16.47 WIB
Rapat OPEC yang dijadwalkan minggu depan di Wina, Austria, besar kemungkinan tidak akan memutuskan soal penentuan jumlah quota baru namun akan tetap memberlakukan jumlah quota yang telah ada.
Opec sekarang sangat diharapkan untuk menentukan penambahan quota baru mengingat tingginya harga minyak di pasaran internasional sekarang yang sangat terasa efeknya bagi perekonomian global.
Bahkan, menyangkut hal yang sama, Presiden Amerika Serikat, George Bush telah mencoba bernegosiasi dengan negara-negara teluk yang mendominasi keanggotaan OPEC dengan melawat ke beberapa negara di Timur Tengah itu belum lama berselang.
Amerika Serikat dikenal adalah negara terbesar yang paling konsumtif dalam pemakaian minyak bumi mengingat besarnya volume kebutuhan industri di negara itu, sementara pasokan lokal tidak mencukupi. Dengan semakin tingginya hrga minyak di pasaran, tentu saja sangat berpengaruh terhadap kinerja ekonomi di negara itu, apalagi sekarang ini, negara Paman Sam itu sedang dlanda kelesuan yang telah memaksa bank sentral di negara itu untuk memotong suku bunganya hingga beberapa kali.
Kemungkinan tidak akan adanya penambahan quota baru tersebut disamapaikan oleh kepala delegasi Libya, Shokri Ghanem setibanya di Wina, Austria. Dia juga menjelaskan bahwa OPEC masih menunggu rilisan terbaru dari ECB mengenai performa ekonomi dunia saat ini.
Salah satu agenda pertemuan OPEC kali ini membahas mengenai masalah yang dihadapi salah satu anggota OPEC, Venezuela yang sedang menghadapi masalah dengan perusahaan minyak Amerika Serikat, ExxonMobil mengenai rencana pemerintah Venezuela untu menerapkan kebijakan untuk re-nasionalisasi terhadap setiap perusahaan yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan asing di negara itu.
Ghanem menambahkan agenda pertemuan itu karena pemerintah Venezuela telah meminta agar para negara OPEC untuk ikut serta dalam membahas dan mendukung rencna negara itu.