuka peluang pekerjaan untuk 10 buruh.
Baru kali ini dalam 30 tahun terakhir ekonomi AS bergantung pada sektor perumahan dan nilai properti ditaksir bakal menyusut hingga 26 persen dalam dua tahun ke depan.
(Selengkapnya...)
Swiss Berpangku Pada Konsumsi Sektor Swasta
18.56 WIB
Pertumbuhan ekonomi Swiss secara tak terduga berakselerasi ke level tercepatnya dalam dua tahun terakhir dikwartal keempat setelah banyak perusahaan dan rumah tangga meningkatkan belanjanya.
Gros Domestic Product, nilai dari semua barang-barang dan jasa, naik satu persen dibanding kwartal ketiga, ketika saat itu tumbuh 0,9 persen. ekonomi Swiss diperkirakan akan melambat menjadi 0,5 persen tahun ini.
Pertumbuhan ekonomi Swiss besar kemungkinan turun tahun ini karena pelambatan ekonomi dunia memukul permintaan akan ekspor sementara krisis sektor perumahan AS memangkas pendapatan di banyak bank termasuk UBS AG dan Credit Suisse. Konsumsi privat akan menjadi satu-satunya bahan bakar pertumbuhan ekonomi setelah ekspor dirasa sulit bangkit.
Konsumsi privat akan terus kuat karena lapangan kerja meningkat. Kontribusi sektor keuangan terhadap pertumbuhan akan menurun drastis dan beberapa bulan kedepan akan terjadi pelambatan yang cukup siknifikan.
Inflasi bertahan pada level tertingginya dalam 14 tahun terakhir pada 2,4 persen di Februari setelah penguatan franc sejak awal tahun ini tak mampu secara penuh meredakan lonjakan ongkos minyak dan harga makanan yang capai rekor.
Pertumbuhan ekonomi setahun penuh kemungkinan hanya 2 persen di 2008 setelah tumbuh 2,5 persen di 2007, walau perkiraan ini dirasa berlebihan mengingat pelambatan ekonomi di AS dan Eropa semakin dalam.
Eksportir pun akan mengalami kesulitan karena franc sejauh ini menguat 4,3 persen terhadap euro, hasilnya daya saing terkikis di Eropa yang membeli dua pertiga dari total produk Swiss yang dijual diluar negeri.
Swiss pun tidak bisa berharap banyak dari industri keuangan yang menyumbang sekitar 15 persen pada ekonomi, yang belakangan sempat mendorong pertumbuhan sampai 50 persen. Hal ini terjadi karena krisis sektor mortgage AS mengakibatkan ongkos pinjaman naik sehingga menurunkan pendapatan bank, dan bantuan sektor keuangan terhadap ekonomi pun akan menurun.
Melemahnya sektor perumahan AS masih belum berakhir dan krisis sektor perkreditan dunia pun belum menampakkan tanda-tanda penurunan. Banyak yang memperkirakan ekonomi dunia belum akan pulih total.
Namun, banyak perusahaan Swiss yang justru menambah pekerjanya setelah permintaan dalam negeri meningkatkan order. Permintaan terhadap pekerja, bersamaan dengan longgarnya undang-undang perburuhan dan imigrasi, telah menarik minat pencari kerja dari seluruh Eropa sehingga Swiss mampu mempertahankan pertumbuhan ekonominya.
Lebih dari 46.000 pekerja pindah ke Swiss di 2006, dipimpin 17.000 dari Herman dan 7.000 dari Portugis.
(Selengkapnya...)
RBA Putuskan Rehat Sejenak
18.54 WIB
Sesuai dugaan bank sentral Australia (RBA) menaikkan suku bunga untuk kedua kalinya dalam empat minggu terakhir dan menungkapkan bahwa daya beli konsumen dan bisnis menurun akibat tingginya bunga pinjaman.
Gubernur RBA, Glenn Stevens dan anggotanya menaikkan suku bunga seperempat poin menjadi 7,25 persen hari ini, setelah sebelumnya disesuaikan di Februari, Nopember dan Agustus untuk menahan laju inflasi.
Ongkos pinjaman telah naik sejak pertengahan 2007 yang mengakibatkan aussie tergelincir sementara investor memperkirakan suku bunga tidak akan naik dalam waktu dekat. Kebijakan Australia menaikkan suku bunga sungguh kontras dengan AS, Kanada dan Inggris yang justru memangkas suku bunga agar ekonomi berakselerasi setelah mendapat tekanan dari pelembatan ekonomi dunia dan krisis kredit macet.
Bank sentral sudah berbuat banyak dan saat ini akan bersikap “wait and see” untuk melihat kondisi berikutnya.
Berkaca pada pernyataan bank sentral hari ini, pelaku pasar membalik prospek suku bunga dan probabilitas pemangkasan sebesar seperempat poin dalam 12 bulan kedepan turun menjadi 32 persen dari sebelumnya 84 persen di minggu lalu.
Secara keseluruhan kebijakan yang telah dilakukan bank sentral disambut baik dan moderasi mulai menampakkan hasil contohnya pemintaan untuk sektor perumahan.
Kenaikan suku bunga bulan ini merupakan yang kedua belas kalinya sejak Mei 2002, dimana biaya pinjaman berada pada 4,25 persen dan semakin memperlebar gap suku bunga antara AS dan Australia menjadi 4,25 persentase poin.
Berdasarkan informasi yang tersedia berkaitan dengan ekonomi dunia dan dalam negeri, dewan bank sentral menyimpulkan kebijakan pengetatan ekonomi diperlukan untuk mengamankan level inflasi pada 2 sampai 3 persen untuk beberapa waktu kedepan.
Inflasi inti berakselerasi menjadi 3,8 persen dikwartal keempat.
Pertumbuhan ekonomi Australia yang sudah berlangsung 16 tahun lamanya, dipicu oleh ledakan ekspor sumber daya alam, yang akhirnya menekan tingkat pengangguran menjadi 4,1 persen, terendah sejak 1974, sementara kekurangan tenaga kerja menyebabkan tingkat upah dan inflasi naik.
Ekonomi Australia diperkirakan melambat menjadi 0,6 persen dikwartal keempat dibanding tiga bulan sebelumnya, ketika saat itu tumbuh 1 persen. dan secara keseluruhan tumbuh 3,8 persen dibanding tahun lalu.
Kenaikan suku bunga mengakibatkan beban pembeli rumah naik A$42 per bulan untuk rata-rata pinjaman pembelian rumah sebesar A$250.000.
Kenaikan inflasi sudah dua kwartal melampaui target bank sentral.
Bank sentral mengatakan inflasi saat ini cenderung masih tinggi di jangka pendek dan kemungkinan terus naik tahun ini sebelum akhirnya surut tahun depan.
Naiknya bahan bakar, makanan, biaya perumahan menambah tekanan inflasi, sementara defisit transaksi berjalan Australia melebar capai rekor pada A$19,35 miliar dikwartal keempat karena pembatasan transportasi menurunkan pengiriman/pengapalan komoditas keluar negeri.
(Selengkapnya...)
Australia Waspadai Suku Bunga Terlalu Tinggi
18.51 WIB
Penjualan ritel Australia secara mengejutkan terhenti di Januari sementara defisit transaksi berjalan melonjak capai rekor dikwartal terakhir. Berdasarkan hal tersebut kenaikan suku bunga hari ini kemungkinan adalah yang terakhir untuk sementara waktu.
The Reserve Bank of Australian (RBA) akan mengadakan rapat bulanan hari ini dan kecenderungan yang beredar, hampir pasti suku bunga akan dinaikkan 25 basis poin menjadi 7,25 persen, merupakan yang tertinggi sejak Juli 1996.
Namun, penjualan ritel yang hampir tidak bergerak sama sekali cukup mengejutkan analis yang sempat memperkirakan kenaikan sebesar 0,4 persen atau lebih. Kelihatannya konsumen harus mengencangkan ikat pinggangnya lebih awal bahkan sebelum ongkos bahan bakar dan pinjaman naik.
Flatnya penjualan ritel disebabkan naiknya suku bunga dan tingginya ongkis bahan bakar berdampak pada turunnya belanja barang-barang tumah tangga, makanan dan restoran.
Penjualan di restoran dan hotel drop 0,6 persen dibanding Desember dan penjualan barang-barang rumah tangga turun 0,5 persen. berbanding terbalik, penjualan barang-barang rekreasi justru naik 3,4 persen dan penjualan di pusat perbelanjaan naik 18, persen.
Consumer confidence tergelincir ke level terendanya dalam 15 bulan terakhir setelah pasar saham melemah dan Bank Sentral menaikkan suku bunga pinjaman.
Sejatinya belanja dalam negeri sangat rentan terhadap tingginya suku bunga, sehingga RBA diharapkan tidak gegabah dan berlebihan saat menetapkan kebijakan nanti.
Ini merupakan bulan kedua secara berturut-turut penjualan ritel melambat teratur dan sepertinya efek tingginya suku bunga mulai menggerogoti sektor penjualan walau pelemahan terkonsentrasi hanya disektor makanan sementara penjualan dipusat perbelanjaan dan rekreasi cukup baik.
Memang tidak sepenuhnya penurunan permintaan itu berarti buruk karena hal tersebut juga merupakan bagian dari rencana bank sentral untuk menurunkan inflasi, yang sempat berakselerasi capai level tertingginya dalam 16 tahun terakhir.
Permintaan sempat capai level terkuatnya dikwartal keempat dan akibatnya impor melonjak, dan dapat dipastikan berdampak pada defisit transaksi berjalan, yang saat itu capai rekor 18 persen menjadi A$19,35 miliar.
Prospek defisit transaksi perdagangan cukup cerah dimasa depan karena ekspektasi tingginya kenaikan harga biji besi dan batu bara, dua ekspor bernilai tinggi Australia.
Departemen pertanian memperkirakan pendapatan dari ekspor sektor komoditas akan melonjak hampir sepertiga tahun ini sampai 2009, tembus rekor sebesar A$189 miliar.
Secara keseluruhan data ekonomi yang rilis hari ini cukup baik dengan catatan bahwa permintaan perlu dipelankan dan bank sentral dapat memfokuskan diri pada data yang akan rilis berikutnya.
Awal hari ini Perdana Menteri Australia Kevin Rudd mengancam bank-bank besar di Australia jelang perkiraan kenaikan suku bunga, bahwa dia akan mengambil tindakan serius jika suku bunga dinaikkan terlalu besar.
Dia mengingatkan setiap kemungkinan tindakan anti-aktifitas kompetisi akan mendapat pengawasan dari Australian Competition and Consumer Commission (ACCC).
Mr. Rudd juga telah mempersiapkan langkah-langkah lanjutan jika bank-bank menaikkan suku bunga pinjaman pembelian rumah lebih besar dari perkiraan yaitu seperempat persentase poin. Dia akan terus berkomunikasi dengan ACCC, komisi pengawas persaingan untuk mendapat saran.
(Selengkapnya...)
Perang Irak Kuras Anggaran AS
18.48 WIB
Perang Irak memiliki kontribusi tersendiri terhadap pelambatan ekonomi dan biang tertundanya pemulihan ekonomi AS.
Washington terlalu meremehkan ongkos yang akan mereka keluarkan untuk perang tersebut yang diperkirakan memakan sekitar tiga triliunan dolar.
Pemerintah memperkirakan biaya perang akan tertutupi dengan sendirinya seiring meningkatnya ekspor minyak Irak yang tentunya diharapkan berada dibawah kendali AS. Perang yang berlangsung selama 5 tahun itu menyebabkan departemen keuangan merugi $845 miliar secara langsung.
Pada awalnya banyak pihak mengatakan perang baik untuk ekonomi, tapi saat ini tidak satupun ekonom yang yakin benar akan hal itu.
Seorang ekonom AS mengatakan ongkos sebenarnya perang Iran paling kurang $3 triliun dan bisa saja melampaui ongkos perang dunia kedua, yang memakan $5 triliun setelah disesuaikan dengan tingkat inflasi saat itu.
Biaya langsung yang disebutkan diatas belum termasuk bunga utang yang sempat membengkak, ongkos perawatan kesehatan untuk veteran yang pulang dari perang, dan penggunaan dana untuk mengganti perangkat keras yang rusak dan menurunnya kapasitas operasional akibat perang.
Sebagai tambahannya, ada biaya yang tidak dimasukkan kedalam anggaran diantaranya kenaikan harga minyak dan biaya sosial dan makroekonomi.
Dana perang Irak itu seharusnya dapat digunakan disektor-sektor sensitif diantaranya, $108 juta untuk riset penyakit autis yang akhirnya dihabiskan selama berjam-jam di Irak. Trilyunan dolar seharusnya dapat digunakan untuk tambahan guru disekolah-sekolah negeri atau memberikan besiswa kepada 43 juta murid agar mampu kuliah di universitas negeri.
Disaat Amerika menyadari bahwa mereka telah kehabisan uang, the Fed sebagai juru selamat justru membanjiri ekonomi dengan likuiditas. The Fed pun dianggap tidak fokus pada permasalahan yang sebenarnya. Alih-alih mengatasi inflasi, ekonomi justru amblas.
Ironis ketika pemerintah AS berbondong-bondong meminta tolong kepada insitusi-institusi keuangan Timur Tengah untuk mendapat suntikan modal setelah dalam kurun waktu 30 tahun membuat rakyat didaerah tersebut menderita akibat perang.
Alasannya cukup jelas, disaat perang berkecamuk, harga minyak menjadi naik. Perang membuat Amerika harus berhutang lebih banyak. Sementara AS sendiri tidak memiliki sumber dana yang cukup untuk membiayai hal tersebut, satu-satunya sumber dana cair berada di Timur Tengah.
Perang Irak terbukti mempengaruhi besaran dana paket stimulus ekonomi senilai $168 miliar yang baru-baru ini dielu-elukan Bush. Pemerintah tidak memiliki cukup dana setelah $16 miliar dibelanjakan di Iran dan Afghanistan per bulannya.
Pemerintahan Bush jelas-jelas berbohong kepada rakyatnya dengan menyembunyikan biaya-biaya yang seharusnya secara rinci dilaporkan. Yang paling menyedihkan adalah saat jumlah korban perang Irak dimanipulasi. Pejabat Pentagon melaporkan 30.000 orang terluka saat perang dan sama sekali tidak melaporkan 40.000 lainnya yang merupakan tenaga sukarelawan yang memang tidak berperang tapi mengalami sakit dan luka-luka.
(Selengkapnya...)
03 Maret 2008
USD Masih Belum Bisa Menggeliat Terhadap Euro
16.51 WIB
USD ternyata masih belum mampu menggeliat terhadap supremasi euro. Malah, posisi USD sekarang ini merosot tajam dan dekati rekor terendah terhadap mata uang benua biru itu.
Konsumsi mencatat kenaikan sebesar 0.4% bulan lalu, namun kenaikan itu disebabkan oleh faktor inflasi, sehingga secara garis besar, konsumsi dalam dua bulan berturut-turut masih mengalami angka defisit.
Sementara itu, angka inflasi PCE tahunan meningkat sebesar 2.2%, lebih tinggi dari asumsi “wilayah nyaman” yang dibuat oleh bank sentral Amerika Serikat yaitu sebesar 1.5-2 %.
Hal demikian mengundang komentar Nigel Gault, seorang ekonom dari lembaga riset Global Insight yang mengatakan bahwa inflasi bukanlah sebagai kendala terhadap kebijakan pemotongan suku bunga yang masih tetap akan diambil oleh bank sentral, karena bank sentral sangat berharap akan melambannya inflasi dikarenakan kondisi ekonomi secara umum melemah dan penghematan sedang dilakukan mayoritas warga negara Paman Sam itu.
Bernanke telah menyatakan dengan jelas bahwa ekonomi negara itu masih suram dimana pertumbuhan masih dihadapkan pada hantu inflasi sehingga otoritas moneter yang ia pimpin akan kembali melakukan pemotongan suku bunga bulan ini.
Senada dengan pernyataan Bernanke, PMI Chicago indicator juga menunjukkan catatan yang kurang menggembirakan dimana telah terjadi penurunan sebesar 50.0 dari angka 51.5 pada periode sebelumnya menjadi 44.5.
Catatan tersebut semakin memperkuat bahwa sebenarnya negara asal musik blues itu telah sedang mengalami resesi yang ditandai dengan semakin terpuruknya nilai mata uang negara itu.
Sementara itu, berbeda dengan posisi USD terkini, nilai mata uang yen dan franch Swiss justeru semakin menguat belakangan. Posisi kedua mata uang itu justeru diuntungkan dengan kondisi Amerika Serikat dan global umumnya dimana beberapa sektor mngalami keterpurukan seperti sektor kredit dan obligasi, kesulitan bank-bank soal kecukupan modal dan menggelembungnya pasaran properti.
Sementara itu nilai mata uang favorit lainnya, GBP juga masih dianggap stabil dan masih jauh diatas USD walaupun ekonomi di negara Ratu Elizabeth tersebut belakangan berbanding terbalik dan juga sedang dihantui kepanikan akan tekanan inflasi dimana public spending mengalami penurunan signifikan.
Namun demikian, otoritas di negara itu masih belum akan mengikuti langkah bank sentral Amerika Serikat yang memutuskan untuk memotong suku bunganya.
Seperti diketahui, ekonomi Inggris mengalami perlambatan dan menurut data terbaru harga perumahan mencatat penurunan sebesar -0.5% di bulan Februari kemarin.
(Selengkapnya...)
Badai Belum Berlalu Dari Korea Selatan
16.49 WIB
Nilai won kembali melemah terhadap USD saat perdagangan sesi pagi Senin ini karena umumya investor cenderung untuk membeli saham-saham greenback untuk menghindari kerugian. Kalangan investor juga lebih memilih USD karena pasar saham Korea sedang mengalami defisit berkelanjutan dalam tga minggu terakhir ini.
Won diperdagangkan atas USD senilai 944.4 per USD, yang brarti mengalami pelemahan sebesar 0.6% ketimbang pada sesi penutupan Jumat lalu.
Sementara KOSPI Index juga setali tiga uang dimana saham-saham yan diperdagangkan berguguran. KOSPI jatuh senilai 51.62 point atau sebesar 3% pada 1.660 mengikuti kejatuhan yang dialami Wall Street karena kondisi ekonomi global yang masih dinaungi awan mendung.
Ekonomi Korea Selatan belum juga membaik walaupun belakangan ini telah terjadi suksesi di negara itu yang sempat diharapkan kalangan pebisnis akan adanya perbaikan ekonomi di negara ginseng itu.
Namun apa yang terjadi selama bulan Februari kemarin dmana ekonomi masih mengalami defisist sebesar US$800 juta yang lebih banyak disebabkan oleh besarnya harga minyak dunia sehingga konsumsi terhadap bahan bakar itu menyumbang banyak terhadap defisit yang terjadi sepanjang bulan lalu.
Kalangan industri dan pemerintah sangat mengeluhkan kenaikan harga minyak bumi tersebut yang telah menggelembungkan ongkos produksi yang belum dapat diimbangi oleh kenaikan permintaan yang menyebabkan negara itu masih harus "menikmati badai defisit" yang cukup besar peride Februari kemarin.
(Selengkapnya...)
Rapat OPEC Kemungkinan Tidak Akan Putuskan Penetapan Quota Produksi Baru
16.47 WIB
Rapat OPEC yang dijadwalkan minggu depan di Wina, Austria, besar kemungkinan tidak akan memutuskan soal penentuan jumlah quota baru namun akan tetap memberlakukan jumlah quota yang telah ada.
Opec sekarang sangat diharapkan untuk menentukan penambahan quota baru mengingat tingginya harga minyak di pasaran internasional sekarang yang sangat terasa efeknya bagi perekonomian global.
Bahkan, menyangkut hal yang sama, Presiden Amerika Serikat, George Bush telah mencoba bernegosiasi dengan negara-negara teluk yang mendominasi keanggotaan OPEC dengan melawat ke beberapa negara di Timur Tengah itu belum lama berselang.
Amerika Serikat dikenal adalah negara terbesar yang paling konsumtif dalam pemakaian minyak bumi mengingat besarnya volume kebutuhan industri di negara itu, sementara pasokan lokal tidak mencukupi. Dengan semakin tingginya hrga minyak di pasaran, tentu saja sangat berpengaruh terhadap kinerja ekonomi di negara itu, apalagi sekarang ini, negara Paman Sam itu sedang dlanda kelesuan yang telah memaksa bank sentral di negara itu untuk memotong suku bunganya hingga beberapa kali.
Kemungkinan tidak akan adanya penambahan quota baru tersebut disamapaikan oleh kepala delegasi Libya, Shokri Ghanem setibanya di Wina, Austria. Dia juga menjelaskan bahwa OPEC masih menunggu rilisan terbaru dari ECB mengenai performa ekonomi dunia saat ini.
Salah satu agenda pertemuan OPEC kali ini membahas mengenai masalah yang dihadapi salah satu anggota OPEC, Venezuela yang sedang menghadapi masalah dengan perusahaan minyak Amerika Serikat, ExxonMobil mengenai rencana pemerintah Venezuela untu menerapkan kebijakan untuk re-nasionalisasi terhadap setiap perusahaan yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan asing di negara itu.
Ghanem menambahkan agenda pertemuan itu karena pemerintah Venezuela telah meminta agar para negara OPEC untuk ikut serta dalam membahas dan mendukung rencna negara itu.
(Selengkapnya...)