
13.14 WIB
Dollar melemah minggu lalu akibat menurunnya ekspektasi para pelaku pasar akan prospek kenaikan Federal Funds Rate. Ekspektasi tersebut melemah didasari oleh sejumlah data ekonomi yang cukup mengecewakan minggu lalu. Di saat yang sama, para pelaku pasar kembali menaruh perhatian pada krisis kredit yang berlangsung. FOMC meeting akan menjadi primadona minggu ini disertai sejumlah data ekonomi penting dari Amerika, Eurozone, dan Inggris.
Data yang dirilis minggu lalu memberikan sedikit kabar baik bagi perekonomian Amerika Serikat. PPI naik tajam dari 6,2% (yoy) ke 7,2% (yoy) di bulan Mei, mengelahakan ekspektasi yang hanya sebesar 6,8%. Core PPI tak beranjak dari level 3,0% (yoy). TIC capital inflow tercatat meningkat tajam hingga 115.1 trilyun di bulan Apr.
Namun sejumlah kabar buruk masih mengisahkan cerita sedih bagi perekonomian AS. Housing starts semakin jatuh ke 0.975 M, terendah dalam 17 tahun. Building permits juga jatuh ke level 0.969M. NY State Manufacturing dilaporkan jatuh tajam dari -3 ke -8,68 di bulan Juni, padahal sebelumnya diperkirakan tidak akan lebih lemah daripada -3,0. Index manufaktur tersebut telah menjadi negatif sejak empat bulan terakhir. Philly Fed Index juga meleset dari perkiraan dan melemah lebih jauh hingga ke level -17,1di bulan Juni. Industrial production juga mengalami hal yang sama, jatuh -0,2% (mom) di bulan Mei, dan capacity utilization turun dari 79,7% ke 79,4%. Defisit current account melebar -176,4 trilyun di kuartal pertama. Jobless claims dilaporkan menjadi 381k, sedikit lebih buruk daripada ekspektasi sebelumnya sebesar 375k.
Minggu lalu merupakan minggu yang penting bagi pound. CPI terlihat meningkat lebih cepat ke level 3,3% (yoy) di bulan Mei, sementara RPI menanjak ke level 4,3% (yoy). Inflasi yang melebihi 3,0% membuat Gubernur BoE, Mervyn King, harus menulis surat terbuka kepada Menteri Keuangan Alistair Darling. Dalam surat itu King menjelaskan bahwa harga minyak dan makanan (yang porsinya mencapai 1,1% dari 1.2% kenaikan CPI sejak Desember) adalah faktor utama yang menyebabkan bergeloranya inflasi. King juga memperkirakan bahwa ia kelihatannya masih akan menulis serangkaian surat terbuka hingga tahun depan, yang artinya diperkirakan bahwa inflasi masih tetap akan meningkat. Namun, secara keseluruhan komentar King terkesan kurang hawkish daripada yang diperkirakan. King melihat bahwa jalur yang ditempuh bank sentral untuk membawa kembali inflasi ke target 2% “masih belum pasti” meskipun CPI kemungkinan menyentuh 4% tahun ini, walaupun dalam salah satu komentarnya ia mengatakan “will do whatever it takes to bring back inflation to 2% target”. Hal ini agak mengecewakan pasar yang mengharapkan King paling tidak memilliki suatu skenario yang lebih terencana dalam menghadapi inflasi.
Rilis BoE minutes menunjukkan hasil voting 8-1 utuk menahan suku bunga di level 5% pada pertemuan bulan Juni. Seperti biasa, Blanchflower merupakan satu-satunya anggota MPC yang menginginkan pemotongan 25 basis poin. Mayoritas anggota MPC berpendapat bahwa prospek inflasi jangka pendek teleh memburuk dan resiko inflasi jangka menengah telah naik semakin jauh. MPC berpendapat jika ada indikasi ancaman serius dari inflasi, baru langkah penaikan suku bunga dianggap tepat. Untuk saat ini, MPC belum melohat indikasi itu. Namun lepas dari itu, MPC yakin bahwa pelambatan ekonomi mampu membawa inflasi kembali ke target 2% dalam janga waktu menengah. Dalam rilis ini, dijelaskan secara gamblang bahwa tidak ada rencana untuk pemotongan suku bunga karena adanya resiko inflasi.
BoJ minutes dirilis dengan catatan bahwa seluruh anggota dewan gubernur sangat menyadari akan resiko yang mungkin terjadi terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi, namun demikian kecil kemungkinan mereka akan mengubah kebijakan moneternya dalam waktu dekat.
SNB juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga (left three-month Libor) di level 2.25-3.25%, dengan titik tengahnya 2.75%. Walaupun perekonomian Swiss juga secara perlahan mulai tumbuh, SNB masih memperkirakan bahwa pertumbuhan GDP hanya berkisar antara 1,5% hingga 2% untuk tahun 2008. Inflasi diperkirakan berada di sekitar level 2,7% di tahun 2008. Berdasarkan pertimbangan itu SNB memutuskan untuk membiarkan suku bunga tetap berada di level 2,75%, dan sepertinya kebijakan itu akan dipertahankan untuk beberapa waktu ke depan. Dengan demikian, diharapkan inflasi akan bisa turun hingga ke level 1,7% di tahun 2009. SNB mau tidak mau harus memperhatikan pergerakan harga minyak dunia, fluktuasi harga Swiss franc terhadap mata uang dunia, pertumbuhan ekonomi, dan perkembangan pasar finansial, untuk dijadikan pegangan dalam menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.
Seperti yang telah kita perkirakan sebelumnya, RBA tetap mempertahankan suku bunganya di level 7,25%. Pertumbuhan kredit masih belum pulih, di mana pinjaman telah jatuh ke tingkat terendah dalam 2 tahun. Meskipun pasar tenaga kerja menunjukkan penguatan, namun pihak otoritas masih melihat lemahnya sektor perkreditan baik dari pinjaman rumah tangga maupun bisnis. Perekonomian domestik juga masih melemah, yang tampaknya merupakan dampak dari resiko resesi yang berkepanjangan di AS. Dari minutes yang dirilis, terlihat bahwa RBA merasa “nyaman” dengan kebijakan moneter saat ini dan menurunkan ekspektasi bahwa mereka akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.