
19.08 WIB
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 8 persen. Deputi Senior Gubernur BI, Miranda Goeltom, usai rapat hari ini mengungkapkan bahwa keputusan bank sentral untuk mempertahankan BI Rate berdasarkan pertimbangan pengendalian inflasi dan pelambatan ekonomi global. Sebelumnya Badan Pusat Statistik melaporkan laju inlasi periode Maret 2008 mencapai 0,95% atau lebih tinggi daripada bulan Februari sebesar 0,65%.
Dewan Gubernur BI dalam pernyataannya mengatakan, BI memandang bahwa perekonomian Indonesia pada triwulan pertama 2008 juga mengalami perlambatan dan tumbuh lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya, disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan ekspor akibat melambatnya perekonomian dunia. Tekanan inflasi ke depan diprakirakan masih cukup tinggi dan didominasi oleh tekanan dari sisi biaya akibat tingginya harga komoditas internasional.
Nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil dan dapat menahan tekanan inflasi yang lebih tinggi akibat meningkatnya harga komoditas internasional. Rata-rata nilai tukar rupiah pada triwulan I-2008 tercatat sebesar Rp9.258,00 per dolar AS. Relatif stabilnya nilai tukar ditopang oleh kinerja Neraca Pembayaran Indonesia yang tetap mencatat surplus seiring dengan tingginya harga komoditas internasional. Dengan perkembangan tersebut, pada akhir triwulan I-2008 posisi cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi USD59 miliar atau setara dengan 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.
"Tekanan inflasi ke depan diprakirakan masih cukup tinggi dan didominasi oleh tekanan dari sisi biaya terutama akibat tingginya harga komoditas internasional (imported inflation)", demikian Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah. Menyikapi tekanan inflasi lebih lanjut, Bank Indonesia senantiasa mengelola ekspektasi inflasi masyarakat, diantaranya dengan menjaga agar tidak terjadi kelebihan likuiditas di pasar uang. Inflasi bulan Maret 2008 mencapai 0,95% (mtm), sehingga inflasi IHK dalam triwulan pertama tahun 2008 tercatat sebesar 3,41% (qtq) atau 8,17% secara tahunan.
Kinerja perbankan relatif tetap baik dengan pelaksanaan fungsi intermediasi yang terus meningkat. Kredit perbankan Februari 2008 naik Rp 14,8 triliun (1,4%) sehingga menjadi Rp 1.045,9 triliun. DPK pada Februari 2008 juga naik 0,2% dari Rp 1.471,2 triliun (Jan 2008) menjadi Rp 1.474,5 triliun (Feb 2008). Kenaikan kredit yang lebih besar dari kenaikan DPK pada bulan ini menyebabkan rasio LDR perbankan naik dari 70,1% (Jan 2008) menjadi 70,9% pada Februari 2008. Meski terjadi peningkatan LDR, rasio NPL perbankan masih dapat dijaga pada level dibawah 5% yaitu 4,78 (gross) dan 2,0% (net).
"Ke depan, Bank Indonesia memandang bahwa perekonomian masih akan menghadapi tantangan seiring dengan ketidakpastian yang menyelimuti perekonomian global. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2008 diprakirakan melambat dibandingkan dengan tahun 2007. Tekanan inflasi yang masih tinggi diprakirakan akan memperberat upaya pencapaian sasaran inflasi yang telah ditetapkan, sedangkan nilai tukar rupiah diprakirakan masih akan bergerak sesuai dengan perkembangan faktor fundamentalnya", tambah Burhanuddin. Bank Indonesia akan senantiasa mencermati perkembangan aktivitas ekonomi dan inflasi, termasuk sumber-sumber inflasi, dalam waktu-waktu mendatang.
Dalam kaitan ini, Bank Indonesia berpandangan bahwa dengan koordinasi yang semakin baik dan kerja keras seluruh pihak, maka dampak ketidakpastian perekonomian global dapat diminimalisir dan momentum pertumbuhan ekonomi dapat dipelihara.