World Clock

Economic Calendar (Waktu Dalam GMT-5)

24 Maret 2008

The Greenback: Kembali Perkasa?

13.22 WIB

Minggu lalu; setelah mencetak rekor terlemah terhadap Euro dan Swissy, dan melemah hingga 95.77 terhadap yen; the greenback mengalami rebound dan ditutup menguat. Pemotongan suku bunga the Fed sebesar 75 bps (lebih kecil daripada yan diperkirakan oleh pasar) memegang perana penting dalam skenario penguatan dolar tersebut. Akan tetapi, tidak kalah pentingnya adalah jatuhnya harga emas sebesar 11% dari rekor tertingginya di level 1032/oz, serta turunnya harga minyak mentah sebesar lebih dari $13. Kedua faktor tersebut juga ikut serta memberi pengaruh yang signifikan terhadap penguatan dolar.

Sementara itu, meskipun terlihat volatilitas yang cukup ekstrim pada pergerakan yen; menyusul pergerakan yang hebat pada pasar modal; minggu lalu mata uang negeri sakura itu tetap ditutup menguat terhadap beberapa mata uang utama dunia selain USD.
Pasar finansial dunia terkesan “gugup” sepanjang awal perdagangan minggu lalu, menyusul pemotongan darurat terhadap suku bunga diskonto sebesar 25 bps yang dilakukan oleh the Fed dan penjualan Bear Sterns ke JPMorgan Chase.

Fed kelihatannya sangat menaruh perhatian terhadap masalah kredit yang semakin menjadi. Pasar memperkirakan pemotongan suku bunga sebesar 100 bps oleh Fed, namun ternyata Fed hanya memotong suku bunganya sebesar 75 bps menjadi 2,25%. Harga saham dan dolar mengalami rebound sejak saat itu, dan penguatan itu dipertegas lagi oleh laporan per kuartal dari Lehman Brothers dan Goldman Sachs yang bagus.

Keputusan pemotongan suku bunga Fed tersebut bukanlah merupakan keputusan bulat, di mana ada dua anggota FOMC yaitu Plosser dan Fisher lebih memilih untuk “tidak terlalu agresif”. Dalam pernyataannya, Fed menyatakan bahwa aktivitas perekonomian telah “semakin melemah”, diiringi pelambatan dalam consumer spending dan pelemahan pasar tenaga kerja.

Pasar finansial masih berada “di bawah tekanan”. Kondisi kredit yang sedemikian ketat dan kontraksi di pasar perumahan yang semakin buruk kelihatannya akakn semakin menekan laju roda ekonomi untuk beberapa kuartal ke depan. Namun the Fed berpendapat bahwa kebijakan moneter yang mereka lakukan seharusnya bisa membantu pertumbuhan ekonomi yang “cukup baik” seiring waktu serta “mengurangi resiko” terhadap aktivitas perekonomian.

Akan tetapi lagi-lagi the Fed menyadari bahwa “resiko” tersebut masih tetap ada. Resiko inflasi masih terlihat meninggi, namun para anggota FOMC memperkirakan bahwa inflasi masih akan “cukup lunak” untuk kuartal yang akan datang. Ketidakpastian akan hal ini mengharuskan the Fed untuk terus memonitor pertumbuhan inflasi dengan sangat hati-hati.