
19.28 WIB
Sepanjang tahun 2008 ini, untuk ketiga kalinya International Monetary Fund (IMF) kembali menurunkan estimasinya terhadap pertumbuhan ekonomi dunia. Tindakan IMF ini dilatarbelakangi oleh kondisi keterpurukan dan fluktuasi pasar finansial Amerika Serikat yang mengindikasikan AS mengalami krisis yang paling buruk sejak Great Depression pada tahun 1930.
Perekonomian dunia diperkirakan hanya akan bertumbuh 3.7% pada tahun 2008 ini, yang merupakan pertumbuhan terendah sejak 2002. Penurunan prediksi ini dilakukan setelah sebelumnya pada bulan Januari IMF masih memperkirakan bahwa perekonomian dunia masih mampu bertahan dengan kemungkinan akan mengalami pertumbuhan 4.1%. Sedangkan prediksi pertama IMF untuk ekonomi dunia adalah 5.2%, ketika krisis subprime mortgage mulai muncul pada Agustus 2007. Kondisi Pasar finansial AS tersebut dengan cepat mempengaruhi perekonomian dunia.
Sejak awal tahun 2008, pasar Asia dan Eropa mengalami kerapuhan, dan sangat bergantung dengan kondisi Wall Street dan laporan berita data makroekonomi AS. Dampaknya pun mempengaruhi laju inflasi dunia, spekualsi hedging investor kepada komoditi, seperti minyak, emas, bahkan ke bahan pangan, telah mendorong sebagian besar tingkat inflasi Asia dan Eropa melaju cepat. Berdasarkan dokumen kajian IMF, IMF Background Paper on the Update of the Global and Regional Outlook, direkomendasikan untuk sentral bank melakukan kebijakan yang cukup fleksibel untuk menstimulus perekonomian. Untuk itu, IMF menghimbau Eropa untuk memberikan ruang gerak bagi perekonomian untuk bertumbuh mengingat suku bunga-nya masih memiliki gap yang besar terhadap The Fed. Laporan Kajian IMF tersebut juga menyatakan bahwa saat ini dunia memiliki probabilitas 25% untuk terjebak dalam kondisi resesi, dengan indikasi bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi global hanya mencapai 3% atau bahkan kurang, pada tahun 2008 dan sepanjang 2009.
Pertumbuhan Perekonomian AS dan Eropa
IMF memprediksi bahwa Amerika Serikat hanya akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar 0.5%, berdasarkan dokumen kajian tersebut. Angka ini berada dibawah estimasi IMF pada bulan Januari, yang diperkirakan mencapai 1.5%. Sedangkan untuk tahun 2009, AS diperkirakan mencapai angka pertumbuhan 0.6%. Perlambatan perekonomian di Amerika Serikat dimulai dari kuartal keempat tahun 2007,yang ditunjukan laporan indikator perekonomian yang baru-baru ini dikeluarkan. Data makroekonomi menunjukkan adanya penurunan pada sector manufaktur dan property. Selain itu diperburuk dengan kondisi penurunan lapangan pekerjaan dan pengeluaran konsumsi masyarakat.
Untuk wilayah Eropa, IMF memperkirakan bahwa perekonomian akan meningkat 1.3% pada 2008, turun dari posisi 1.6%, yang merupakan proyeksi IMF pada Januari lalu. Perekonomian berjalan lamban di Eropa sebagai efek domino akibat fluktuasi pasar financial AS. Walaupun data perekonomian Eropa, masih menunjukkan perekonomian berjalan pada koridornya. Dan berdasarkan kondisi ini, IMF meyakinkan sentral bank Eropa atau ECB untuk memberikan ruang gerak perekonomian dengan tingkat bunga yang lebih fleksibel. ECB sampai sat ini tetap mempertahankan suku bunganya pada posisi 4%, dengan kondisi inflasi regionalnya 3.5%.
Prediksi IMF Terhadap Asia
Perekonomian Jepang diprediksi oleh IMF akan mengalami pertumbuhan 1.4% pada untuk akhir 2008, dan sebelumnya pada bulan Januari diprediksi mengalami pertumbuhan 1.5%. China dipredikasi akan bertumbuh 9.3%, lebih lambat dari perkiraan sebelumnya 10%.
Selain IMF, Asian Development Bank (ADB) melakukan penurunan prediksi pertumbuhan ekonomi di Asia. ADB menyatakan bahwa pertumbuhan Asia selain Jepang akan berjalan 7.6%, direvisi dari perkiraan sebelumnya pada September 2007, yaitu sebesar 8.2%. Interaksi risiko perekonomian yang terjalin adalah adanya kondisi struktur pasar finansial yang saling terhubung antara institusi keuangan yang berpusat di Amerika Serikat, terhadap Eropa dan Asia, sehingga, kerugian pasar kredit di pasar finansial di suatu negara yang perekonomian besar menyebabkan kerugiaan berlipat ganda di negara berkembang, yang akan dialami negara. Kondisi ini akan semakin memperburuk gap kondisi perekonomian antara negara maju dan negara berkembang.