18.48 WIB
Perang Irak memiliki kontribusi tersendiri terhadap pelambatan ekonomi dan biang tertundanya pemulihan ekonomi AS.
Washington terlalu meremehkan ongkos yang akan mereka keluarkan untuk perang tersebut yang diperkirakan memakan sekitar tiga triliunan dolar.
Pemerintah memperkirakan biaya perang akan tertutupi dengan sendirinya seiring meningkatnya ekspor minyak Irak yang tentunya diharapkan berada dibawah kendali AS. Perang yang berlangsung selama 5 tahun itu menyebabkan departemen keuangan merugi $845 miliar secara langsung.
Pada awalnya banyak pihak mengatakan perang baik untuk ekonomi, tapi saat ini tidak satupun ekonom yang yakin benar akan hal itu.
Seorang ekonom AS mengatakan ongkos sebenarnya perang Iran paling kurang $3 triliun dan bisa saja melampaui ongkos perang dunia kedua, yang memakan $5 triliun setelah disesuaikan dengan tingkat inflasi saat itu.
Biaya langsung yang disebutkan diatas belum termasuk bunga utang yang sempat membengkak, ongkos perawatan kesehatan untuk veteran yang pulang dari perang, dan penggunaan dana untuk mengganti perangkat keras yang rusak dan menurunnya kapasitas operasional akibat perang.
Sebagai tambahannya, ada biaya yang tidak dimasukkan kedalam anggaran diantaranya kenaikan harga minyak dan biaya sosial dan makroekonomi.
Dana perang Irak itu seharusnya dapat digunakan disektor-sektor sensitif diantaranya, $108 juta untuk riset penyakit autis yang akhirnya dihabiskan selama berjam-jam di Irak. Trilyunan dolar seharusnya dapat digunakan untuk tambahan guru disekolah-sekolah negeri atau memberikan besiswa kepada 43 juta murid agar mampu kuliah di universitas negeri.
Disaat Amerika menyadari bahwa mereka telah kehabisan uang, the Fed sebagai juru selamat justru membanjiri ekonomi dengan likuiditas. The Fed pun dianggap tidak fokus pada permasalahan yang sebenarnya. Alih-alih mengatasi inflasi, ekonomi justru amblas.
Ironis ketika pemerintah AS berbondong-bondong meminta tolong kepada insitusi-institusi keuangan Timur Tengah untuk mendapat suntikan modal setelah dalam kurun waktu 30 tahun membuat rakyat didaerah tersebut menderita akibat perang.
Alasannya cukup jelas, disaat perang berkecamuk, harga minyak menjadi naik. Perang membuat Amerika harus berhutang lebih banyak. Sementara AS sendiri tidak memiliki sumber dana yang cukup untuk membiayai hal tersebut, satu-satunya sumber dana cair berada di Timur Tengah.
Perang Irak terbukti mempengaruhi besaran dana paket stimulus ekonomi senilai $168 miliar yang baru-baru ini dielu-elukan Bush. Pemerintah tidak memiliki cukup dana setelah $16 miliar dibelanjakan di Iran dan Afghanistan per bulannya.
Pemerintahan Bush jelas-jelas berbohong kepada rakyatnya dengan menyembunyikan biaya-biaya yang seharusnya secara rinci dilaporkan. Yang paling menyedihkan adalah saat jumlah korban perang Irak dimanipulasi. Pejabat Pentagon melaporkan 30.000 orang terluka saat perang dan sama sekali tidak melaporkan 40.000 lainnya yang merupakan tenaga sukarelawan yang memang tidak berperang tapi mengalami sakit dan luka-luka.