
18.00 WIB
Sterling melemah terhadap USD dan terlihat akan mencetak rekor terendahnya terhadap euro hari ini (26/3) setelah para pembuat kebijakan Bank of England mengatakan bahwa pound sedang menghadapi resiko pelemahan (downside) dan mengulangi pernyataan bias mengenai rencana pemotongan suku bunga. Euro sendiri sempat tertolong setelah data tingkat kepercayaan bisnis Jerman menguat melebihi perkiraan.
Charles Bean, salah seorang anggota MPC, menyatakan di depan Treasury Committee Inggris bahwa resiko pelemahan yang dialami sterling, menyebabkan membengkaknya defisit neraca keuangan. Dengan kata lain, pernyataan Bean ini mengisyaratkan sterling akan melemah.
Sangatlah jarang bagi sebuah bank sentral untuk secara terbuka mengakui pelemahan mata uangnya, jadi pernyataan (akan adanya resiko pelemahan) tersebut seakan-akan memberikan sinyal bahwa pelemahan sterling masih akan berlanjut hingga beberapa bulan mendatang.
Hingga pukul 17.53 WIB sterling sempat jatuh hampir setengah persen hingga ke level 1.9965 terhadap USD.
BoE ibaratnya sedang “berjalan di atas tali”. Saat ini mereka sedang menghadapi dilema antara naiknya inflasi dan prospek pelambatan ekonomi akibat krisis pasar kredit global.
Gubernur BoE, Mervyn King, mengatakan kepada Treasury Committee bahwa inflasi terlihat meningkat di sekitar 3%, namun dia juga mengatakan bahwa BoE masih memiliki kecenderungan untuk memotong suku bunga dari 5.25%.
Menurut King, kegentingan masalah kredit yang mulai muncul sejak Agustus tahun telah memasuki babak baru yang lebih sulit, padahal MPC mengemban tugas untuk menyeimbangkan inflasi dan menjaga laju pertumbuhan ekonomi.
Jajak pendapat yang dilakukan Reuters minggu lalu kepada 56 ahli ekonomi menunjukkan bahwa 22 orang di antaranya memperkirakan bahwa BoE akan memotong suku bunga sebesar 25 basis poin di bulan April, sementara 34 orang memperkirakan bahwa BoE akan menunggu hingga bulan Mei.