World Clock

Economic Calendar (Waktu Dalam GMT-5)

27 Mei 2008

4 Data Penting Untuk Pasar Forex Minggu Ini



14.00 WIB

Seiring kembalinya para trader Amerika Serikat dari hari libur Memorial Day, sejumlah data ekonomi telah menanti. Kebanyakan data tersebut berpotensi melemahkan USD dari data melemahnya sektor perumahan, consumer confidence, dan durable goods orders. Di lain pihak, GDP Q1 yang akan dirilis hari Kamis diprediksi akan mengalami perbaikan, yang bisa dianggap sebagai “anugerah” yang besar bagi USD. Sementara itu, para trader euro bersiap menanti data tenaga kerja Jerman.

• US New Home Sales, Consumer Confidence –27 Mei
Hari ini, data ekonomi Amerika Serikat seakan-akan mempertegas alasan mengapa para trader beranggapan bahwa negeri itu sedang berada di tengah-tengah resesi. Pukul 21.00 WIB malam ini, indeks harga perumahan diprediksi akan jatuh ke 522K dari 526K. Demikian pula data consumer confidence yang diperkirakan jatuh mendekati level terendah selama 15 tahun menjadi 60,0 dari 62,3, yang hal ini tidak lebih mengejutkan dibandingkan dengan meroketnya harga makanan dan BBM, ditamba kolapsnya sektor perumahan dan pengetatan kredit yang memunculkan pesimisme pada pasar finansial. Lebih jauh lagi, sektor tenaga kerja mulai memburuk, menngingat bahwa tingkat pengangguran perlahan mulai naik di bulan-bulan terkahir.

• US Durable Goods Orders – 28 Mei
Dapatkah Boeing “membantu” memperbaiki data durable goods orders? Sepertinya tidak, karena tingkat pemesanan pesawat terbang ternyata mengalami penurunan. Untuk bulan April saja, Boeing melaporkan hanya menerima pesanan untuk 58 pesawat, lebih kecil dari pemesanan di bulan Maret sebanyak 99 pesawat. Karena berita ini akan memberikan dampak yang cukup besar, kita juga harus memperhatikan data non-defense capital goods orders ex. Aircraft, karena data ini bisa menjadi semacam leading indicator untuk investasi bisnis.

• German Unemployment Change – 29 Mei
Sektor tenaga kerja Jerman diprediksi akan mengalami perbaikan. Tingkat pengangguran diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar 7,8 persen, hampir mendekati angka terendah dalam 16 tahun. Rendahnya tingkat pengangguran telah membantu perekonomian Jeman dalam beberapa bulan terakhir, terlihat dari perbaikan secara bertahap di sektor manufaktur. Bagi Anda yang bertransaksi EUR/USD seharusnya memperhatikan data ini.

• US Q1 GDP Annualized (Revision) – 29 Mei
US GDP diprediksi mengalami revisi naik sebesar 0,9 persen, lebih tinggi dari perkiraan awal 0,6 persen di kuartal pertama. Namun jika ternyata data ini meleset dari perkiraan, apapun itu, efeknya terhadap USD bisa sangat signifikan, bahkan bisa terasa dalam waktu yang luar biasa cepat. Jika melihat sentimen yang lemah terhadap perekonomian Amerika Serikat, figur data yang secara mengejtkan kuat bisa memicu rally pada the greenback. Sebaliknya, jika justru data yang muncul ternyata buruk, maka hal ini hanya akan memperparah kekhawatiran akan resesi dan pada gilirannya akan memicu pelemahan USD.
(Selengkapnya...)

26 Mei 2008

Bagaimanakah Krisis Minyak Mempengaruhi USD?


20.00 WIB

Harga minyak dunia melambung dan USD terpuruk, namun apakah ini merupakan hubungan sebab akibat yang “natural” di antara keduanya? Saya melakukan studi tentang hubungan antara minyak dengan the greenback, dan jika melihat pada kilas balik dua kali krisis minyak yang terjadi empat dekade yang lalu (1973 dan 1979), sepertinya hal itu tidak sepenuhnya benar.

Krisis Minyak Tahun 1973: Awalnya Dollar Bullish, Pada Akhirnya Bearish

Pada tahun 1973, harga minyak “terbang” sejauh 134% ketika anggota OAPEC (yaitu OPEC plus Mesir dan Syria), mengumumkan bahwa mereka tidak akan mau lagi mengekspor minyak ke negara-negara yang mendukung Israel dalam konflik antara Israel dengan Syria dan Mesir. Praktis hal ini menutup pintu ekspor ke Amerika Serikat, Eropa Barat dan Jepang. Akibatnya, harga minyak naik secara signifikan karena pengurangan yang tajam terhadap suplai minyak. Di saat yang sama, Arab Saudi, Iran, Irak, Abu Dhabi, Kuwait, dan Qatar secara bersama-sama menaikkan harga minyak sebesar 17 persen dan mengumumkan pengurangan produksi setelah melakukan negosiasi dengan beberapa perusahaan minyak yang besar.

Respon awal terhadap kejutan harga minyak ini ditandai dengan naiknya indeks dollar (berdasarkan data indeks dollar dan harga minyak dari Federal Reserve negara bagian St Louis, lihat gambar), yang juga menguat terhadap mata uang utama lainnya, namun tidak lama kemudian dollar dijual kembali dalam skala besar. Saat itu Federal Reserve tengah berjuang memerangi tekanan inflasi dengan senjata andalan mereka: yaitu menaikkan suku bunga. Lonjakan harga minyak dunia memicu the Fed untuk menaikkan lagi tingkat suku bunganya, dan memaksa the Fed untuk menaikkan Fed Funds Rate dari 7,5 persen di bulan Mei 1973 hingga menjadi 13 persen pada musim panas 1974. Fokus pada inflasi pada mulanya memberikan sentimen bullish pada dollar, namun segera setelah peningkatan suku bunga mulai memberikan dampak yang serius terhadap pertumbuhan ekonomi AS, tren dollar menjadi bearish. Antara kuartal ke tiga tahun 1973 dan kuartal pertama tahun 1975, pertumbuhan GDP menyusut selama lima dari tujuh kuartal, dan sebagai respon atas memburuknya pertumbuhan tersebut, the greenback melemah.



Grafik indeks dollar dan harga minyak dunia selama Agustus 1973-Mei 1974. (Sumber: Federal Reserve negara bagian St Louis)

Krisis Minyak tahun 1979: Awalnya Dollar Bullish, Pada Akhirnya Bearish

Krisis minyak ke dua yang dialami Amerika Serikat pada tahun 1979 dipicu oleh revolusi di Iran dan diperparah oleh kurangnya persediaan bensin. OPEC menaikkan harga minyak hingga 14,5 persen pada tanggal 1 April 1979. Tidak lama kemudian, OPEC menaikkan lagi harga minyak untuk kedua kalinya sebesar 15 persen, Amerika Serikat menghentikan impor minyak dari Iran, sementara Kuwait, Iran dan Libya menghentikan produksinya. Arab Saudi juga pada akhirnya menaikkan harga pasaran minyak mentah mereka menjadi $24 per barel. Akibat semua faktor tersebut, harga minyak mentah dunia meningkat sebesar 118 persen dalam rentang waktu antara Januari hingga Desember 1979.

Efek terhadap the greenback waktu itu dengan seperti yang terjadi pada krisis minyak tahun 1973; pada mulanya mengalami rally, lalu kemudian melemah. Pada saat itu, the Fed juga sedang giat-giatnya menaikkan suku bunga untuk mengendalikan tekanan inflasi. Antara bulan Januari hingga Desember 1979, suku bunga naik dari 10 persen ke 14 persen, dan pada bulan Maret 1980, Fed Fund Rate mencetak rekor tertinggi sebesar 20%. Pertumbuhan GDP per kuartal jatuh 7,8 persen pada kuartal ke dua tahun 1980, memicu kejatuhan dollar.



Kenaikan Harga Minyak tahun 1990: Dollar Terus Melemah

Sepanjang rentang waktu antara Juni dan Oktober 1990, harga minyak juga melonjak sebesar 113 persen akibat Perang Teluk. Yang menarik adalah bahwa “kelakuan” USD saat itu sangat berbeda dibandingkan dua krisis minyak sebelumnya. Hal ini disebabkan paling tidak karena dua alasan. Pertama, karena karakteristik harga minyak yang bersifat “sementara”, di mana harga mulai jatuh enam bulan setelah mengalami kenaikan.

Ke dua, disebabkan oleh siklus kebijakan moneter the Fed. Tidak seperti pada krisis tahun 1973 dan 1979, pada tahun 1990 the Fed mulai memotong suku bunga sebelum lonjakan harga minyak terjadi, dan pemotongan suku bunga terus berlanjut selama tahun 1990 hingga 1991. Dollar berada dalam downtrend karena kebijakan moneter yang longgar. Pelemahan berlanjut seiring dengan pelambatan pertumbuhan yang ditandai dengan stagnannya GDP di kuartal ke tiga tahun 1990, dan selanjutnya jatuh sebesar 3 dan 2 persen di dua kuartal berikutnya.

Bagaimana Dengan Kenaikan Harga Minyak Tahun 2007 dan 2008?

Peristiwa naiknya harga minyak sepanjang tahun 2007 dan 2008 dan efeknya terhadap USD lebih kurang mirip dengan kejadian tahun 1990. Oleh karena itu menjadi lebih mudah untuk memahami mengapa the greenback terus mengalami pelemahan, meskipun tekanan inflasi meningkat.

Seperti yang telah kita ketahui, the Fed telah terus-menerus melakukan pemotongan suku bunga, dan faktor inilah yang lebih mendominasi pelemahan USD. Jadi, jika merujuk pada kejadian tahun 1973 dan 1979, harga minyak bukanlah merupakan faktor dominan pelemahan the greenback. Pada dasarnya pasar telah yakin bahwa the Fed tidak akan menaikkan suku bunga – dan pasar melihat ada alasan yang bagus untuk itu, karena berdasarkan pengalaman dari 3 kejadian sebelumnya (lonjakan harga minyak), pertumbuhan di kuartal berikutnya seharusnya mengalami penyusutan. Pada tahun 1990-an, the Fed berhenti melakukan pemotongan suku bunga seperti yang mereka perkirakan pada bulan Juni, namun ternyata kemudian mereka kembali meneruskan pemotongan suku bunga karena pelambatan ekonomi. Tentu saja, suku bunga waktu itu jauh lebih tinggi daripada saat ini, namun jika pertumbuhan tak kunjung meningkat, bayang-bayang pemotongan suku bunga masih belum akan sirna.



(Selengkapnya...)

22 Mei 2008

The Fed : Pengangguran Meningkat, Pertumbuhan AS Turun Tahun Ini


10.58 WIB

Pihak Federal Reserve mengumumkan proyeksi pertumbuhan mengalami penurunan tahun ini akibat kenaikan pengangguran, krisis kredit, perumahan dan kenaikan harga minyak

Bursa Wall Street terkoreksi cukup tajam pada perdagangan hari ini, kembali indeks Dow Jones ditutup lebih dari 200 poin setelah The Fed mengumumkan laporan bahwa pengangguran tahun 2008 mengalami peningkatan sehingga pertumbuhan AS diproyeksikan akan menurun. Selain itu, kenaikan harga komoditi dan krisis kredit membuat laju inflasi masih cukup tinggi. Laporan ini mengisyaratkan bahwa The Fed memungkinkan untuk memangkas suku bunga kembali. Sebelumnya, The Fed sempat mengisyaratkan bahwa mereka tidak akan memangkas suku bunga kembali, mengingat suku bunga saat ini dianggap telah ideal untuk menopang pertumbuhan AS.

The Fed berharap bahwa kebijaksanaan memangkas suku bunga ditambah dengan dikeluarkannya dana $168 milyar sebagai tax rebate untuk merangsang pertumbuhan bisnis akan membantu meningkatkan pertumbuhan AS pada semester kedua tahun ini. Dalam pandangan The Fed, perekonomian saat ini melemah; namun semester kedua diharapkan akan menguat kembali. Untuk meyakinkan harapan bahwa semester kedua nanti, pertumbuhan ekonomi bisa menguat dan kekhawatiran inflasi mereda, The Fed menunjukkan sinyal bahwa suku bunga 2% saat ini tidak akan dipangkas lagi.

Hampir semua anggota Gubernur The Fed melihat bahwa keputusan untuk mengurangi suku bunga sudah berakhir dan perhatian saat ini lebih ditujukan untuk memperhatikan resiko laju inflasi seiring dengan kenaikan harga minyak dan komoditi.

Berdasarakan perkiraan ekonomi The Fed yang terbaru, bahwa GDP AS saat ini hanya akan tumbuh sekitar 0.3 persen hingga 1.2 persen tahun ini. Yang merupakan perkiraan lebih renadh daripada perkiraan The Fed sebelumnya dibulan Februari dimana pertumbuhan diperkirakan mencapai 1.3 persen hingga 2 persen. Perekonomian AS juga akan melambat dengan kenaikan pengangguran yang meningkat 5.5 persen hingga 5.7 persen tahun ini. Dimana perkiraan sebelumnya hanya sekitar 5.3 persen. Tahun lalu, pengangguran AS hanya mencapai 4.6 persen.

Seiring dengan kenaikan harga komoditi dunia, termasuk minyak, The Fed menaikkan proyeksi inflasi, dimana diperkirakan inflasi akan mencapai 3.1 persen hingga 3.4 persen tahun ini. Proyeksi ini lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya, dimana diperkirakan hanya sekitar 2.1 hingga 2.4 persen saja.

Minyak menembus $130 per barel yang menyebabkan harga gas terseret ke $4 per galon.

Pada pertemuan bulan April tersebut, terdapat dua anggota Gubernur yang menolak pemangkasan suku bunga yaitu Charles Plosser, Gubernur Bank Philadelphia, dan Richard Fisher, Gubernur Bank Dallas. Meski ada penentangan, namun kebijaksanaan pemangkasan suku bunga tetap dijalankan dan pemangkasan kemarin diisyaratkan sebagai pemangkasan terakhir.

Banyak pengamat memperkirakan bahwa The Fed akan tetap mempertahankan suku bunga saat ini pada pertemuan mereka tanggal 24-25 Juni nanti. Hal ini sebagaimana diisayaratkan oleh Gubernur Kevin Warsh, menyatakan bahwa meski perekonomian melemah,namun bukan berarti akan menambah pukulan lagi terhadap pasar.
(Selengkapnya...)

MPC Minutes: 8-1 Hold


10.47 WIB

Para anggota Monetary Policy Meeting masih berbeda pendapat mengenai suku bunga pada rapat 7 dan 8 Mei lalu.

Hasil rapat keputusan suku bunga dibulan Mei menunjukkan bahwa komite kebijakan moneter memilih 8-1 untuk mempertahankan suku bunga pada 5 persen.

Minutes menyatakan kebanyakan anggota memiliki pendapat yang sama bahwa pemangkasan suku bunga di Mei akan menyulitkan mempertahankan ekspektasi inflasi sesuai target.

Inflasi CPI saat ini sudah berada pada 3 persen dan komite memperkirakan inflasi akan naik dijangka pendek.

Para penentu keputusan menegaskan bahwa diperlambatnya pertumbuhan suku bunga sangat perlu agar inflasi dapat dekati target sekitar dua tahun kedepan.

Jika suku bunga dipangkas bulan ini maka akan memberi kesan bahwa komite kebijakan cenderung mencoba menstabilkan pertumbuhan ketimbang mempertahankan fokusnya pada target inflasi.

David Blanchflower merupakan satu-satunya anggota komite suku bunga yang menentang dipertahankannya suku bunga. Dia justru meminta agar suku bunga dipangkas 25 basis poin. Blanchflower merasa penting sekali untuk meraba prospek inflasi di jangka pendek.

Menurutnya faktor-faktor yang mendorong inflasi adalah harga minyak dan komoditas, yang berada diluar kontrok komite kebijakan moneter. Dengan flatnya pertumbuhan upah, kecenderungan inflasi berada diatas target sedikit mengecil.
(Selengkapnya...)

Bursa Tokyo Diperkirakan Masih Akan Jatuh


09.30 WIB

Jatuhnya bursa Wall Street tadi malam diperkirakan akan mempengaruhi bursa saham global. Penguatan Yen terhadap the greenback bisa membuat saham eksportir terpuruk.

Saham-saham bluechips di bursa Tokyo diperkirakan akan tertekan setelah Wall Street jatuh menyusul indikator ekonomi yang memburuk serta kenaikan harga minyak yang mencetak rekor tertinggi baru.

Sementara itu, rilis laporan dari FOMC Minutes menyebutkan bahwa kondisi pertumbuhan perekonomian AS diperkirakan akan melemah melebihi perkiraan sebelumnya, yang dipicu oleh peningkatan tingkat pengangguran.

Menguatnya Yen terhadap Dolar AS juga akan memberikan efek negatif terhadap pasar yang menyebabkan saham-saham eksportir akan jatuh.

Dow Jones terpuruk 227.49 poin atau 1.77 persen ke level 12,601.19, setelah sebelumnya sudah jatuh sekitar 200 poin, sehingga dalam 2 hari sudah terkoreksi sebesar 427 poin atau 3.3 persen, yang merupakan kejatuhan terbesar sejak 28 – 29 Februari. Nasdaq jatuh 43.99 poin. Nikkei Chicago diperdagangkan melemah, jatuh 13,765 poin lebih rendah daripada harga penutupan di Osaka. Berdasarkan data-data ini, diperkirakan bahwa pasar akan dibuka lebih rendah lagi.
(Selengkapnya...)

21 Mei 2008

Parlemen Akan AS Menuntut OPEC Bertanggung Jawab Atas Harga Minyak


18.22 WIB

Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (The House of Representatives) menyetujui rencana Departemen Hukum yang akan menuntut anggota OPEC yang membatasi supplai minyak dan bekerja sama dalam menentukan harga minyak. Namun Gedung Putih mengancam akan memveto tindakan itu.

Rancangan tersebut ditujukan terhadap produsen minyak anggota OPEC, termasuk Arab Saudi, Iran dan Venezuela, dalam hal ini merujuk kepada antitrust law (undang-undang yang menentang penggabungan industri-industri) yang harus dipatuhi oleh perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat.

Persetujuan tersebut lolos berdasarkan hasil voting, 324 berbanding 84, suatu perbandingan yang cukup besar untuk mengesampingkan veto presidensial.
Dewan legislatif juga membentuk sebuah tim khusus untuk menyelidiki manipulasi harga bensin dan bahan bakar lainnya.

Salah seorang anggota fraksi Demokrat, Steve Kagen, mengatakan bahwa rancangan ini bertujuan agar harga minyak dapat benar-benar mencerminkan tingkat supply & demand menurut prinsip ekonomi, juga diharapkan bisa mengantisipasi aktivitas spekulasi dan mungkin juga aktivitas ilegal.

Para lawmaker berpendapat bahwa rakyat Amerika saat ini “berada dalam kemurahan hati” dari OPEC, menyusul harga bensin yang sangat tinggi saat ini di Amerika Serikat, yaitu mencapai $3.79 per galon.

Gedung Putih menentang rancangan tersebut, yang beralasan bahwa gagasan tersebut akan dapat memicu “tindakan balasan” terhadap kepentingan Amerika di negara-negara yang dijadikan target tuntutan tersebut. Hal ini bisa berdampak pengurangan suplai minyak dan berdampak buruk bagi sektor kilang minyak.

Pihak eksekutif berpendapat jika suplai minyak ke pabrik penyulingan berkurang, maka pasokan bensin pun akan terganggu, dan pada gilirannya hal ini akan menyebabkan naiknya harga BBM.

(Selengkapnya...)

Suku Bunga AS: Sudah Tepatkah Level Saat Ini?


13.59 WIB

Tekanan inflasi di Eropa memang tidak sekuat di AS, mendorong euro kuat ditambah kemungkinan The Fed tidak menaikkan suku bunga dalam waktu dekat ini.

Dolar jatuh pada perdagangan hari ini setelah data inflasi menunjukkan perekonomioan AS masih lemah dan menjauhkan dari kemungkinan The Fed akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat ini.

Selain data producer prices Jerman , yang mendorong euro menguat, sehingga menembus level tertinggi dalam tiga minggu ini di level $1.5674 adalah adanya pernytaan dari salah satu lembaga think tank di Jerman yang menyatakan bahwa suku bunga di euro zone mestinya dinaikkan.

Tekanan inflasi di Eropa memang tidak sekuat di AS, hal ini mendorong euro lebih kuat dari Dolar AS, data indikator producer price AS yang hanya naik 0.2 percent dibanding bulan lalu menunjukkan bahwa. consumer sentiment AS berada pada titik terendah sejak 1980.

Donald Kohn, wakil gubernur The Fed hari ini menyatakan bahwa suku bunga saat ini sudah sesuai dengan kondisi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi AS. Situasi saat ini mungkin terasa carut-marut dengan data-data ekonomi yang menunjukkan bahwa core producer prices, tidak termasuk energi dan makanan, menguat daripada perkiraan pasar sebesar 0.4 percent. Hal ini menyulitkan bagi the Fed yang telah mengurangi suku bunganya tinggal 2%.

Euro awal pekan ini melemah setelah indek sentiment investor Jerman jatuh untuk bulan Mei. Namun menguat setelah ada kemungkinan bahwa bank sentral Eropa justru akan menaikkan suku bunga. Sebelumnya, ECB mempertahankan suku bunga tetap 4 percent selama hampir setahun terakhir ini meski harga minyak melambung tinggi sehingga memberikan tekanan inflasi.

Kenaikan Euro juga dipicu akan kenaikan inflasi producer price Jerman yang menembus angka tertinggi dalam 20-bulan terakhir, yang memungkinkan suku bunga akan dinaikkan lagi. Bahkan berdasarkan survey, sentiment bisnis Jerman dapat menyebabkan Euro menembus level tertingginya kembali diatas $1.60.

Meski demikian, melemahnya perekonomian Eropa juga menimbulkan kekhawatiran bagi sebagaian pelaku pasar dimana menyulitkan untuk melihat kebijaksanaan apa yang akan diambil oleh bank kemudian. Melihat pertumbuhan ekonomi pada kuartal empat terakhir yang baik, nampaknya tidak akan menyulitkan mereka kembali
(Selengkapnya...)

20 Mei 2008

Bank of Japan Mempertahankan Suku Bunga


10.35 WIB

Bank of Japan (BoJ) hari ini memutuskan untuk mempertahankan suku bunga di 0,5%. Keputusan ini merupakan keputusan bulat berdasarkan hasil voting ketujuh anggota policy board.

Keputusan ini telah diperkirakan sebeelumnya oleh para pelaku pasar. BoJ tampaknya masih membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan sampai sejauh mana Amerika Serikat, yang merupakan salah satu partner dagang Jepang yang penting, dapat menghindari resiko resesi yang disebabkan oleh krisis kredit dan jatuhnya harga perumahan.

BoJ juga perlu memastikan apakah perekonomian Jepang dapat tetap berada dalam jalur yang tepat menuju recovery, meskipun masih ada ketidakpastian di sektor korporat dan lonjakan harga bahan baku.
(Selengkapnya...)

15 Mei 2008

Inflasi Inggris Diperkirakan Meningkat


09.00 WIB

Bank of England (BoE) memprediksi bahwa inflasi akan mendekati 4% tahun ini, 2% melebihi target.

Laporan inflasi per kuartal BoE yang dirilis kemarin mengatakan bahwa inflasi tahunan kemungkinan naik menjadi 3,7% di kuartal ke-3 tahun ini akibat kenaikan harga energi dan impor.

Namun, berdasarkan fan chart, yang menunjukkan serangkaian probabilitas, mengindikasikan ada kemungkinan inflasi dapat mencapai 4% atau lebih.

Jika prediksi ini benar-benar menjadi kenyataan, maka Gubernur BoE, Mervyn King, akan harus menulis surat ke Menteri Keuangan Alistair Darling yang menjelaskan kenapa inflasi melebihi target 2%. Laporan yang diumumkan kemarin menunjukkan CPI naik menjadi 3%.

Selain masalah inflasi, BoE juga menaruh perhatian pada ancaman pelambatan ekonomi Inggris yang terancam stagnan tahun ini, bahkan bukan tidak mungkin merebak menjadi ke resesi karena krisis kredit.

BoE memperkirakan ada kemungkinan besar pertumbuhan PDB akan jatuh ke 1% akhir tahun ini, terendah sejak awal 1990an, meski pelemahan sterling dapat mendorong ekspor.

Proyeksi ekonomi tersebut menggambarkan dilema yang harus dihadapi BOE. Di satu sisi, inflasi yang tinggi mengindikasikan suku bunga harus dinaikkan. Di sisi lain, ekonomi yang lesu mengharuskan suku bunga diturunkan.

Laporan Inflasi tersebut akan semakin mengurangi kemungkinan pemangkasan suku bunga bulan depan. Para ekonom memperkirakan suku bunga BOE akan tetap 5% sampai akhir tahun ini.

(Selengkapnya...)

14 Mei 2008

Dollar Terdongkrak Berkat Data Ex-Auto Retail Sales


12.00 WIB

Data ex-auto sales kemarin (13/5) memberikan kejutan pada pasar dengan kenaikan menjadi 0,5%, jauh di atas prediksi sebesar 0,2%. Sementara itu, data Ex-auto ex gas sales meningkat menjadi 0.6%, yang merupakan peningkatan tercepat sejak bulan Juli tahun lalu. Data-data ini memberikan sentimen yang positif terhadap the greenback yang kemudian mengalami rebound cukup signifikan terhadap sejumlah mata uang utama.

Berbeda dengan kisah yang dialami Sterling. Data CPI kemarin, menyusul data PPI hari sebelumnya, secara mengejutkan memberikan efek positif sementara terhadap Sterling. Data CPI yang naik memunculkan spekulasi bahwa BoE akan batal menurunkan suku bunganya sebesar 25 basis poin, sebagaimana rumor yang beredar beberapa hari terakhir ini. Namun, setelah hentakan reaksi positif terhadap Sterling akibat data tersebut, Sterling jatuh tajam terhadap USD. Hal ini lebih diakibatkan munculnya kekhawatiran akan inflasi yang tinggi yang akan memberikan dampak negatif terhadap laju perekonomian. Padahal perekonomian Inggris masih lemah akibat krisis kredit.

Pasar finansial saat ini masih “jauh dari normal”. Permasalahan subprime mortgage yang melanda AS masih memerlukan penyelesaian dengan segala konsekuensinya, belum lagi adanya ‘krisis kepercayaan’ yang terjadi di antara para pelaku pasar.
(Selengkapnya...)

13 Mei 2008

Ke Manakah Arah Perekonomian AS?


15.00 WIB

Pasar kredit dan sektor perumahan masih belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Perekonomian AS masih dalam kondisi yang tak menentu.

Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan akan berangsur-angsur membaik. Inflasi pun diperkirakan akan menurun. Fed memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara adidaya tersebut akan kembali ke level potensinya, yaitu 2,5%. Fed sendiri menargetkan inflasi akan kembali ke target 1,5-2,0% paling lambat tahun 2010.

Mengapa pemulihan ekonomi AS akan terkesan berjalan begitu lambat? Salah satu alasannya adalah bahwa gejolak pasar finansial berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Bercermin pada pengalaman yang dialami AS pada awal tahun ’90-an, di mana krisis kredit menjadikan banyak bank yang enggan untuk memberikan pinjaman. Hal inilah yang menyebabkan pemulihan ekonomi berjalan sedemikian lambatnya.

Salah seorang petinggi the Fed, Charles Evans, yang merupakan presiden the Fed untuk distrik Chicago, berpendapat bahwa AS masih akan menghadapi masalah khususnya di sektor perumahan. Pendapat Evans ini cukup masuk akal, mengingat mayoritas investor di AS masih enggan untuk membeli rumah saat ini karena khawatir harga perumahan masih belum menemui titik terendahnya. Ia juga mengatakan ada kemungkinan pembelanjaan konsumen dan bisnis semakin turun.

Pelipur lara bagi ‘kesedihan’ yang dialami Paman Sam saat ini adalah kenaikan ekspor AS dan masih adanya kemungkinan membaiknya sektor perumahan. Langkah the Fed yang melakukan pemotongan suku bunga akhir-akhir ini juga diharapkan dapat memberikan harapan di tengah badai ekonomi yang tengah melanda, meskipun tidak bisa diharapkan dapat memberikan efek yang instan.

Secara garis besar, kebijakan moneter yang dilakukan pemerintah AS saat ini cukup akomodatif untuk mengatasi masalah perekonomian yang sedang terjadi. Namun, Bernanke dan koleganya tetap masih harus bekerja keras untuk keluar dari himpitan resesi.
(Selengkapnya...)

12 Mei 2008

Indeks PPI Inggris Naik Pada April


19.48 WIB

Indeks PPI Inggris mencatat kenaikan pada April, mengurangi kemungkinan pemangkasan suku bunga Bank of England (BOE).

Badan Statistik Inggris melaporkan bahwa indeks PPI naik 1,4% pada April dari bulan sebelumnya. Dibandingkan tahun sebelumnya, indeks PPI naik 7,5%. Kedua angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak 1986.

BOE diperkirakan akan memangkas suku bunga menjadi 4,75% pada Juni. Namun kenaikan harga bahan baku dan kemungkinan produsen membebankan kenaikan tersebut ke konsumen mengurangi kemungkinan pemangkasan tersebut.

Sterling menguat karena laporan tersebut membuat investor melihat suku bunga tidak diturunkan secepat yang diperkirakan tahun ini.

Laporan CPI untuk April akan diumumkan besok dan para analis memperkirakan CPI akan naik menjadi 2,6% dari 2,5% pada Maret.
(Selengkapnya...)

Minyak: Sampai Ke Mana?


19.38 WIB

Semakin hari, harga minyak semakin membumbung tinggi. Sebuah parade yang tidak terlihat kapan berakhirnya.

Minyak menembus harga tertinggi sepanjang masa, di $ 126 per barel pada perdagangan hari ini. Harga saat ini merupakan dua kali lipat harg atahun lalu, 9 Mei 2007 harga minyak hanya $61.55 per barrel.

Tudingan langsung ditujukan langsung kepada para spekulan dan investor yang rajin memburu minyak untuk melindungi investasi mereka (hedge) dari inflasi, sebagaimana diketahui, bahwa saat perekonomian terlihat melemah, mereka akan ramai-ramai memburu saham-saham sektor tersebut

Menurut pengamat, saat ini minyak merupakan komoditi yang paling tepat untuk meng hedge investasi. Kenaikan harga minyak bergerak secara konsisten seiring dengan melemahnya Dolar AS. Minyak mentah yang dibeli di dengan Dolar AS dan dijual kembali dengan mata uang yang sama, dengan demikian , semakin rendahnya nilai Dolar AS (murah) maka semakin banyak investor yang berbelanja minyak. Akibat permintaan yang benyak ini maka harga minyak semakin tinggi.

Dalam hal pemenuhan permintaan minyak global, saat ini mengalami berbagai kendala yang menjadi factor internal kenaikan minyak Kenaikan harga minyak mencerminkan berkurangnya suplai. Sebagaimana gangguan keamanan di Nigeria dan Irak. Belum lagi kondisi cuaca di teluk Mexico, hari hari ini sering terjadi badai yang dikhawatirkan akan mengganggu suplai ke AS. Hubungan bilateral antara Iran, Venezuela terhadap AS yang tidak baik, juga berpotensi terhadap kenaikan harga minyak saat ini. Demikianlah kondisi pasar global, saling terkait dan tergantung.

Menurut analis dari Goldman Sachs, harga minyak saat ini menunjukkan kemungkinan kenaikannya bisa mencapai $150 bahkan $200 per barel, antara 6 bulan hingga 2 tahun kedepan. Bila harga bisa naik seperti sekarang ini, sewaktu-waktu bisa juag harga akan jatuh kembali. Namun demikian, tidak ada satu pentunjuk saat ini yang bisa menuntun jatuhnya harga minyak, hanya pasar yang bisa menentukan sendiri arahnya.
(Selengkapnya...)

Harga Minyak Dunia Pecahkan Rekor Tertinggi Sepanjang Masa

14.00 WIB

Harga minyak mentah dunia kembali pecahkan rekor ke posisi termahal sepanjang sejarah.

Harga minyak di Pasar New York Merchantile Exchange (Nymex) untuk pengiriman Juni jenis light sweet tembus USD126,25 per barel, dan di tutup di posisi USD125,96 pada perdagangan Jumat 9 Mei, waktu setempat.

Liarnya harga minyak ini disebabkan oleh tingginya ketakutan pelaku pasar komoditi minyak mentah atas kurangnya pasokan minyak. Serta ketegangan di negara produsen minyak, Nigeria, serta pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD).

Pelemahan USD disebabkan oleh kebijakan Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank Sentral Inggris (BoE) yang mempertahankan tingkat suku bunganya. Akibatnya kebijakan itu direspons positif bagi euro dan poundsterling dan USD menjadi jatuh.

"Kebijakan suku bunga dan perdagangan minyak sangat berkolerasi. Harga minyak menjadi sejarah dalam tahun ini. Ini menjelaskan harga bisa lebih tinggi lagi dalam beberapa hari ke depan," ujar analis Sucden, Michael Davies, seperti dikutip AFP, Sabtu (Selengkapnya...)

10 Mei 2008

Weekly Market Review: 5-9 Mei 2008


12.12 WIB

Currencies

Kamis kemarin (8/5) kita telah melihat bahwa EUR/USD menutup kerugiannya dari sesi Asia menyusul keputusan suku bunga ECB dan komentar dari Presiden ECB, Trichet. Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa ECB memutuskan untuk menahan suku bunganya di level 4.00%.

Meskipun demikian, dalam konferensi persnya setelah pengumuman suku bunga, Trichet meneruskan pernyataan hawkish-nya dengan menyebutkan bahwa tekanan inflasi tetap menjadi prioritas utamanya. Disebutkannya pula bahwa Eurozone saat ini tengah berada dalam ‘periode yang panjang’ dari inflasi yang tinggi. Hal ini memperkecil peluang ECB untuk melakukan pemotongan suku bunga dalam waktu dekat.

Bank of England juga membiarkan suku bunganya tetap berada di level 5.00%. Meskipun hal ini telah kita perkirakan sebelumnya, tampaknya kita tetap harus menunggu hasil resmi mengenai hasil voting dari keputusan tersebut, yang akan dirilis pertengahan minggu depan. Hal inilah yang tampaknya menyebabkan GBP ‘agak lebih tenang’ dalam merespon keputusan bunga BoE tersebut.

BoE tengah berada dalam dilema antara tekanan inflasi dan pelambatan ekonomi. Pasar perumahan masih mengalami penurunan, yang membuat kita masih bisa ‘mengharapkan’ adanya pemotongan suku bunga BoE pada bulan Juni mendatang.

Pendirian ECB dan BoE yang lebih mengedepankan resiko inflasi daripada pertumbuhan ekonomi menggiring para spekulan untuk menghindari resiko (risk aversion).

Hal ini terlihat dari pergerakan USD/JPY yang turun ke bawah level 104.00, sementara EUR/JPY bertahan di bawah level 160.00 tanpa terpengaruh oleh recovery yang dialami euro terhadap the greenback.

Pergerakan hari ini hampir bisa dikatakan ‘tenang’. Begitupun, pernyataan yang dikeluarkan oleh Henry Paulson yang menyebutkan bahwa prospek jangka panjang perekonomian Amerika Serikat sangat kuat.

Energi

Harga futures minyak mentah Amerika minggu ini menembus level $125 per barrel.

Sebelumnya, harga minyak sempat turun akibat berita ekspor minyak dalam jumlah besar dari Arab Saudi ke Amerika Serikat hingga bulan Juni mendatang, dan OPEC menyatakan siap untuk memasok lebih banyak minyak jika diperlukan.

Kendati persediaan minyak dunia masih memadai, OPEC merasa masih perlu untuk menambah lagi cadangan minyak untuk mengimbangi permintaan minyak dunia, demikian menurut sekjen OPEC dalam pernyataannya Kamis (8/5) kemarin.

Angola dan Ekuador akan meningkatkan produksinya hingga 220 ribu barrel per hari dalam empat minggu hingga 24 Mei untuk memenuhi permintaan minyak dari Asia, di samping untuk memulihkan supplai minyak Nigeria yang mengalami kelumpuhan pasca serangan kelompok separatis.
(Selengkapnya...)