World Clock

Economic Calendar (Waktu Dalam GMT-5)

28 April 2008

Trichet Khawatir Penguatan Euro Dapat Tekan Ekonomi


17.18 WIB

Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Jean-Claude Trichet mengatakan bahwa pihaknya khawatir penguatan euro terhadap dollar dapat menekan ekonomi Eropa.

Di sela-sela konferensi ECB di Frankfurt, Trichet mengatakan bahwa pihaknya telah mengamati fluktuasi tajam nilai tukar tersebut dan khawatir mengenai implikasinya terhadap stabilitas ekonomi dan finansial.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya akan penegasan kembali oleh pejabat AS mengenai kebijakan dollar yang kuat.

Euro telah menguat 8% terhadap dollar AS tahun ini karena spekulasi inflasi akan membuat ECB enggan memangkas suku bunganya. Euro menembus rekor tertingginya $1,6019 Selasa lalu, tertinggi sejak mata uang itu diluncurkan pada 1999.

Mengenai suku bunga, Trichet menegaskan bahwa kebijakan moneter saat ini dapat membantu pencapaian tujuan ECB, yaitu stabilitas harga. Kebijakan tersebut juga akan membantu ekspektasi inflasi.

Trichet juga mengatakan bahwa G7 mendukung rekomendasi Forum Stabilitas Finansial (FSF) untuk mencegah krisis finansial di masa mendatang. Ia menyebutkan ada 67 proposal yang disepakati G7, dimana salah satunya adalah implementasi rekomendasi FSF dalam 100 hari ke depan. Ia mengimbau semua negara yang terlibat agar bekerja dengan aktif untuk mencapainya.

Dalam pertemuan G7 dua minggu lalu, FSF memberikan rekomendasi untuk menghadapi dan mencegah krisis kredit global, diantaranya peningkatan manajemen resiko dan transparansi institusi keuangan.
(Selengkapnya...)

Serangan Atas Jalur Pipa di Nigeria Menaikkan Harga Minyak di Bursa London


16.35 WIB

Harga minyak mentah di bursa London hari ini naik kembali, melewati harga $120, setelah BP Plc menutup jalur pipanya di North Sea. Pihak BP menutup Forties Pipeline System, yang mampu memenuhi 40 persen kebutuhan produksi Inggris akibat pemogokan buruhnya yang menuntuk kenaikan uang pensiun. Aksi ini akan dilakukan selama 48 jam, sejak minggu kemarin.

Sementara serangan milisi Nigeria telah menutup jalur pipa, sehingga menurunkan kapasitas produksi Nigeria hingga 50 percent sejak tanggal 25 April kemarin. Meskipun kenaikan ini masih terkontrol dalam pandangan pelaku pasar, mengingat sebelumnya pelaku pasar sudah memperkirakan akan meroketnya harga minyak akibat gangguan suplai. Sementara kebutuhan yang tinggi menjelang liburan musim panas di AS juga mendorong kenaikan lebih lanjut.

Untuk pengiriman bulan Juni, rata-rata naik $1.41, hingga 1.2 persen, ke harga $119.93 pada penutupan perdagangan minggu kemarin di Bursa New York , yang merupakan harga tertinggi semenjak tahun 1983. Harga saat ini di Bursa New York lebih tinggi 82persen dibanding harga tahun lalu. Para investor rata-rata menggunakan ini untuk melindungi posisi mereka atas Dolar yang terus melemah terhadap Euro dan untuk meningkatkan ekuiti mereka. Indek S&P 500 sendiri juga jatuh 9.8 persen sejak awal tahun ini.

Minyak dari North Sea dan Nigeria, produsen minyak terbesar di Afrika memiliki kualitas yang baik, dengan kandungan belerang yang rendah dan banyak disukai oleh para penyuling. Akibat gangguan keamanan di Nigeria, maka pasokan minyak menurun hingga 50 persen khususnya setelah serangan terhadap jalur pipa Exxon Mobil Corp. dan Royal Dutch Shell Plc. AS saat ini mengimpor sekitar 10 hingga 15 % dari total produksi Nigeria. Produksi Nigeria dalam sehari adalah 1.96 juta barrel per hari di bulan Maret. serangan ke jalur pipa Shell, mengurangi 140,000 barrel per hari. Sementara serangan ke Exxon mengurangi 765,000 barrel per hari.

Akibat berkurangnya suplai minyak dari Nigeria dan ditutupnya jalur pipa BP di North Sea termasuk menurunnya produksi dari Russia dan Mexico, yang selama ini merupakan dua negara terbesar suplai minyak diluar anggota OPEC telah membuat harga minyak meroket.

Kenaikan ini bagi beberapa orang dipandang sebagai hal yang sudah dipolitisasi, mengingat hampir setiap hari selalu terjadi kenaikan harga. Menurut Jonathan Kornafel, dari Hudson Capital Energy di Singapura, "It's political, it's supply. Everyday there's something pushing prices higher." Bagi pihak Hedge fund managers dan beberapa spekulan besar lainnya, kenaikan ini membawa keuntungan yang besar hampir tiga kali lipat dalam sepekan.

Meski demikian tingginya harga minyak dan kondisi yang meliputi kenaikan tersebut, diperkirakan harga minyak akan jatuh kembali ke harga yang moderat, ke level yang lebih realistis . Harapan turunnya harga minyak ini akan terjadi setelah jalur the Forties akan dibuka kembali. Factor eksternal lain adalah kenaikan bursa saham AS dan menguatnya kembali Dolar AS. Melambatnya perekonomian AS disisi lain memaksa The Fed untuk memangkas suku bunga lebih rendah lagi, pelaku pasar berharap The Fed justru akan mengakhiri kebijaksanaan pemangkasan suku bunganya. Jika benar The Fed tidak memangkas suku bunga kembali, minyak diperkirakan akan turun kembali.

The Fed dijadwalkan akan mengadakan pertemuan pada minggu ini di mana akan pasar memperkirakan mereka akan memangkas suku bunga sebesar seperempat point pada tanggal 30 April nanti, yang akan menjadi penurunan suku bunga terkecil dalam empat bulan terakhir ini.
(Selengkapnya...)

Mampukah the Fed Menyelamatkan AS Dari Resesi?


15.51 WIB

Setiap resesi yang terjadi di AS dalam 95 tahun terakhir ini disebabkan oleh (paling tidak sebagiannya) Federal Reserve.

Penjelasannya sebenarnya cukup sederhana. Masalah perekonomian rupanya terlalu kompleks dan dinamis bagi the Fed untuk bisa memprediksi akan ke mana arahnya dalam beberapa tahun ke depan.

Dan untuk ‘memperburuk’ keadaan, senjata mereka yang paling efektif untuk mengontrol ekonomi – yaitu penyesuaian tingkat suku bunga – bisa membutuhkan waktu enam hingga delapan belas bulan untuk memperbaiki stabilitas ekonomi. Dengan kata lain, satu-satunya jalan bagi Federal Reserve untuk menyelamatkan perekonomian dari resesi adalah dengan mengetahui apa yang akan terjadi – paling tidak – dalam enam hingga delapan belas bulan ke depan.

Hal ini jelas tidak mungkin, meskipun the Fed menggunakan seluruh perangkat ekonomi yang dimilikinya. Dan, inilah alasan utama mengapa mereka terkesan sangat lambat dalam merespon siklus perekonomian.

Secara singkat, skenarionya lebih kurang sebagai berikut:

Jika the Fed menganggap bahwa pertumbuhan ekonomi terlampau cepat, mereka akan membiarkan tingkat suku bunga tetap tinggi. Semakin lama the Fed menahan suku bunga di level yang tinggi, maka perekonomian AS akan semakin melambat. Pada kenyataannya, the Fed biasanya tidak akan menurunkan tingkat suku bunga hingga mereka melihat sinyal-sinyal pelambatan dalam pertumbuhan ekonomi. Sialnya, ketika mereka baru menyadarinya, resesi telah telanjur berada di ambang pintu, dan pemotongan suku bunga pertama yang dilakukan the Fed tidak akan terasa efeknya hingga enam bahkan delapan belas bulan ke depan!

Sepertinya, 'cara terbaik' untuk berpikir mengenai bagaimanakah cara the Fed untuk menyelamatkan AS dari resesi adalah: mereka mencoba memastikan bahwa resesi tidak akan berlanjut menjadi depresi ekonomi. Ironis, tapi kelihatannya itulah hal terbaik yang bisa dilakukan the Fed, untuk saat ini.

Jadi, jangan buru-buru terpancing untuk bertaruh bahwa Anda percaya bahwa the Fed mampu menyelamatkan AS dari resesi. Tidak untuk saat ini. Saat ini, the Fed terlihat belum memiliki cukup kekuatan untuk menambal kebocoran pundi-pundi ekonomi Uncle Sam. Mereka memerlukan lebih dari sekedar memotong suku bunga.

Good trading. Good luck.
(Selengkapnya...)

Market Weekly Review: 21-25 April 2008


15.08 WIB

Reversal tajam yang dialami EUR/USD setelah mencetak rekor tertingginya di level 1.6019 minggu lalu memicu spekulasi apakah “multi year up trend” yang terjadi pada pasangan mata uang ini telah selesai.

Di lain pihak, berkembang spekulasi bahwa kebijakan pemotongan suku bunga the Fed akan segera berakhir. Spekulasi yang berkembang memprediksi bahwa Fed akan menahan suku bunga di 2.25% minggu ini. Meskipun masih ada kemungkinan bahwa the Fed masih akan memotong suku bunganya sebesar 25 bps, pernyataan-pernyataan pejabat the Fed seputar suku bunga perlu dicermati, jikalau pernyataan tersebut mengisyaratkan penghentian pomotongan tingkat suku bunga.

Sejumlah data penting yang dirilis minggu ini juga perlu diperhatikan, termasuk Q1 GDP, ISM Manufacturing dan Non-Farm Payroll. Pasar ‘mengharapkan’ data yang buruk untuk beberapa data, agar tidak terlalu terkejut jika memang the Fed masih akan menurunkan suku bunga. Perlu dicermati bahwa sentimen pasar telah membaik dalam minggu-minggu terakhir, yang tercermin dari pullback yang dialami Yen dan Swissy, juga penguatan Sterling.

Sementara itu, telah terjadi perubahan sentimen yang sangat drastis terhadap Euro, setelah data sentimen bisnis Ifo Jerman dirilis. Pelemahan Euro selama akhir minggu lalu lebih diakibatkan pergerakan EUR/GBP dan EUR/JPY.

‘Pecundang’ terbesar minggu lalu adalah Swissy, setelah terseret oleh pelemahan Euro, didukung pula oleh pelaku pasar yang kembali dari risk aversion. Bersama Euro, the Franc kelihatannya akan masih terus tertekan apabila berita yang akan datang semakin memperkuat dollar.

Yen terlihat masih akan bergerak stabil. Demikian juga Aussie, meskipun mata uang tersebut telah berhasil mencapai level tertingginya di 0.9541 terhadap dollar, yang merupakan level tertingginya selama 24 tahun.

Dari data-data yang akan dirilis, tampaknya minggu ini akan menjadi ‘minggu tenang’ bagi Paman Sam. Sisi positifnya adalah, jobless claim di luar dugaan jatuh menjadi 342k.

Ada kejutan di minggu lalu berkaitan dengan rilis BoE minutes yang menghasilkan 6-2-1untuk cut rate sebesar 25 bps menjadi 5.00% awal bulan ini, berbeda dengan ekspektasi pasar yang mengharapkan keputusan outstanding, yaitu 9-0 untuk pemotongan suku bunga. Enam anggota MPC, termasuk gubernur Mervyn King, memilih 25 bps cut sementara Besley dan Sentance memilih untuk menahan suku bunga. Sementara itu, Blanchflower menginginkan pemotongan suku bunga BoE sebesar 50 bps.

Seminggu Ke Depan

Sebagaimana yang telah disebutkan, sekumpulan data penting yang dijadwalkan akan dirilis minggu ini kemungkinan akan mendukung penguatan dollar, khususnya terhadap Euro dan Swissy. FOMC rate decision merupakan topik utama di minggu ini. Ada kecenderungan bahwa Fed masih akan memotong suku bunganya sebesar 25 bps menjadi 2.00%, meskipun ada ekspektasi bahwa Fed akan menahan suku bunga. Perhatian utama pasar akan lebih kepada statement yang akan dikeluarkan oleh pejabat Fed.

Data-data kunci yang juga patut diperhatikan adalah Q1 GDP, personal consumption, ISM Manufacturing Index, non-farm payroll, dan tidak ketinggalan adalah unemployment rate.

Dari Eurozone, pasar akan fokus kepada unemployment rate, economic sentiments, German Gfk consumer sentiments dan retail sales.

Dari UK, ada data manufacturing PMI, yang diperkirakan akan melemah dari 51.3 menjadi 50.8.

BoJ juga akan mengadakan pertemuan lagi minggu ini dan diperkirakan mereka akan membiarkan suku bunga tetap berada di level 0.50%. Data-data dari Jepang minggu ini di antaranya adalah retail sales, manufacturing PMI, house household spending, unemployment rate, industrial production, construction order dan housing starts.
(Selengkapnya...)

14 April 2008

BOJ Minutes: BOJ cermati ancaman terhadap ekonomi


12.44 WIB

Para anggota dewan Bank of Japan (BOJ) menegaskan perlunya untuk memantau peningkatan ancaman terhadap ekonomi dan guncangan pasar keuangan global.

Dalam minutes of meeting rapat Maret lalu, para anggota dewan melihat ekonomi Jepang melambat karena kenaikan harga energi dan komoditas serta menurunnya sektor perumahan.

Selain itu, mereka juga melihat guncangan di pasar keuangan global belumlah berakhir.

Meski begitu, bank sentral itu menyatakan komitemennya untuk tetap menaikkan suku bunga secara bertahap.

Dalam minutes itu tertulis bahwa para anggota dewan sepakat konsep kebijakan moneter mereka ke depan tidak berubah.

Dalam rapat Maret lalu, yang dipimpin oleh Toshihiko Fukui terakhir kalinya, dewan memutuskan secara bulat untuk mempertahankan suku bunga di 0,5%.

Bank sentral tersebut juga mempertahankan suku bunganya pada rapatnya bulan ini, yang dipimpin oleh gubernur baru Masaaki Shirakawa.
(Selengkapnya...)

Bernanke: Tidak Akan Terjadi Depresi


12.20 WIB

Ketua the Fed Ben Bernanke mengatakan bahwa kondisi ekonomi AS saat ini tidak seperti Depresi Besar tahun 1930an, karena the Fed kini lebih proaktif.

Ia mengatakan hal itu dalam pidatonya di hadapan World Affairs Council, di Virginia, Richmond.

Bernanke, yang mendalami studi Depresi Besar (The Great Depression, yand dialami AS pada tahun '30-an), mengatakan pada era tersebut bank sentral membiarkan bank bangkrut, harga jatuh dan pasokan uang kritis, yang membuat ekonomi hancur.

Ia mengatakan bahwa itu merupakan pelajaran berharga. Ia juga memastikan untuk berupaya agar sistem keuangan tetap berfungsi dengan baik.

Ia mengatakan bahwa regulator perlu memformulasikan cara untuk mencegah terjadinya krisis finansial serupa di masa mendatang.

Menurutnya, otoritas perlu meningkatkan pengawasan pasar keuangan, memastikan institusi keuangan punya cukup modal sebagai perlindungan terhadap guncangan.

Otoritas AS, termasuk the Fed, mulai menganalisa mengapa dan bagaimana pasar dan pengawasan gagal, hingga menyebabkan terjadinya krisis kredit.

Bernanke mengatakan bahwa tidak ada waktu menunggu pasar stabil untuk memikirkan masa depan.

Bulan lalu, Bernanke, Menteri Keuangan Henry Paulson dan pejabat ekonomi lainnya mendesak regulasi lebih ketat terhadap perusahaan mortgage sebagai bagian upaya untuk mencegah masalah kredit dan finansial serupa.

Dalam pidatonya itu, Bernanke menyebutkan hasil temuan Tim Kerja Presiden mengenai Pasar Keuangan yang dibentuk 13 Maret lalu.

Bernanke mengatakan hal-hal yang perlu dilakukan untuk membenahi pasar keuangan antara lain meningkatkan transparansi, manajamen resiko, dan koordinasi antara regulator yang dapat memberikan dukungan untuk proses normalisasi pasar keuangan.

Ia mengatakan rekomendasi tim tersebut, bila diimplementasikan, akan mengurangi kemungkinan dan meredam guncangan finansial di masa mendatang dan membuat pelaku pasar lebih kuat menghadapi guncangan bila terjadi.

(Selengkapnya...)

10 April 2008

Menkeu Inggris Tetap Optimis Dengan Prospek Pertumbuhan


12.18 WIB

Menteri Keuangan Inggris Alistair Darling tetap optimis dengan proyeksi pertumbuhan, meski ada tanda-tanda koreksi ekonomi global.

Meski IMF memperingatkan sektor perumahan Inggris akan bernasib sama dengan AS, Darling mengatakan masih ada dasar untuk optimis karena Inggris masih punya ekonomi yang terbukti kuat menghadapi guncangan eksternal.

Darling, dalam wawancara dengan Radio BBC, mengatakan bahwa IMF mengurangi proyeksi pertumbuhan semua negara, dan itu tidak mengherankan. Namun, ia menambahkan, penurunan proyeksi pertumbuhan Inggris lebih kecil dibandingkan yang lain.

Darling, yang telah dua kali merevisi turun pertumbuhan sejak Oktober, sedang berjuang menyelamatkan ekonomi di tengah krisis kredit global. Selain itu, ia mesti menghadapi jatuhnya harga rumah dan keyakinan konsumen.

Darling mengatakan bahwa bila Inggris tetap melakukan yang tepat, ekonomi akan tetap tumbuh. Ia menambahkan bahwa fundamental ekonomi tetap kuat, dimana penyerapan tenaga kerja masih tinggi dan ekspor cukup baik.

Dalam anggarannya bulan lalu, Darling memprediksikan pertumbuhan tahun ini antara 1,75% dan 2,25%. Untuk 2009, ia memperkirakan pertumbuhan akan mencapai 2,25% dan 2,75%.

Namun, para ekonom mengatakan bahwa revisi tersebut tidak realistis dan memperkirakan pertumbuhan akan lebih melamban tahun ini.

IMF, dalam Prospek Ekonomi Global per semesternya, yang dipublikasikan hari ini, mengurangi proyeksi pertumbuhan Inggris menjadi masing-masing 1,6% untuk 2008 dan 2009. Angka tersebut adalah yang terendah sejak 1992, ketika Inggris pulih dari resesi. Proyeksi IMF sebelumnya adalah 1,8% untuk 2008 dan 2,4% untuk 2009.

IMF juga memperingatkan bahwa harga rumah di Inggris akan turun paling tidak 10% tahun ini. IMF mengatakan Inggris akan menghadapi masalah perumahan seperti AS dan jumlah orang yang rumahnya disita akan naik dua kali lipat.

Selain itu, IMF juga memperingatkan jutaan pemilik rumah akan menghadapi kenaikan mortgage sebesar 3.000 pound karena krisis kredit.
(Selengkapnya...)

Mantan Ketua the Fed Era '70-'80-an Kritik Bernanke dan Greenspan


11.30 WIB

Paul Volcker, mantan Ketua the Fed era 1970-1980an, mengkritik ketua saat ini Ben Bernanke dan pendahulunya, Alan Greenspan.

Volcker, yang pernah menyelamatkan ekonomi AS dari stagflasi, mengkritik Bernanke karena memutuskan untuk menyelamatkan Bear Stearns. Volcker juga mengkritik Greenspan karena berlagak seakan-akan ia (Greenspan) tidak ada kaitannya dengan masalah ekonomi saat ini.

Volcker mengatakan pinjaman $29 milyar untuk membantu Bear Stearns itu melampaui otoritas the Fed. Ia menyatakan langkah tersebut tidak sesuai dengan prinsip dan praktik bank sentral.

Menurutnya, terlepas dari kondisi yang darurat, penjalanan kekuasaan telah dilakukan dengan cara yang tidak sesuai atau tepat bagi bank sentral.

Ia mengatakan bahwa pemberian pinjaman ke institusi keuangan non bank oleh the Fed, akan diinterpretasikan sebagai suatu janji hal yang sama akan dilakukan di masa mendatang.

Volcker juga secara implisit mempertanyakan Greenspan yang menggembar-gemborkan sistem keuangan baru yang cemerlang. Volcker mengatakan sistem itu, meski dipenuhi dengan pelaku yang hebat dan ada manfaat, telah gagal melewati ujian pasar.

Mengenai kritikan tersebut, Greenspan mengatakan bahwa ia tidak menyesali kebijakan yang dijalankan selama ia menjabat. Ia juga mengatakan tidak banyak yang dapat dilakukan otoritas untuk mencegah krisis sektor perumahan.

Greenspan selama ini dihujani kritik karena pada masanya ia menetapkan suku bunga yang terlalu rendah, yaitu 1%, selama 2002-2003. Selain itu ia disalahkan karena gagal mengendalikan subprime mortgage dan Adjustable Rate Mortgage (ARM).

Ia mengakui tidak mengira akan terjadi penggelembungan perumahan (housing bubble) dan krisis subprime mortgage. Namun ia mengatakan bukan tugas bank sentral untuk mengatasi penggelembungan itu. Ia menambahkan meski saat itu ditetapkan peraturan atau kebijakan moneter yang lebih ketat, hal itu tidak dapat mengatasinya.
(Selengkapnya...)

09 April 2008

Gedung Putih Anggap Terlalu Dini Bahas Paket Stimulus Ke Dua


13.06 WIB

Gedung putih mengatakan terlalu dini untuk membahas perlunya paket stimulus kedua karena yang pertamapun belum diimplementasikan.

Menurut jubir Gedung Putih, Tony Fratto, Presiden Bush tidak mendukung upaya kubu Demokrat di Kongres yang mendesak paket stimulus kedua.

Tony mengatakan bahwa terlalu dini untuk membahas masalah itu dan lebih baik menunggu sampai paket stimulus pertama terlihat manfaatnya.

Ia juga mengatakan proyeksi ekonomi pemerintahan Bush belum berubah sejak paket stimulus disetujui Februari lalu. Pemerintahan Bush memperkirakan pertumbuhan yang rendah pada kuartal pertama, dan data ekonomi yang dipublikasikan sejak Februari sesuai dengan proyeksi itu.

Departemen Tenaga Kerja AS Jumat lalu melaporkan non farm payroll berkurang 80.000 pada Maret, penurunan untuk tiga bulan berturut-turut dan yang terbesar dalam lima tahun terakhir.

Karena laporan itu, Ketua Kongres Nancy Pelosi dan pemimpin Demokrat lainnya mendesak Presiden Bush untuk bekerja dengan Kongres mengenai paket stimulus tambahan.

Dalam pernyataannya, Pelosi mengatakan laporan ketenagakerjaan, ditambah dengan peringatan resesi dari Ketua the Fed Ben Bernanke, dan ancaman terhadap standar hidup karena kenaikan harga energi, makanan dan kesehatan, mewajibkan Bush untuk bekerja dengan Kongres mengenai paket stimulus kedua untuk menyelamatkan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan membantu warga yang kesulitan.

Ia menambahkan ia akan mendesak Bush agar bekerja sama dengan kubu demokrat untuk mengembalikan kepercayaan konsumen dan pasar, membantu ribuan warga yang terancam kehilangan rumah dan menghadapi kenaikan biaya hidup.

Laporan ketenagakerjaan itu juga menunjukkan tingkat pengangguran naik menjadi 5,1%. Tidak mengherankan, kubu Demokrat dan kubu Republik saling menyalahkan, dimana Demokrat menuding pemerintahan atas kondisi itu dan Republik menyalahkan Demokrat yang tidak bersedia membuat pemotongan pajak permanen.

Demokrat tetap mendesak elemen yang tidak dimasukkan ke paket stimulus pertama, seperti kenaikan kupon makanan (food stamp), perluaskan tunjangan pengangguran dan pembelanjaan infrastruktur.

Sedangkan Republik mendesak pemotongan pajak perlu dibuat permanen untuk merangsang pembelanjaan dan investasi bisnis, yang akhirnya meningkatkan lapangan kerja dan menambah uang ke pembayar pajak.

Banyak pihak yang berpendapat dari pada menambah defisit anggaran, pemerintah sebaiknya berfokus untuk menekan biaya hidup konsumen.
(Selengkapnya...)

IMF Perkirakan Krisis Kredit Akan Memburuk


12.15 WIB

Internatinal Monetary Fund (IMF) memperkirakan kerugian total karena krisis kredit akan mendekati $1 trilyun.

IMF, dalam laporan Stabilitas Keuangan Global, mengatakan krisis kredit telah memburuk dalam 6 bulan terakhir dan mengancam pertumbuhan ekonomi.

Jatuhnya harga rumah di AS dan meningkatnya kredit macet akan menyebabkan kerugian terkait mortgage mencapai $565 milyar. Kerugian total, termasuk sekuritas yang terkait properti dan pinjaman ke konsumen dan perusahaan, dapat mencapai $945 milyar.

Dalam laporannya itu , IMF mengatakan bahwa meski langkah intervensi yang dilakukan oleh bank sentral seperti the Fed, pasar keuangan masih tetap tidak stabil, dan sekarang diperumit oleh perlambatan ekonomi dan rendahnya tingkat modal di perusahaan keuangan.

Proyeksi itu mengindikasikan kondisi terburuk krisis kredit belumlah terjadi, karena bank dan perusahaan sekuritas sejauh ini baru mencatat kerugian dan writedown sebesar $232 milyar.

Dalam laporannya, IMF mengatakan krisis saat ini lebih dari sekedar masalah likuiditas, mencerminkan kerapuhan neraca dan dasar modal yang lemah, yang berarti dampaknya akan luas dan dalam.

Lembaga tersebut, yang tahun lalu memperkirakan dampak dari krisis subprime mortgage akan terbatas, menyalahkan tidak tegasnya peraturan dan kurangnya pemahaman mengenai resiko produk finansial.

Proyeksi IMF itu melebihi prediksi ekonom lainnya, termasuk analis dari UBS AG, yang Februari lalu memperkirakan kerugian krisis kredit akan mencapai $600 milyar.

IMF mengatakan meski inovasi keuangan memberikan manfaat, kejadian dalam delapan bulan terakhir menunjukkan adanya resiko. Pada saat yang sama, lembaga itu menganjurkan pemerintah jangan terburu-buru memperketat peraturan, terutama perubahan yang dapat menghambat inovasi atau memperburuk dampak krisis kredit.

IMF juga mengatakan bahwa bank harus segera mungkin meningkatkan transparansi dan melakukan writedown dalam jumlah yang tepat. Lembaga tersebut juga mengimbau pengawasan kecukupan modal yang lebih ketat.

Sedangkan pihak otoritas, tambahnya, sebaiknya menyiapkan rencana cadangan untuk menghadapi jatuhnya aset dalam jumlah besar bila writedown menyebabkan dampak negatif yang signifikan terhadap ekonomi.

Menteri Keuangan AS Henry Paulson telah mengusulkan revisi pengawasan yang mencakup penghilangan beberapa lembaga dan penyatuan lainnya. Namun gagasan Paulson itu membutuhkan persetujuan Kongres, dan kecil kemungkinannya terwujud sebelum masa jabatan Presiden Bush berakhir.

(Selengkapnya...)

BOJ Pertahankan Suku Bunga


11.47 WIB

Bank of Japan mempertahankan suku bunga pada rapat pertama yang diketuai oleh Masaaki Shirakawa.

Rapat berlangsung di tengah kekhawatiran ekonomi akan tergelincir menuju resesi.

Shirakawa yang hari ini disetujui oleh parlemen sebagai gubernur BOJ, bersama enam koleganya mempertahankan suku bunga pinjaman 0,5 persen.

Shirakawa ingin mengumpulkan lebih banyak bukti dan data sebelum memutuskan apakah Jepang perlu memangkas suku bunga untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir.

Data-data ekonomi baru-baru ini bervariasi, dimana pertumbuhan ekspor dan inflasi berakselerasi setelah sentiment perusahaan turun ke level terendahnya dalam empat tahun terakhir sementara produksi menurun.

Bank of Japan tidak memiliki pilihan selain mempertahankan suku bunga untuk beberapa saat, karena ekonomi didalam negeri dan diluar negeri melemah.

Yen diperdagangkan pada 102,47 dolar dibanding 102,60 sebelum rilisnya keputusan suku bunga.

Ekonomi Jepang miliki kemungkinan kembali menguat setelah terjadi pelemahan, walau resiko masih ada setelah AS diterpa krisis kredit macet terparah sejak Great Depression, dan pasar keuangan dunia masih rapuh.

Namun BOJ juga menghindari memberikan stimulus secara berlebihan kepada ekonomi di jangka pendek karena akan membahayakan pertumbuhan di jangka panjang.

Kebanyakan ekonom memperkirakan bahwa Bank of Japan akan mempertahankan sikap wait and see sepanjang tahun ini.

Beberapa laporan menunjukkan pertumbuhan ekonomi masih baik. Pertumbuhan ekspor cukup cepat di Pebruari setelah tingginya permintaan dari ekonomi berkembang membantu manufaktur mengatasi penurunan permintaan dari AS. Tingkat upah naik capai dua bulan berturut-turut.

Inflasi Jepang saat ini lebih tinggi dari level suku bunga. Harga konsumen tidak termasuk makanan segar naik 1 persen di Pebruari dibanding tahun lalu. Shirakawa sendiri mengatakan suku bunga Jepang terlalu rendah.
(Selengkapnya...)

Greenspan : Harga Rumah AS Akan Stabil Tahun Ini


11.26 WIB

Mantan ketua the Fed Alan Greenspan mengatakan dropnya harga rumah AS kemungkinan akan berakhir sebelum awal tahun depan.

Hal ini dikemukakannya setelah melihat jumlah rumah di pasar menyusut, sehingga membantu ekonomi rebound.

Dia mengatakan bahwa tidak sampai awal 2009 maka Amerika akan berhasil menjual semua cadangan rumah yang ada. Tentu saja sebelum hal itu terwujud, harga rumah harus stabil terlebih dahulu.

Menurutnya pasar aset belum akan pulih sampai harga rumah stabil. Jika hal tersebut benar adanya maka selama 2008 ini ekonomi akan melemah.

Penerusnya Ben S. Bernanke dan pejabat the Fed lainnya telah menegaskan bahwa jatuhnya harga rumah merupakan resiko utama ekonomi yang pada akhirnya akan memukul kesejahteraan rumah tangga dan belanja konsumen.

Saat pasar mulai stabil, khususnya jika ekonomi riil tidak terperosok menuju resesi yang parah, maka diperkirakan pemulihan akan mulai terjadi. Hal tersebut akan terjadi perlahan namun pasti.

Kesehatan pasar perumahan AS erat kaitannya dengan pasar keuangan yang secara umum bergantung pada tumpukan mortgage yang akan dijual sebagai sekuritas.

Namun Greenspan sendiri belum bisa memastikan apakah Amerika telah mencapai tahap kestabilan harga. Dia memperkirakan pasar akan dipenuhi likuidasi dalam jumlah besar, di semester ke dua tahun ini.
(Selengkapnya...)

FOMC Minutes: Para Anggota Khawatir Dengan Resesi


10.39 WIB

Kekhawatiran mengenai resesi panjang membuat pejabat the Fed memangkas suku bunganya bulan lalu.

Menurut minutes of meeting rapat the Fed Maret lalu, yang dipublikasikan dini hari ini, meski upaya telah dilakukan untuk mengatasi krisis kredit dan menyelamatkan sektor perumahan, beberapa anggota melihat koreksi ekonomi yang tajam dan buruk tetap bisa terjadi.

Atas pertimbangan itulah, Ketua the Fed Ben Bernanke dan sebagian besar koleganya sepakat untuk memangkas suku bunga sebesar 75 bps menjadi 2,25%.

Namun, dua anggota, yaitu Charles Plosser, Presiden the Fed distrik Philadelphia, dan Richard Fisher, Presiden distrik Dallas, menentang pemangkasan sebesar itu. Mereka menginginkan pemotongan lebih kecil karena khawatir mengenai inflasi.

Minutes tersebut juga menggarisbawahi ketidakpastian ekonomi dan inflasi. Minutes itu menyatakan dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan inflasi, para anggota melihat sulit untuk menyesuaikan kebijakan.

Di satu sisi, the Fed berupaya untuk mengatasi tiga krisis, perumahan, kredit dan finansial, agar tidak menjerumuskan ekonomi ke resesi panjang.

Namun di sisi lain, mereka tidak bisa membiarkan kenaikan harga energi dan makanan membuat inflasi tak terkendali.

Masih mengenai inflasi, minutes tersebut mengungkapkan tekanan inflasi meningkat meski pertumbuhan melambat, mengindikasikan ketidakpastian menyelimuti prospek inflasi.

Plosser dan Fisher, anggota yang menentang pemangkasan besar, khawatir ekspektasi inflasi menjadi tidak terkendali. Bila konsumen, investor dan bisnis memperkirakan inflasi naik, mereka akan bertindak yang dapat memperburuk inflasi.

Oleh karena itu, Bernanke, dalam kesaksiannya di Kongres minggu lalu, tidak memberi petunjuk mengenai langkah the Fed selanjutnya.

Namun, banyak ekonom yang memperkirakan the Fed akan memangkas suku bunga lagi dalam rapat regulernya 29-30 April nanti, terutama setelah data payroll yang mengecewakan.

Sebelum pengumuman minutes tersebut, pasar memperkirakan 40% kemungkinan pemangkasan sebesar 50 bps dalam rapat nanti. Ekspektasi meningkat menjadi 44% setelah minutes tersebut.

Mengenai sektor perumahan, minutes itu menyebutkan para anggota melihat kecilnya indikasi stabilisasi di sektor itu telah terjadi. Para anggota juga melihat harga rumah sebagai sumber utama ketidakpastian prospek ekonomi.

(Selengkapnya...)

08 April 2008

Greenspan: Krisis Kredit Macet Saat Ini Adalah Yang Terburuk


08.37 WIB

Mantan ketua the Fed, Alan Greenspan, mengatakan bahwa krisis kredit macet saat ini adalah yang terburuk dalam kurun kurang dari 50 tahun terakhir.

Pernyataan Greenspan itu menyusul setelah taksiran dari ekonom termasuk Badan Moneter Internasional (IMF), dan dapat memberi tekanan kepada para policy maker agar memperkuat respon mereka terhadap krisis kredit macet.

Minggu lalu, the Fed menyadari bahwa pasar modal masih tertekan walau suku bunga telah diturunkan capai level tercepatnya dalam dua decade terakhir.

Dampak berkelanjutkan dari krisis kredit macet masih belum bisa ditaksir sehingga sulit untuk memperkirakan kapan akan berakhir.

Greenspan mempertanyakan apakah harga-harga sudah berada pada titik yang stabil. Dan diperkirakan harga-harga akan mulai stabil awal 2009 disaat persediaan rumah menurun.

Greenspan sendiri adalah mantan ketua bank sentral AS yang pensiun di 2006, dan belakangan ini mendapat kritikan karena kebijakannya dimasa lalu adalah penyebab kolapsnya sektor perumahan yang akhirnya menyebar menjadi krisis disektor keuangan.

Salah seorang ekonom menuduh pria berusia 82 tahun itu telah membantu melambungkan harga-harga saham dan rumah.

Sebagai respon dari meledaknya penggelembungan sektor internet dan teknologi pada 11 September, Greenspan sebagai ketua the Fed saat itu menurunkan suku bunga pada 2001 dari 6,5 persen menjadi 1,75 persen, dan kemudian menurunkannya lagi di 2003 menjadi 1 persen, merupakan level terendah dalam 45 tahun terakhir.

Dia mempertahankan suku bunga pada level tersebut selama satu tahun sebelum akhirnya menaikkan ongkos pinjaman seperempat poin dan mewariskannya kepada penerusnya, Ben S. Bernanke.

Beberapa pihak mengkritik bahwa level suku bunga yang terlalu rendah dibiarkan terlalu lama, sehingga mengakibatkan kredit mudah (easy credit) sehingga mengakibatkan penggelembungan disektor perumahan dan pada akhirnya menghanguskan investor.

Sementara itu pejabat the Fed perlu memikirkan kembali langkah-langkah untuk mengangkal penggelembungan harga asset.

Bernanke sendiri menyatakan bahwa ekonomi AS akan berkontraksi disemester pertama 2008 dan untuk pertama kalinya menyadari bahwa ada kemungkinan terjadi resesi.

Hari ini the Fed akan merilis hasil rapat pada rapat suku bunga 18 Maret lalu dan conference call di Pebruari dan semester pertama Maret. The Fed terakhir kali menurunkan suku bunga 0,75 persentase poin menjadi 2,25 persen dari 3 persen.
(Selengkapnya...)

07 April 2008

Rupiah Menguat Tipis ke 9.190/US$

19.00 WIB

Rupiah akhirnya bisa menguat di bawah level 9.200 per dolar AS.
Rupiah menguat tipis mengikuti pasar saham yang juga menguat terbatas.

Pada penutupan perdagangan valas pukul 17.00 WIB, Senin (7/4/2008) rupiah
menguat 5 poin ke posisi 9.190 per dolar AS. Pelaku pasar percaya BI ikut
berperan membawa penguatan rupiah ini.

Sementara mata uang regional ditutup melemah terhadap dolar AS seperti dolar
Australia melemah 0,45%, rupee India melemah 0,28%, won Korea melemah 0,1%,
dolar Singapura melemah 0,09%, yen Jepang melemah 0,85%.

Rupiah bergerak tipis karena belum mengalirnya dana asing yang masuk. Deputi
Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) mengatakan, inflasi kini menjadi perhatian
para pemegang dana. Di negara yang jarang terkena inflasi seperti Jepang pun
kini mulai terasa. Termasuk Australia yang biasanya stabil kini inflasinya
begitu terasa.

"Ini juga menjadi perhitungan bagi para pemegang dana yang mulai
menghitung-hitung apakah mereka akan masuk atau tidak," kata Miranda disela-sela
acara peluncuran laporan perekonomian Indonesia 2007 oleh BI di gedung B BI,
Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin (7/4/2008).

Indonesia pada bulan Maret mencatat inflasi 0,95% dan year on year 8,17%. Pasar
menilai target inflasi pemerintah sebesar 6 plus minus 1 persen bakal terlampaui
karena tren inflasi yang terus naik. Kondisi inflasi inilah yang belakangan
membuat pasar saham, obligasi menjadi kurang menarik.

(Selengkapnya...)

Minyak dan Emas Kembali Naik


18.00 WIB

Harga minyak pada perdagangan hari ini (7/4) tetap mengalami peningkatan. Tercatat pada perdagangan Eropa hari ini, minyak mentah untuk bulan Mei mengalami peningkatan 59 sen pada posisi 106.82 dollar per barrel. Sedangkan untuk minyak brent naik sebesar 33 sen pada posisi 106.01 dollar per barrel.

Masih melonjaknya harga minyak disebabkan oleh adanya aksi profit taking dari para investor yang beralih ke sektor komoditi seperti emas yang tidak mengalami penurunan meskipun ada pengaruh eksternal seperti laporan tingkat pengangguran Amerika Serikat yang mengalami peningkatan dan melemahnya nilai tukar dollar terhadap beberapa mata uang utama dunia.

Menurut para analis, persediaan minyak mentah untuk bulan April ini dipastikan cukup. Menurunnya tingkat permintaan minyak mentah Amerika Serikat menjadi sebab stabinya permintaan minyak global. Tercatat konsumsi minyka mentah AS menjadi kisaran 479 ribu barrel per hari.

Sementara itu harga emas tetap meningkat disebabkan oleh adanya aksi spekulasi yang dilakukan oleh para pembeli yang dipicu melemahnya dollar dan laporan melonjaknya tingkat pengangguran Amerika Serikat minggu lalu. KOndisi lain yang yang menyebabkan naiknya harga emas ialah masih tingginya harga minyk mentah.
(Selengkapnya...)

03 April 2008

IMF: Krisis Terburuk di AS Sejak 1930; Kemungkinan Resesi Dunia 25%


19.28 WIB

Sepanjang tahun 2008 ini, untuk ketiga kalinya International Monetary Fund (IMF) kembali menurunkan estimasinya terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. Tindakan IMF ini dilatarbelakangi oleh kondisi keterpurukan dan fluktuasi pasar finansial Amerika Serikat yang mengindikasikan AS mengalami krisis yang paling buruk sejak Great Depression pada tahun 1930.

Perekonomian dunia diperkirakan hanya akan bertumbuh 3.7% pada tahun 2008 ini, yang merupakan pertumbuhan terendah sejak 2002. Penurunan prediksi ini dilakukan setelah sebelumnya pada bulan Januari IMF masih memperkirakan bahwa perekonomian dunia masih mampu bertahan dengan kemungkinan akan mengalami pertumbuhan 4.1%. Sedangkan prediksi pertama IMF untuk ekonomi dunia adalah 5.2%, ketika krisis subprime mortgage mulai muncul pada Agustus 2007. Kondisi Pasar finansial AS tersebut dengan cepat mempengaruhi perekonomian dunia.

Sejak awal tahun 2008, pasar Asia dan Eropa mengalami kerapuhan, dan sangat bergantung dengan kondisi Wall Street dan laporan berita data makroekonomi AS. Dampaknya pun mempengaruhi laju inflasi dunia, spekualsi hedging investor kepada komoditi, seperti minyak, emas, bahkan ke bahan pangan, telah mendorong sebagian besar tingkat inflasi Asia dan Eropa melaju cepat. Berdasarkan dokumen kajian IMF, IMF Background Paper on the Update of the Global and Regional Outlook, direkomendasikan untuk sentral bank melakukan kebijakan yang cukup fleksibel untuk menstimulus perekonomian. Untuk itu, IMF menghimbau Eropa untuk memberikan ruang gerak bagi perekonomian untuk bertumbuh mengingat suku bunga-nya masih memiliki gap yang besar terhadap The Fed. Laporan Kajian IMF tersebut juga menyatakan bahwa saat ini dunia memiliki probabilitas 25% untuk terjebak dalam kondisi resesi, dengan indikasi bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi global hanya mencapai 3% atau bahkan kurang, pada tahun 2008 dan sepanjang 2009.

Pertumbuhan Perekonomian AS dan Eropa

IMF memprediksi bahwa Amerika Serikat hanya akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 0.5%, berdasarkan dokumen kajian tersebut. Angka ini berada dibawah estimasi IMF pada bulan Januari, yang diperkirakan mencapai 1.5%. Sedangkan untuk tahun 2009, AS diperkirakan mencapai angka pertumbuhan 0.6%. Perlambatan perekonomian di Amerika Serikat dimulai dari kuartal keempat tahun 2007,yang ditunjukan laporan indikator perekonomian yang baru-baru ini dikeluarkan. Data makroekonomi menunjukkan adanya penurunan pada sector manufaktur dan property. Selain itu diperburuk dengan kondisi penurunan lapangan pekerjaan dan pengeluaran konsumsi masyarakat.

Untuk wilayah Eropa, IMF memperkirakan bahwa perekonomian akan meningkat 1.3% pada 2008, turun dari posisi 1.6%, yang merupakan proyeksi IMF pada Januari lalu. Perekonomian berjalan lamban di Eropa sebagai efek domino akibat fluktuasi pasar financial AS. Walaupun data perekonomian Eropa, masih menunjukkan perekonomian berjalan pada koridornya. Dan berdasarkan kondisi ini, IMF meyakinkan sentral bank Eropa atau ECB untuk memberikan ruang gerak perekonomian dengan tingkat bunga yang lebih fleksibel. ECB sampai sat ini tetap mempertahankan suku bunganya pada posisi 4%, dengan kondisi inflasi regionalnya 3.5%.

Prediksi IMF Terhadap Asia

Perekonomian Jepang diprediksi oleh IMF akan mengalami pertumbuhan 1.4% pada untuk akhir 2008, dan sebelumnya pada bulan Januari diprediksi mengalami pertumbuhan 1.5%. China dipredikasi akan bertumbuh 9.3%, lebih lambat dari perkiraan sebelumnya 10%.

Selain IMF, Asian Development Bank (ADB) melakukan penurunan prediksi pertumbuhan ekonomi di Asia. ADB menyatakan bahwa pertumbuhan Asia selain Jepang akan berjalan 7.6%, direvisi dari perkiraan sebelumnya pada September 2007, yaitu sebesar 8.2%. Interaksi risiko perekonomian yang terjalin adalah adanya kondisi struktur pasar finansial yang saling terhubung antara institusi keuangan yang berpusat di Amerika Serikat, terhadap Eropa dan Asia, sehingga, kerugian pasar kredit di pasar finansial di suatu negara yang perekonomian besar menyebabkan kerugiaan berlipat ganda di negara berkembang, yang akan dialami negara. Kondisi ini akan semakin memperburuk gap kondisi perekonomian antara negara maju dan negara berkembang.
(Selengkapnya...)

Bank Indonesia Pertahankan BI Rate di 8 Persen


19.08 WIB

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 8 persen. Deputi Senior Gubernur BI, Miranda Goeltom, usai rapat hari ini mengungkapkan bahwa keputusan bank sentral untuk mempertahankan BI Rate berdasarkan pertimbangan pengendalian inflasi dan pelambatan ekonomi global. Sebelumnya Badan Pusat Statistik melaporkan laju inlasi periode Maret 2008 mencapai 0,95% atau lebih tinggi daripada bulan Februari sebesar 0,65%.

Dewan Gubernur BI dalam pernyataannya mengatakan, BI memandang bahwa perekonomian Indonesia pada triwulan pertama 2008 juga mengalami perlambatan dan tumbuh lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya, disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan ekspor akibat melambatnya perekonomian dunia. Tekanan inflasi ke depan diprakirakan masih cukup tinggi dan didominasi oleh tekanan dari sisi biaya akibat tingginya harga komoditas internasional.

Nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil dan dapat menahan tekanan inflasi yang lebih tinggi akibat meningkatnya harga komoditas internasional. Rata-rata nilai tukar rupiah pada triwulan I-2008 tercatat sebesar Rp9.258,00 per dolar AS. Relatif stabilnya nilai tukar ditopang oleh kinerja Neraca Pembayaran Indonesia yang tetap mencatat surplus seiring dengan tingginya harga komoditas internasional. Dengan perkembangan tersebut, pada akhir triwulan I-2008 posisi cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi USD59 miliar atau setara dengan 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

"Tekanan inflasi ke depan diprakirakan masih cukup tinggi dan didominasi oleh tekanan dari sisi biaya terutama akibat tingginya harga komoditas internasional (imported inflation)", demikian Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah. Menyikapi tekanan inflasi lebih lanjut, Bank Indonesia senantiasa mengelola ekspektasi inflasi masyarakat, diantaranya dengan menjaga agar tidak terjadi kelebihan likuiditas di pasar uang. Inflasi bulan Maret 2008 mencapai 0,95% (mtm), sehingga inflasi IHK dalam triwulan pertama tahun 2008 tercatat sebesar 3,41% (qtq) atau 8,17% secara tahunan.

Kinerja perbankan relatif tetap baik dengan pelaksanaan fungsi intermediasi yang terus meningkat. Kredit perbankan Februari 2008 naik Rp 14,8 triliun (1,4%) sehingga menjadi Rp 1.045,9 triliun. DPK pada Februari 2008 juga naik 0,2% dari Rp 1.471,2 triliun (Jan 2008) menjadi Rp 1.474,5 triliun (Feb 2008). Kenaikan kredit yang lebih besar dari kenaikan DPK pada bulan ini menyebabkan rasio LDR perbankan naik dari 70,1% (Jan 2008) menjadi 70,9% pada Februari 2008. Meski terjadi peningkatan LDR, rasio NPL perbankan masih dapat dijaga pada level dibawah 5% yaitu 4,78 (gross) dan 2,0% (net).

"Ke depan, Bank Indonesia memandang bahwa perekonomian masih akan menghadapi tantangan seiring dengan ketidakpastian yang menyelimuti perekonomian global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2008 diprakirakan melambat dibandingkan dengan tahun 2007. Tekanan inflasi yang masih tinggi diprakirakan akan memperberat upaya pencapaian sasaran inflasi yang telah ditetapkan, sedangkan nilai tukar rupiah diprakirakan masih akan bergerak sesuai dengan perkembangan faktor fundamentalnya", tambah Burhanuddin. Bank Indonesia akan senantiasa mencermati perkembangan aktivitas ekonomi dan inflasi, termasuk sumber-sumber inflasi, dalam waktu-waktu mendatang.

Dalam kaitan ini, Bank Indonesia berpandangan bahwa dengan koordinasi yang semakin baik dan kerja keras seluruh pihak, maka dampak ketidakpastian perekonomian global dapat diminimalisir dan momentum pertumbuhan ekonomi dapat dipelihara.
(Selengkapnya...)

Ketakutan Akan Resesi Mendorong Kembali Pelemahan USD


18.22 WIB

Melemahnya the greenback terjadi karena adanya anggapan dari para pelaku pasar bahwa the Fed akan melakukan tindakan yang "sangat berhati-hati". Bursa Wall Street dan bursa utama lainnya merasakan dampak negatif dari lemahnya pasar perumahan. Bernanke memperingatkan akan terjadinya pergolakan ekonomi AS pada semester pertama tahun ini. Namun muncul tanda tanya besar ketika tiba-tiba Bernanke menghentikan pendapatnya bahwa ekonomi AS sudah berada dalam resesi yang besar, seperti yang dilansir oleh surat kabar NY Times.

Sangat menarik jika terjadinya pemotongan tingkat suku bunga the Fed yang sesuai dengan prediksi Fed Fund Futures, di mana ekspektasinya adalah pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir April. Rebound-nya kembali data ADP tadi malam mengisyaratkan akan meningkatnya juga laporan Non-farm Payrolls Jumat mendatang. Secara skeptis, akurasi laporan ADP ini merupakan fakta bahwa tingkat ADP telah melebih batas estimasi terhdap pertumbuhan sektor ketenagakerjaan selama 6 bulan terakhir, dengan rata-rata 72.000 tenaga kerja. Namun kita juga harus melihat data ISM pada malam ini, jika datanya melemah maka dapat diperkirakan pertumbuhan tenaga kerja akan memburuk di bulan mendatang. Non-farm Payrolls dapat merupakan penilaian Fed dalam menentukan tingkat suku bunga.

Bernanke mengatakan bahwa bahwa inflasi sungguh membutuhkan perhatian. Inflasi harus ditangani, dan mendorong pertumbuhan perekonomian adalah prioritas utama the Fed.

Pada awal tahun, mayoritas pelaku pasar percaya bahwa the Fed akan menghentikan pemotongan suku bunga pada level 2%. Suku bunga sekarang sudah 25 bps dari level itu, hal ini dapat menjadi fokus perhatian Fed dalam menentukan sampai sejauh mana pemotongan suku bunga akakn dilakukan lagi.
(Selengkapnya...)

02 April 2008

Rupiah Mundur Perlahan


17.29 WIB

Nilai tukar rupiah kembali terpeleset sejalan dengan merosotnya IHSG hingga 51 poin. Investor sedang berjaga-jaga menyambut Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang akan dilaksanakan besok.

Pada perdagangan Rabu (2/4/2008) pukul 17.00 WIB, rupiah berada di kisaran Rp 9.210 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.203 per dolar AS.

Para analis memprediksi BI Rate akan bertahan di level 8%, karena tingginya inflasi Maret yang mencapai 0,95%. BI Rate juga akan ditahan untuk menjaga stabilitas pasar finansial yang kini sedang diancam sentimen global.

Sementara dolar AS di pasar regional juga mencatat penguatan menjelang pidato dari Gubernur Bank Sentral AS, Ben Bernanke.

Tercatat dolar AS menguat ke 102,27 yen, dibandingkan sebelumnya di 101,86 yen. Sementara euro juga melemah ke 1,5548 dolar, dibandingkan sebelumnya di 1,5609 dolar.
(Selengkapnya...)