
16.35 WIB
Harga minyak mentah di bursa London hari ini naik kembali, melewati harga $120, setelah BP Plc menutup jalur pipanya di North Sea. Pihak BP menutup Forties Pipeline System, yang mampu memenuhi 40 persen kebutuhan produksi Inggris akibat pemogokan buruhnya yang menuntuk kenaikan uang pensiun. Aksi ini akan dilakukan selama 48 jam, sejak minggu kemarin.
Sementara serangan milisi Nigeria telah menutup jalur pipa, sehingga menurunkan kapasitas produksi Nigeria hingga 50 percent sejak tanggal 25 April kemarin. Meskipun kenaikan ini masih terkontrol dalam pandangan pelaku pasar, mengingat sebelumnya pelaku pasar sudah memperkirakan akan meroketnya harga minyak akibat gangguan suplai. Sementara kebutuhan yang tinggi menjelang liburan musim panas di AS juga mendorong kenaikan lebih lanjut.
Untuk pengiriman bulan Juni, rata-rata naik $1.41, hingga 1.2 persen, ke harga $119.93 pada penutupan perdagangan minggu kemarin di Bursa New York , yang merupakan harga tertinggi semenjak tahun 1983. Harga saat ini di Bursa New York lebih tinggi 82persen dibanding harga tahun lalu. Para investor rata-rata menggunakan ini untuk melindungi posisi mereka atas Dolar yang terus melemah terhadap Euro dan untuk meningkatkan ekuiti mereka. Indek S&P 500 sendiri juga jatuh 9.8 persen sejak awal tahun ini.
Minyak dari North Sea dan Nigeria, produsen minyak terbesar di Afrika memiliki kualitas yang baik, dengan kandungan belerang yang rendah dan banyak disukai oleh para penyuling. Akibat gangguan keamanan di Nigeria, maka pasokan minyak menurun hingga 50 persen khususnya setelah serangan terhadap jalur pipa Exxon Mobil Corp. dan Royal Dutch Shell Plc. AS saat ini mengimpor sekitar 10 hingga 15 % dari total produksi Nigeria. Produksi Nigeria dalam sehari adalah 1.96 juta barrel per hari di bulan Maret. serangan ke jalur pipa Shell, mengurangi 140,000 barrel per hari. Sementara serangan ke Exxon mengurangi 765,000 barrel per hari.
Akibat berkurangnya suplai minyak dari Nigeria dan ditutupnya jalur pipa BP di North Sea termasuk menurunnya produksi dari Russia dan Mexico, yang selama ini merupakan dua negara terbesar suplai minyak diluar anggota OPEC telah membuat harga minyak meroket.
Kenaikan ini bagi beberapa orang dipandang sebagai hal yang sudah dipolitisasi, mengingat hampir setiap hari selalu terjadi kenaikan harga. Menurut Jonathan Kornafel, dari Hudson Capital Energy di Singapura, "It's political, it's supply. Everyday there's something pushing prices higher." Bagi pihak Hedge fund managers dan beberapa spekulan besar lainnya, kenaikan ini membawa keuntungan yang besar hampir tiga kali lipat dalam sepekan.
Meski demikian tingginya harga minyak dan kondisi yang meliputi kenaikan tersebut, diperkirakan harga minyak akan jatuh kembali ke harga yang moderat, ke level yang lebih realistis . Harapan turunnya harga minyak ini akan terjadi setelah jalur the Forties akan dibuka kembali. Factor eksternal lain adalah kenaikan bursa saham AS dan menguatnya kembali Dolar AS. Melambatnya perekonomian AS disisi lain memaksa The Fed untuk memangkas suku bunga lebih rendah lagi, pelaku pasar berharap The Fed justru akan mengakhiri kebijaksanaan pemangkasan suku bunganya. Jika benar The Fed tidak memangkas suku bunga kembali, minyak diperkirakan akan turun kembali.
The Fed dijadwalkan akan mengadakan pertemuan pada minggu ini di mana akan pasar memperkirakan mereka akan memangkas suku bunga sebesar seperempat point pada tanggal 30 April nanti, yang akan menjadi penurunan suku bunga terkecil dalam empat bulan terakhir ini.