19.55 WIB
Pemerintah Jepang menominasikan deputi gubernur Bank of Japan, Toshiro Muto, sebagai calon kuat pengganti Toshihiko Fukui, demikian seperti yang dilansir oleh kantor berita NHK. Rekomendasi ini akan diajukan ke parlemen Jepang hari Jumat ini.
Fukui, yang telah mengabdikan dirinya untuk membantu menjalankan roda perekononomian Jepang selama lima tahun berencana akan mengundurkan diri pada tanggal 19 Maret mendatang.
Bagaimanapun, masih merupakan tanda tanya besar apakah Partai Demokratik Jepang (Democratic Party of Japan/DPJ) akan menyetujui atau bahkan menolak pencalonan Muto ini karena alasan politis.
DPJ, yang cukup berpengaruh di kalangan atas parlemen Jepang, telah diindikasikan akan menghalang-halangi usaha yang akan dilakukan oleh pemerintah dan koalisinya dalam menominasikan pengganti Fukui, meskipun jika hal itu berarti posisi gubernur BoJ akan dibiarkan kosong untuk sementara.
DPJ terlihat tidak terlalu bersemangat atas pencalonan Muto ini. Bahkan beberapa anggota DPJ berargumen bahwa latar belakang Muto dalam pemerintahan berpotensi untuk ‘membahayakan’ kebebasan BoJ dalam menentukan arah kebijakan moneter. Muto sendiri adalah mantan seorang pejabat tinggi di kementerian keuangan, dan pernah menjadi deputi gubernur BoJ pada tahun 2003.
Pendapat beberapa anggota DPJ tersebut berseberangan dengan dukungan yang dikumandangkan oleh koalisi dari Liberal Democratic Party dan New Komeito, yang juga berpengaruh di parlemen. Koalisi ini menyetujui pencalonan Muto sebagai kandidat pengganti Fukui.
Sementara itu, pemerintah juga mengusulkan kepada parlemen untuk mencalonkan Masaaki Shirakawa (mantan direktur eksekutif BoJ) dan Takatoshi Itoh (profesor di Tokyo University) sebagai kandidat deputi gubernur menggantikan Muto dan Kazumasa Iwata.
Shirakawa dianggap sebagai tokoh kunci di belakang kebijakan uang longgar yang dilakukan oleh BoJ pada tahun 2003, yang mengarahkan suku bunga menjadi nol untuk menghadapi deflasi.