
12.30 WIB
Akankah ECB menahan suku bunganya pada pertemuan Kamis mendatang? Ataukah akan ada kenaikan suku bunga? Kalaupun ada kenaikan suku bunga, akankah diikuti oleh kenaikan selanjutnya, atau cukup sampai di situ saja?
Itulah beberapa pertanyaan kunci seputar pasar mata uang menjelang pertemuan ECB mendatang. Pernyataan-pernyataan secara konsisten bernada hawkish yang dikeluarkan oleh pihak otoritas di Frankfurt membuat mayoritas pelaku pasar hampir yakin bahwa ECB akan menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin pada pertemuan Kamis mendatang. Para pembuat kebijakan moneter Eropa sangat menaruh perhatian terhadap peningkatan inflasi yang cukup tajam. Data terakhir memperlihatkan kenaikan sebesar 3,7% yoy, jauh di atas target bank sentral 2%.
Bagaimanapun, dalam konferensi pers sebelumnya Trichet secara berhati-hati menekankan bahwa ECB belum bermaksud untuk beraksi dalam serangkaian kenaikan suku bunga. Pertanyaannya kemudian adalah apakah pimpinan ECB akan memberi sinyal bahwa bank sentral tersebut menganggap bahwa strategi yang digunakan saat ini masih cukup baik untuk diteruskan, atau apakah peluang pengetatan kredit masih terbuka hingga sebelum akhir tahun.
Para analis percaya bahwa terbuka peluang bagi ECB untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Kamis ini. Namun, komentar Trichet yang terkesan sangat “berhati-hati” dalam menyikapi inflasi, didukung pula oleh track record ECB yang sangat berhati-hati pula dalam melakukan pengetatan kredit, perlu menjadi faktor yang dicermati untuk mengantispasi prospek suku bunga ECB ke depan.
(Selengkapnya...)
World Clock
Economic Calendar (Waktu Dalam GMT-5)
30 Juni 2008
ECB: Hold or Hike?
Mampukah Dollar Pulih?

11.40 WIB
Minggu lalu kita melihat bahwa nasib the greenback berada di tangan Fed. Apakah Bernanke dan koleganya di FOMC benar-benar serius akan menaikkan suku bunga atau hanya sekedar gertakan saja? Setelah pernyataan resmi Fed yang bernada ambigu, pasar mengambil kesimpulan bahwa FOMC tidak cukup serius dalam memerangi inflasi, dan the greenback kembali melemah.
The Fed kehilangan kesempatan emas untuk “mengejutkan” pasar dengan kenaikan suku bunga minggu lalu. Malahan, sikap FOMC yang terkesan berlengah-lengah menyebabkan situasi semakin buruk. Harga minyak meroket menembus $140 per barrel, sementara pasar saham jatuh tajam dan dollar meneruskan pelemahannya terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya.
Minggu ini ada beberapa topik yang mungkin akan membuat minggu ini menjadi minggu yang menarik. Karena tanggal 4 Juli merupakan hari libur nasional di Amerika Serikat, maka laporan Non-Farm Payroll akan dirilis pada hari Kamis. Pada hari yang sama juga akan dirilis pengumuman suku bunga ECB berikut konferensi persnya. Volatilitas pasar sangat mungkin akan menjadi tinggi menjelang dirilisnya kedua data tersebut, terutama jika ada “kejutan” dari data yang dirilis. Namun juga tidak mengherankan apabila ternyata pasar cenderung menjadi “dingin” sebelum data tersebut dirlis dan baru akan menjadi sangat volatile pasca dirilisnya NFP maupun pengumuman suku bunga ECB.
Jika keadaan pasar tenaga kerja AS ternyata lebih buruk daripada yang diperkirakan pasar (dan data-data terakhir dari initial claims mendukung proyeksi ini!), maka prospek kenaikan suku bunga Fed akan meredup. Kombinasi dari memburuknya data ekonomi AS serta kebijakan moneter yang ketat dari ECB dapat menyeret dollar ke arah pelemahan yang lebih jauh dalam beberapa hari ke depan.
(Selengkapnya...)
27 Juni 2008
Pound Menguat Akibat Pernyataan MPC

13.56 WIB
Poundsterling menguat signifikan menyusul komentar hawkish para pembuat kebijakan Bank of England, sementara dollar melemah akibat pernyataan yang dikeluarkan FOMC menyertai keputusan suku bunga kemarin.
Sterling telah mengalami penguatan dan menemui level tertingginya dalam empat minggu terhadap USD setelah komentar anggota MPC kembali membuka peluang akan adanya kemungkinan kenaikan suku bunga BoE dalam beberapap bulan ke depan.
Deputi Gubernur BoE yang akan segera mengundurkan diri, John Gieve, dan Paul Tucker, bersama anggota eksternal MPC Kate Barker dan Tim Besley, mengkonfirmasikan bahwa mereka mempertimbangkan akan menaikkan suku bunga pada pertemuan mendatang. Namun mereka juga menyebutkan bahwa mereka masih membutuhkan waktu untuk melihat bagaimanakah perkembangan resiko inflasi jangka-menengah.
Gubernur Mervyn King juga mengatakan kepada komite bahwa surat terbukanya minggu lalu yang ditujukan kepada Alistair Darling, yang menjelaskan mengapa inflasi telah naik lebih dari satu persen poin di atas target inflasi BoE sebesar 2,0 persen, tidak bermaksud untuk memberikan kesan dovish.
Penguatan pound terhadap dollar juga dibantu oleh pasar yang terus memberikan tekanan terhadap penguatan dollar pasca keputusan suku bunga Fed.
Sebagaimana yang telah diperkirakan, FOMC menahan suku bunganya di level 2 persen. Namun pernyataan yang menyertai keputusan suku bunga tersebut memberikan sedikit celah untuk kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, di mana disebutkan bahwa meskipun perlambatan ekonomi masih berlanjut, resiko dan ekspektasi inflasi telah meningkat. Meskipun demikian pasar merasa agak kecewa karena Fed sendiri tidak memberikan sinyal yang jelas tentang kapankah suku bunga akan berubah. Akibat ketidakpastian itu dollar melemah signifikan terutama terhadap euro, dan pasar kini memusatkan perhatian pada kemungkinan naiknya suku bunga ECB minggu depan.
(Selengkapnya...)
26 Juni 2008
Akankah Rally Dollar Berakhir?

11.57 WIB
The Federal Reserve menahan suku bunganya di level 2 persen. Namun sayangnya pernyataan yang mengiringi keputusan suku bunga ini kurang hawkish bagi pasar. Ada peluang bahwa Fed akan menaikkan suku bunga bulan September mendatang, namun kelihatannya Federal Reserve tidak terburu-buru untuk membuka kartu karena waktu “berpihak” pada mereka.
Dengan 2 non-farm payrolls dan serangkaian laporan inflasi sebelum pertemuan Fed yang akan datang, bank sentral Amerika tersebut akan mendapatkan proyeksi yang lebih baik apakah sektor konsumen maupun bisnis mampu mengantisipasi kenaikan suku bunga.
Non-farm payrolls dan pertemuan European Central Bank sama-sama dijadwalkan pada hari yang sama minggu depan, dan bisa memberikan dua alasan untuk menjual dollar. Namun pelemahan lebih jauh mungkin hanya sekedar gejolak kecil untuk dollar karena ECB telah jauh-jauh hari “menghangatkan” pasar bahwa rate-hike di bulan Juli mungkin tidak akan terjadi. Oleh karena itu fokus pasar akan kembali mengarah kepada Federal Reserve, yang diperkirakan langkah selanjutnya adalah rate-hike. Jika tekanan inflasi tidak memungkinkan untuk mereda dalam beberapa bulan ke depan, maka itu berarti Federal Reserve akan “dipaksa” untuk memperketat kebijakan moneternya lebih dari sekali. Dalam hal ini, mereka akan merasa lebih hawkish daripada ECB, yang mana hal ini bisa membantu recovery dollar. Hal ini tentu saja dengan asumsi bahwa kondisi perekonomian tidak merosot signifikan selama paling tidak 2 bulan ke depan dan inflasi tidak tiba-tiba turun.
Durable goods orders dan new home sales tidak terlalu berarti karena angka-angka yang dirilis tidak terlalu jauh dari perkiraan.
GDP kuartal pertama, jobless claims dan existing home sales yang akan dirilis hari ini merupakan data yang akan diperhatikan oleh pasar. Ketiganya diperkirakan akan mendukung pergerakan bullish dollar dengan prediksi GDP yang akan direvisi naik dan existing home sales diperkirakan akan mengalami rebound.
(Selengkapnya...)
23 Juni 2008
Dari Editor

13.18 WIB
Para Pembaca yang terhormat.
Kami mohon maaf karena dalam waktu lebih kurang satu bulan blog ini tidak bisa menampilakn berita-berita maupun ulasan pasar yang up-to-date. Untuk selanjutnya kami akan berusaha meng-update berita maupun ulasan pasar secara berkala dan teratur.
Terima kasih atas kepercayaan dan perhatian yang Anda berikan terhadap blog ini. Jika ada saran atau pertanyaan, jangn ragu-ragu untuk menghubungi kami di Divisi Research & Analyst PT Monex Investindo Futures, Jalan Ir. H. Juanda No 70 Bandung, telepon 022-2505770. Atau kirim e-mail ke hrdmonexbdg@yahoo.com.
Terima kasih.
Editor.
(Selengkapnya...)
Weekly Review: Dollar Melemah, FOMC & Carry Trades Menjadi Fokus Pasar

13.14 WIB
Dollar melemah minggu lalu akibat menurunnya ekspektasi para pelaku pasar akan prospek kenaikan Federal Funds Rate. Ekspektasi tersebut melemah didasari oleh sejumlah data ekonomi yang cukup mengecewakan minggu lalu. Di saat yang sama, para pelaku pasar kembali menaruh perhatian pada krisis kredit yang berlangsung. FOMC meeting akan menjadi primadona minggu ini disertai sejumlah data ekonomi penting dari Amerika, Eurozone, dan Inggris.
Data yang dirilis minggu lalu memberikan sedikit kabar baik bagi perekonomian Amerika Serikat. PPI naik tajam dari 6,2% (yoy) ke 7,2% (yoy) di bulan Mei, mengelahakan ekspektasi yang hanya sebesar 6,8%. Core PPI tak beranjak dari level 3,0% (yoy). TIC capital inflow tercatat meningkat tajam hingga 115.1 trilyun di bulan Apr.
Namun sejumlah kabar buruk masih mengisahkan cerita sedih bagi perekonomian AS. Housing starts semakin jatuh ke 0.975 M, terendah dalam 17 tahun. Building permits juga jatuh ke level 0.969M. NY State Manufacturing dilaporkan jatuh tajam dari -3 ke -8,68 di bulan Juni, padahal sebelumnya diperkirakan tidak akan lebih lemah daripada -3,0. Index manufaktur tersebut telah menjadi negatif sejak empat bulan terakhir. Philly Fed Index juga meleset dari perkiraan dan melemah lebih jauh hingga ke level -17,1di bulan Juni. Industrial production juga mengalami hal yang sama, jatuh -0,2% (mom) di bulan Mei, dan capacity utilization turun dari 79,7% ke 79,4%. Defisit current account melebar -176,4 trilyun di kuartal pertama. Jobless claims dilaporkan menjadi 381k, sedikit lebih buruk daripada ekspektasi sebelumnya sebesar 375k.
Minggu lalu merupakan minggu yang penting bagi pound. CPI terlihat meningkat lebih cepat ke level 3,3% (yoy) di bulan Mei, sementara RPI menanjak ke level 4,3% (yoy). Inflasi yang melebihi 3,0% membuat Gubernur BoE, Mervyn King, harus menulis surat terbuka kepada Menteri Keuangan Alistair Darling. Dalam surat itu King menjelaskan bahwa harga minyak dan makanan (yang porsinya mencapai 1,1% dari 1.2% kenaikan CPI sejak Desember) adalah faktor utama yang menyebabkan bergeloranya inflasi. King juga memperkirakan bahwa ia kelihatannya masih akan menulis serangkaian surat terbuka hingga tahun depan, yang artinya diperkirakan bahwa inflasi masih tetap akan meningkat. Namun, secara keseluruhan komentar King terkesan kurang hawkish daripada yang diperkirakan. King melihat bahwa jalur yang ditempuh bank sentral untuk membawa kembali inflasi ke target 2% “masih belum pasti” meskipun CPI kemungkinan menyentuh 4% tahun ini, walaupun dalam salah satu komentarnya ia mengatakan “will do whatever it takes to bring back inflation to 2% target”. Hal ini agak mengecewakan pasar yang mengharapkan King paling tidak memilliki suatu skenario yang lebih terencana dalam menghadapi inflasi.
Rilis BoE minutes menunjukkan hasil voting 8-1 utuk menahan suku bunga di level 5% pada pertemuan bulan Juni. Seperti biasa, Blanchflower merupakan satu-satunya anggota MPC yang menginginkan pemotongan 25 basis poin. Mayoritas anggota MPC berpendapat bahwa prospek inflasi jangka pendek teleh memburuk dan resiko inflasi jangka menengah telah naik semakin jauh. MPC berpendapat jika ada indikasi ancaman serius dari inflasi, baru langkah penaikan suku bunga dianggap tepat. Untuk saat ini, MPC belum melohat indikasi itu. Namun lepas dari itu, MPC yakin bahwa pelambatan ekonomi mampu membawa inflasi kembali ke target 2% dalam janga waktu menengah. Dalam rilis ini, dijelaskan secara gamblang bahwa tidak ada rencana untuk pemotongan suku bunga karena adanya resiko inflasi.
BoJ minutes dirilis dengan catatan bahwa seluruh anggota dewan gubernur sangat menyadari akan resiko yang mungkin terjadi terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi, namun demikian kecil kemungkinan mereka akan mengubah kebijakan moneternya dalam waktu dekat.
SNB juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga (left three-month Libor) di level 2.25-3.25%, dengan titik tengahnya 2.75%. Walaupun perekonomian Swiss juga secara perlahan mulai tumbuh, SNB masih memperkirakan bahwa pertumbuhan GDP hanya berkisar antara 1,5% hingga 2% untuk tahun 2008. Inflasi diperkirakan berada di sekitar level 2,7% di tahun 2008. Berdasarkan pertimbangan itu SNB memutuskan untuk membiarkan suku bunga tetap berada di level 2,75%, dan sepertinya kebijakan itu akan dipertahankan untuk beberapa waktu ke depan. Dengan demikian, diharapkan inflasi akan bisa turun hingga ke level 1,7% di tahun 2009. SNB mau tidak mau harus memperhatikan pergerakan harga minyak dunia, fluktuasi harga Swiss franc terhadap mata uang dunia, pertumbuhan ekonomi, dan perkembangan pasar finansial, untuk dijadikan pegangan dalam menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.
Seperti yang telah kita perkirakan sebelumnya, RBA tetap mempertahankan suku bunganya di level 7,25%. Pertumbuhan kredit masih belum pulih, di mana pinjaman telah jatuh ke tingkat terendah dalam 2 tahun. Meskipun pasar tenaga kerja menunjukkan penguatan, namun pihak otoritas masih melihat lemahnya sektor perkreditan baik dari pinjaman rumah tangga maupun bisnis. Perekonomian domestik juga masih melemah, yang tampaknya merupakan dampak dari resiko resesi yang berkepanjangan di AS. Dari minutes yang dirilis, terlihat bahwa RBA merasa “nyaman” dengan kebijakan moneter saat ini dan menurunkan ekspektasi bahwa mereka akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
(Selengkapnya...)