
11.47 WIB
Bank of Japan mempertahankan suku bunga pada rapat pertama yang diketuai oleh Masaaki Shirakawa.
Rapat berlangsung di tengah kekhawatiran ekonomi akan tergelincir menuju resesi.
Shirakawa yang hari ini disetujui oleh parlemen sebagai gubernur BOJ, bersama enam koleganya mempertahankan suku bunga pinjaman 0,5 persen.
Shirakawa ingin mengumpulkan lebih banyak bukti dan data sebelum memutuskan apakah Jepang perlu memangkas suku bunga untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir.
Data-data ekonomi baru-baru ini bervariasi, dimana pertumbuhan ekspor dan inflasi berakselerasi setelah sentiment perusahaan turun ke level terendahnya dalam empat tahun terakhir sementara produksi menurun.
Bank of Japan tidak memiliki pilihan selain mempertahankan suku bunga untuk beberapa saat, karena ekonomi didalam negeri dan diluar negeri melemah.
Yen diperdagangkan pada 102,47 dolar dibanding 102,60 sebelum rilisnya keputusan suku bunga.
Ekonomi Jepang miliki kemungkinan kembali menguat setelah terjadi pelemahan, walau resiko masih ada setelah AS diterpa krisis kredit macet terparah sejak Great Depression, dan pasar keuangan dunia masih rapuh.
Namun BOJ juga menghindari memberikan stimulus secara berlebihan kepada ekonomi di jangka pendek karena akan membahayakan pertumbuhan di jangka panjang.
Kebanyakan ekonom memperkirakan bahwa Bank of Japan akan mempertahankan sikap wait and see sepanjang tahun ini.
Beberapa laporan menunjukkan pertumbuhan ekonomi masih baik. Pertumbuhan ekspor cukup cepat di Pebruari setelah tingginya permintaan dari ekonomi berkembang membantu manufaktur mengatasi penurunan permintaan dari AS. Tingkat upah naik capai dua bulan berturut-turut.
Inflasi Jepang saat ini lebih tinggi dari level suku bunga. Harga konsumen tidak termasuk makanan segar naik 1 persen di Pebruari dibanding tahun lalu. Shirakawa sendiri mengatakan suku bunga Jepang terlalu rendah.