16.51 WIB
USD ternyata masih belum mampu menggeliat terhadap supremasi euro. Malah, posisi USD sekarang ini merosot tajam dan dekati rekor terendah terhadap mata uang benua biru itu.
Konsumsi mencatat kenaikan sebesar 0.4% bulan lalu, namun kenaikan itu disebabkan oleh faktor inflasi, sehingga secara garis besar, konsumsi dalam dua bulan berturut-turut masih mengalami angka defisit.
Sementara itu, angka inflasi PCE tahunan meningkat sebesar 2.2%, lebih tinggi dari asumsi “wilayah nyaman” yang dibuat oleh bank sentral Amerika Serikat yaitu sebesar 1.5-2 %.
Hal demikian mengundang komentar Nigel Gault, seorang ekonom dari lembaga riset Global Insight yang mengatakan bahwa inflasi bukanlah sebagai kendala terhadap kebijakan pemotongan suku bunga yang masih tetap akan diambil oleh bank sentral, karena bank sentral sangat berharap akan melambannya inflasi dikarenakan kondisi ekonomi secara umum melemah dan penghematan sedang dilakukan mayoritas warga negara Paman Sam itu.
Bernanke telah menyatakan dengan jelas bahwa ekonomi negara itu masih suram dimana pertumbuhan masih dihadapkan pada hantu inflasi sehingga otoritas moneter yang ia pimpin akan kembali melakukan pemotongan suku bunga bulan ini.
Senada dengan pernyataan Bernanke, PMI Chicago indicator juga menunjukkan catatan yang kurang menggembirakan dimana telah terjadi penurunan sebesar 50.0 dari angka 51.5 pada periode sebelumnya menjadi 44.5.
Catatan tersebut semakin memperkuat bahwa sebenarnya negara asal musik blues itu telah sedang mengalami resesi yang ditandai dengan semakin terpuruknya nilai mata uang negara itu.
Sementara itu, berbeda dengan posisi USD terkini, nilai mata uang yen dan franch Swiss justeru semakin menguat belakangan. Posisi kedua mata uang itu justeru diuntungkan dengan kondisi Amerika Serikat dan global umumnya dimana beberapa sektor mngalami keterpurukan seperti sektor kredit dan obligasi, kesulitan bank-bank soal kecukupan modal dan menggelembungnya pasaran properti.
Sementara itu nilai mata uang favorit lainnya, GBP juga masih dianggap stabil dan masih jauh diatas USD walaupun ekonomi di negara Ratu Elizabeth tersebut belakangan berbanding terbalik dan juga sedang dihantui kepanikan akan tekanan inflasi dimana public spending mengalami penurunan signifikan.
Namun demikian, otoritas di negara itu masih belum akan mengikuti langkah bank sentral Amerika Serikat yang memutuskan untuk memotong suku bunganya.
Seperti diketahui, ekonomi Inggris mengalami perlambatan dan menurut data terbaru harga perumahan mencatat penurunan sebesar -0.5% di bulan Februari kemarin.