World Clock

Economic Calendar (Waktu Dalam GMT-5)

21 Maret 2008

Berakhirkah Kedigdayaan Ekonomi Uncle Sam?

11.15 WIB

Krisis ekonomi berkepanjangan yang melanda AS memaksa the Fed memangkas suku bunga untuk keenam kalinya pagi ini. Walau tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, pemotongan sebesar 0,75 basis poin menjadi 2,25 persen itu diharapkan dapat membangkitkan ekonomi yang sudah terpuruk dan memulihkan kepercayaan pada sistem keuangan AS.

Pemangkasan suku bunga kali ini merupakan yang terbesar dalam satu hari dalam satu dekade terakhir. Sebelumnya banyak investor memperkirakan the Fed akan memangkas sampai satu persentase poin penuh setelah muncul bukti kuat bahwa resesi telah mulai dan krisis di Wall Street makin akut.

Sepertinya terjadi silang pendapat diantara anggota-anggota the Fed, oleh karena itu mereka membuka peluang akan adanya pemangkasan lanjutan beberapa bulan kedepan.

Reaksi pasar bervariasi setelah suku bunga resmi dipangkas namun berhasil menggenjot harga saham dibursa sampai akhir perdagangan. Ralli pertama kali terjadi diawal perdagangan ketika dua perusahaan investasi raksasa AS, Goldman Sachs dan Lehman Brothers melaporkan keuntungan yang melebihi perkiraan dan meyakinkan investor bahwa mereka memiliki modal yang cukup.

Saham-saham sempat melemah sebelum akhirnya kembali menguat sampai akhir sesi. Down Jones industrial average ditutup menguat 420 poin atau 3,51 persen menjadi 12.392,66.

Keputusan memangkas suku bunga semakin menguatkan bahwa silang pendapat meruncing tentang bagaimana memulihkan ekonomi dari keterpurukan sementara disaat yang sama mengendalikan tekanan inflasi, yang dibuktikan oleh jatuhnya nilai dolar dan harga-harga mulai dari energi sampai makanan.

Ketua the Fed, Ben S. Bernanke sendiri cenderung ingin membangkitkan ekonomi, ini terlihat dari dua kebijakannya yaitu menurunkan suku bunga dan memunculkan program pinjaman darurat kepada perbankan dan perusahaan-perusahaan investasi.

Bernanke dan sekutunya telah mengetahui kalau harga-harga konsumen naik cepat dari perkiraan, namun mereka memperkirakan tekanan inflasi akan reda seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Pemerintahan Bush sendiri tidak luput dari cercaan, Bush dikutuk karena terlalu lamban merespon krisis yang terjadi dan lebih memilih menjamin perbankan dan perusahaan investasi ketimbang membantu pemilik rumah yang mengalami gagal bayar.

Bush pun dinilai terlalu mengumbar cerita bohong dan tidak realistis melihat kenyataan bahwa ekonomi AS sudah terpuruk.

Keyakinan investor memburuk dan diperparah dengan enggannya perbankan memberi pinjaman atau mengambil resiko karena takut kasus kredit macet terulang kembali.

Mortagage lending masih akan melemah dan capai level terendah dalam delapan tahun terakhir tahun ini sementara harga-harga rumah akan terus turun. Meningkatnya penyitaan membuat rumah yang tidak terjual menumpuk. Harga rumah di 20 daerah metropolitan AS turun tajam di Desember. indeks harga rumah drop 9,1 persen di Desember.

Hal paling ironis yang terjadi setelah pemerintah AS memperkirakan defisit anggaran federal senilai $410 miliar tahun ini, pertanda tingkat simpanan AS dekati nol. Sehingga AS harus meminjam dana dari luar negeri untuk membiayai belanja dalam negeri. Pinjaman luar negeri digunakan untuk membayar gaji pegawai pemerintah bahkan Presiden sendiri.

Dolar juga mendapat tekanan tidak hanya dari defisit anggaran tapi juga dari besarnya defisit perdagangan dan ekspektasi inflasi setelah the Fed berupaya menstabilkan sistem keuangan yang sudah payah melalui suntikan dana segar yang cukup besar.

Mata uang dan sistem keuangan bermasalah dan besarnya defisit anggaran dan perdagangan sepertinya tidak menarik kreditur. AS pun tidak selalu bisa bergantung pada China, Jepang dan Arab Saudi untuk mendanai perputaran ekonominya. Bayangkan jika suatu saat lelang obligasi Treasury AS tidak berjalan sesuai rencana.

Pemerintah AS sepertinya tutup mata terhadap kondisi buruk yang terjadi saat ini, mereka berusaha meyakinkan masyarakat bahwa krisis ini hanya sesaat dan akan segera membaik namun angka-angka dan data-data ekonomi yang rilis membuat masyarakat semakin cemas.